Email dari Singapura tidak memberi jawaban berbeda. Renata membukanya pukul enam lewat tiga belas, ketika langit di luar rumah masih berwarna abu-abu muda dan suara tukang sayur belum benar-benar terdengar dari gang. Ia duduk sendirian di meja makan, laptop terbuka, rambut diikat asal, wajah belum dicuci, dan dada sudah lebih dulu lelah bahkan sebelum hari dimulai.
Di layar, tim dokter dari rumah sakit di Singapura menulis dengan bahasa yang sangat sopan. Mereka telah meninjau ringkasan medis. Mereka juga memahami kekhawatiran keluarga. Namun mereka menyarankan pendekatan yang selaras dengan dokter sebelumnya. Fokus utama saat ini adalah kenyamanan, dukungan nutrisi, pengendalian gejala, dan kualitas waktu bersama keluarga. Perawatan agresif tidak disarankan bila mempertimbangkan kondisi umum pasien.
Renata membaca sampai akhir. Lalu kembali ke awal. Membaca lagi. Tidak ada kalimat yang salah. Tidak ada dokter yang kejam. Tidak ada keputusan yang bisa ia bantah dengan mudah. Justru karena semuanya terdengar masuk akal, Renata merasa tubuhnya tidak punya tempat untuk menaruh marah. Ia menutup laptop pelan.
Di dapur, Bapak sedang menyiapkan air hangat. Ia tidak bertanya. Mungkin karena sudah melihat wajah Renata. Mungkin karena sejak semalam ia juga menunggu jawaban yang sama, meskipun tidak mengatakannya.
“Jawabannya sama, Pak,” kata Renata.
Tangan Bapak berhenti di dekat termos.
Beberapa detik.
Lalu ia melanjutkan menuang air.
“Iya.”
Hanya itu.
Renata ingin bertanya apakah Bapak kecewa. Apakah Bapak lega karena tidak perlu memutuskan apa pun yang lebih berat. Apakah Bapak marah. Apakah Bapak sejak awal sudah menduga dan hanya membiarkannya mencari agar ia tidak menyesal. Namun ia terlalu lelah.
Bapak membawa gelas air hangat ke meja makan, meletakkannya di depan Renata.
“Minum dulu.”
Renata menatap gelas itu.
“Pak.”
“Hm?”
“Aku sudah cari.”
“Iya.”
“Aku belum menemukan jalan lain.”
“Iya.”
“Aku gagal?”
Bapak menatapnya.
Pertanyaan itu keluar kecil sekali, hampir tidak terdengar. Bukan pertanyaan seorang brand strategist. Bukan pertanyaan anak sulung yang selalu bisa menyusun rencana. Bukan pertanyaan perempuan tiga puluh tahun yang hidupnya tampak terkendali dari luar. Pertanyaan itu milik anak perempuan yang ingin menyelamatkan ibunya dan tidak tahu cara menerima bahwa cinta tidak selalu punya bentuk tindakan yang berhasil.
Bapak duduk di kursi seberangnya.
“Renata Prawula,” katanya pelan.
Renata memejamkan mata. Air mata jatuh tanpa suara.
“Tidak semua yang tidak bisa diselamatkan berarti gagal.”
Renata menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bapak tidak menyentuhnya. Bapak memang jarang tahu kapan harus menyentuh. Namun kali ini ia tetap duduk di sana. Tidak pergi ke dapur. Tidak membuka agenda. Tidak mengalihkan perhatian pada sesuatu yang bisa diperbaiki. Ia hanya duduk.
Bagi Renata, pagi itu, keberadaan Bapak yang tidak ke mana-mana sudah terasa seperti pelukan dalam bahasa yang sangat sulit.
Dari kamar, suara Ibu terdengar. Batuk. Lebih panjang dari biasanya. Bapak langsung berdiri. Renata menghapus wajahnya cepat dan menyusul. Di kamar, Ibu duduk setengah terangkat, satu tangan memegang dada, wajahnya sangat pucat. Raina sudah berada di sampingnya. Entah sejak kapan adiknya bangun. Rambutnya berantakan, matanya panik, tetapi tangannya bergerak sigap memegang gelas kecil.
“Bu, tarik nafas,” kata Raina.
Bapak masuk dan mengambil posisi di sisi tempat tidur. “Sesak?”
Ibu menggeleng, tetapi napasnya tidak meyakinkan.
“Bu,” kata Renata. “Kita ke rumah sakit?”
Ibu menutup mata.
Bapak menatapnya. “Bu?”
“Sebentar,” bisik Ibu.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Renata lebih tegas.
Raina menatap Bapak. “Pak?”
Bapak memegang pergelangan tangan Ibu, bukan seperti orang romantis, melainkan seperti seseorang yang ingin memastikan denyut dan keberadaan pada saat bersamaan.
“Ibu mau ke rumah sakit?” tanyanya.
Renata hampir memprotes. Menurutnya, itu bukan pertanyaan. Itu keputusan. Itu hal yang harus dilakukan ketika seseorang tampak sesak, pucat, dan terlalu lemah untuk duduk sendiri. Namun Ibu membuka mata.
