Rumah sakit tidak memakai kata jasad. Tidak sekali pun. Perawat yang keluar dari ruang perawatan berkata, “Almarhumah akan kami siapkan dulu, ya.” Petugas administrasi berkata, “Untuk kepulangan Ibu Lestari, keluarga bisa mengurus berkas di bagian depan.” Dokter berkata, “Almarhumah Ibu Lestari sudah tenang.”
Semua orang berbicara dengan suara rendah, dengan wajah terlatih, dengan pilihan kata yang sudah dipoles agar tidak melukai lebih dalam daripada yang harus. Almarhumah. Ibu Lestari. Almarhumah Ibu Lestari.
Raina mendengarnya satu per satu. Ia tahu orang-orang itu tidak bermaksud buruk. Mungkin mereka sudah melihat terlalu banyak keluarga runtuh di lorong rumah sakit. Mungkin mereka tahu kata tertentu bisa membuat seseorang jatuh sebelum sempat duduk. Mungkin bahasa memang perlu dibuat lebih lembut ketika kenyataan sudah terlalu keras. Namun di dalam kepala Raina, semua pemanis itu luruh. Yang ada di sana adalah jasad Ibu.
Tubuh yang tadi masih dipanggil-panggil. Tubuh yang tadi masih menggenggam tangan Bapak. Tubuh yang tadi masih mendengar suara Rendra dari ponsel. Tubuh yang dulu menggendongnya saat kecil, memandikannya ketika demam, mengupaskan kulit timun, menyuapinya bubur ketika sakit gigi, dan mengusap punggungnya semalam saat ia menangis.
Sekarang tubuh itu menjadi sesuatu yang harus diurus.
Dibersihkan.
Dirias.
Dibawa pulang.
Dimasukkan ke peti.
Didoakan.
Diantar.
Raina duduk di kursi tunggu dengan tas dokumen di pangkuan. Air matanya mengalir terus, tetapi ia tidak terisak. Ia tidak tahu apakah itu berarti ia lebih kuat atau justru terlalu kosong untuk menangis dengan benar. Pipinya basah, lehernya basah, tangan yang memegang tas ikut basah karena sesekali ia mengusap wajah tanpa sadar.
Di sebelahnya, Renata menangis seperti orang yang tidak mengenal dirinya sendiri. Kakaknya duduk membungkuk, kedua tangan menutup wajah, bahunya naik turun. Suara tangisnya tertahan, tetapi tidak bisa disembunyikan. Renata yang selalu rapi, selalu mengerti apa yang harus dilakukan, selalu menyiapkan pertanyaan, dokumen, jawaban, dan rencana cadangan, kini pecah di kursi tunggu rumah sakit dengan rambut berantakan dan lip balm yang hilang entah sejak kapan.
Raina ingin memeluknya. Namun tubuhnya sendiri terasa tidak punya tenaga. Ia hanya menggeser sedikit, sampai lutut mereka bersentuhan. Renata tidak menoleh, tetapi satu tangannya turun dan mencari tangan Raina. Raina menggenggamnya.
Bapak berdiri tidak jauh dari mereka, berbicara dengan seorang petugas. Wajah Bapak tampak seperti wajah Bapak yang biasa. Datar. Terkendali. Hanya sedikit pucat. Hanya matanya yang merah dan cara ia memegang map rumah sakit terlalu erat yang membuat Raina tahu bahwa di dalam tubuh laki-laki itu, sesuatu sedang runtuh tanpa suara.
“Untuk pemulasaraan, keluarga ingin dari rumah sakit langsung ke rumah duka atau ke rumah?” tanya petugas itu.
Kata rumah duka membuat Renata mengangkat wajah.
Raina juga.
Rumah duka terdengar masuk akal. Praktis. Teratur. Ada ruangan, petugas, kursi, tempat keluarga menerima tamu, tata cara yang sudah biasa. Rumah duka adalah tempat yang tahu apa yang harus dilakukan ketika keluarga tidak tahu.
Renata menghapus wajahnya dengan tisu, lalu berdiri pelan. “Rumah duka mungkin lebih mudah, Pak.”
Bapak menoleh.
“Maksudku,” suara Renata masih bergetar, “kalau di rumah, nanti repot. Banyak orang datang. Kita harus siapin tempat. Ibu juga...”
Ia tidak menyelesaikan kalimat.
Ibu juga apa?
Ibu juga sudah tidak bisa memilih kursi rotan.