“Tidak sekarang,” katanya.
“Bu,” suara Renata pecah.
“Tidak sekarang,” ulang Ibu. “Tunggu dulu.”
Bapak menatap Ibu lama.
Lalu ia mengangguk.
Renata berdiri kaku. “Pak.”
“Renata Prawula.”
“Pak, jangan.”
Bapak menoleh padanya. Wajahnya pucat, tetapi suaranya rendah. “Kita dengar Ibu dulu.”
Renata ingin marah. Kepada Bapak, kepada Ibu, kepada dokter, kepada pagi, kepada semua orang yang berbicara seolah waktu masih bisa diajak berdiskusi.
Raina menyentuh lengan kakaknya.
“Kak,” bisiknya.
Renata menarik napas, tetapi napas itu bergetar.
Ibu bersandar kembali ke bantal. Bapak menaikkan sandaran sedikit. Raina membuka jendela kamar agar udara pagi masuk. Renata mengambil obat sesuai arahan Bapak, lalu menyerahkannya tanpa bicara.
Beberapa menit kemudian, napas Ibu sedikit lebih teratur. Sedikit. Kata itu menjadi ukuran baru bagi rumah.
Sedikit makan.
Sedikit tidur.
Sedikit tenang.
Sedikit lebih baik.
Tidak ada yang berani meminta banyak.
Pukul tujuh lewat, Bapak mengirim pesan ke grup keluarga.
Bapak: Ibu pagi ini batuk dan agak sesak. Sudah minum obat. Belum ke RS karena Ibu minta tunggu.
Rendra membalas hampir sepuluh menit kemudian.
Rendra: Aku telepon.
Ponsel Bapak berdering.
Bapak mengangkat di ruang tengah, tetapi suaranya terdengar sampai kamar.
“Halo, Pak.”
Jeda.
“Sekarang Ibu sedikit lebih tenang.”
Jeda panjang.
“Ibu yang minta.”
Jeda lagi.
“Rendra Prawula.”
Renata dan Raina saling menatap.
Dari ruang tengah, suara Bapak terdengar lebih pelan.
“Jangan marah dari jauh. Kamu tidak bisa apa-apa dari sana.”
Tidak ada jawaban yang terdengar dari Rendra, tetapi keheningan setelahnya cukup panjang untuk dibayangkan.
Akhirnya Bapak berkata, “Nanti video call lagi kalau Ibu kuat.”
Telepon berakhir. Ketika Bapak kembali ke kamar, wajahnya tidak berubah, tetapi matanya merah sedikit. Tidak ada yang mengatakannya.
Sekitar pukul delapan, Ibu meminta duduk di ruang tengah.
Semua orang menolak dalam tiga bentuk yang berbeda.
Renata berkata, “Bu, istirahat dulu.”
Raina berkata, “Nanti kalau sudah lebih enakan.”
Bapak berkata, “Tidak.”
Ibu menatap Bapak lebih dulu.
“Pak.”
Satu kata itu.
Tidak keras. Tidak memohon. Tidak marah.
Tetapi Bapak langsung terlihat kalah sebelum benar-benar membantah.
“Ibu di kursi roda,” katanya.
“Kursi rotan.”
“Kursi roda dulu sampai ruang tengah.”
“Setelah itu kursi rotan.”
Bapak menatapnya.
Ibu menatap balik.
“Sepuluh menit,” kata Bapak.
“Dua puluh.”
“Lima belas.”
Ibu tersenyum sangat tipis. “Baik.”
Renata tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa mendengar orang tuanya menawar waktu duduk seperti menawar harga buah.
Akhirnya mereka memindahkan Ibu ke ruang tengah. Perjalanan dari kamar ke kursi rotan hanya beberapa meter, tetapi terasa panjang. Bapak memegang satu sisi. Raina di sisi lain. Renata menyiapkan kursi dan bantal. Setiap langkah Ibu membuat mereka semua menahan napas. Ketika akhirnya Ibu duduk di kursi rotan, wajahnya sangat lelah. Namun matanya bergerak ke seluruh ruangan dengan puas.
Ke meja kecil.
Ke foto-foto yang belum dicetak tetapi sudah dipilih.
Ke dapur.
Ke jendela.
Ke halaman yang terlihat dari balik tirai.
Ke tiga pasang sandal di dekat pintu.
Ke jadwal di kulkas.
Ke sepeda hitam di teras.
“Rumah berantakan,” katanya pelan.
Raina tertawa kecil sambil menghapus matanya. “Ibu masih sempat komentar.”
“Kalau Ibu tidak komentar, nanti kalian pikir Ibu sudah bukan Ibu.”
Renata duduk di sofa, wajahnya hancur tanpa ia pedulikan lagi.
Bapak berdiri di dekat kursi rotan, memegang selimut tipis.
“Bu, cukup. Kembali ke kamar.”
“Baru juga duduk.”
“Sudah lima menit.”
“Bapak hitung?”
“Ya.”
Ibu menutup mata, seperti menahan tawa yang bisa berubah menjadi batuk. “Tentu saja.”