Ibu juga sudah tidak bisa bilang ingin di rumah.
Ibu juga sudah tidak bisa menegur kalau ruang tengah terlalu berantakan.
Raina berdiri juga, meski lututnya terasa lemah.
“Kak Renata ada benarnya,” katanya pelan. “Kalau rumah duka, semua lebih... siap.”
Kata siap membuatnya ingin muntah.
Tidak ada tempat yang benar-benar siap untuk Ibu.
Bapak memandang kedua anak perempuannya. Di wajahnya tidak ada kemarahan. Tidak ada teguran. Tidak ada nama lengkap yang memotong ketegangan. Hanya lelah yang begitu tua sampai membuatnya tampak lebih kecil.
“Ibu pulang ke rumah,” katanya.
Renata menelan napas. “Pak.”
“Ibu harus diantar dari rumah.”
Kalimat itu tidak keras.
Tetapi percakapan langsung selesai. Tidak ada ruang untuk rapat, pertimbangan efisiensi, atau daftar plus-minus. Bapak tidak sedang mengambil keputusan sebagai orang yang paling praktis. Ia sedang memenuhi sesuatu yang lebih dalam dari logika. Sesuatu yang mungkin sudah ia janjikan pada Ibu tanpa kata-kata ketika mereka membangun hidup di rumah Japos itu.
Renata menatap Bapak.
Air matanya jatuh lagi.
Raina memegang tas dokumen lebih erat.
“Baik,” kata Renata akhirnya.
Bapak mengangguk pada petugas. “Ke rumah.”
Petugas mencatat. “Alamatnya, Pak?”
Bapak menyebutkan alamat rumah Japos dengan suara datar.
Raina mendengar nama jalan itu keluar dari mulut Bapak dan tiba-tiba merasa dunia menjadi terlalu aneh. Alamat yang selama ini dipakai untuk pengiriman paket, tagihan listrik, undangan keluarga, dan titik jemput taksi online, kini menjadi tujuan kepulangan tubuh Ibu. Rumah mereka akan menerima Ibu lagi. Tetapi bukan seperti kemarin.
Beberapa jam setelahnya, semua bergerak dalam urutan yang terasa tidak manusiawi justru karena terlalu teratur. Berkas ditandatangani. Barang-barang Ibu dikumpulkan. Scarf krem dari Renata. Botol minum. Satu kantong obat yang tidak lagi diperlukan dengan cara yang sama. Kartu rumah sakit. Tisu. Sandal lembut yang sempat dipakai ketika berangkat.
Renata mengurus sebagian administrasi karena tubuhnya tampaknya memutuskan untuk kembali berfungsi lewat tugas. Ia menangis saat berjalan, menangis saat menandatangani, menangis saat berbicara dengan petugas, tetapi tetap mengurus semuanya. Raina mengikuti Bapak. Atau lebih tepatnya, Raina memastikan Bapak tidak hilang dari pandangan.
Bapak tidak melakukan hal aneh. Ia tidak berteriak. Tidak jatuh. Tidak memukul dinding. Tidak bertanya mengapa. Ia hanya diam terlalu lama setiap kali seseorang selesai bicara, seolah perlu menerjemahkan semua kalimat ke bahasa yang bisa ia tahan.
“Pak, duduk dulu,” kata Raina.
“Bapak tidak apa-apa.”
Biasanya, Raina akan marah pada kalimat itu.
Hari itu, ia tidak punya tenaga.
“Duduk dulu,” ulangnya.
Bapak menatapnya. Mungkin ia hendak berkata Raina Prawula. Mungkin ia hendak menegur bahwa anaknya tidak perlu mengatur. Namun setelah beberapa detik, Bapak duduk. Raina duduk di sebelahnya. Mereka tidak bicara.
Di ujung lorong, Renata terlihat berbicara dengan petugas, wajahnya basah, tubuhnya tegak dengan sisa-sisa kebiasaan lama. Raina memandang kakaknya dan merasa sedih dengan cara yang berbeda. Ternyata orang yang paling sering dianggap kuat bisa hancur paling berisik ketika tidak lagi sanggup memegang apa pun.
Menjelang tengah malam, mereka pulang lebih dulu untuk menyiapkan rumah. Bapak duduk di kursi depan, diam sepanjang jalan. Renata dan Raina duduk di belakang. Tidak ada yang menyalakan radio. Tidak ada yang menghubungi siapa pun selain pesan singkat kepada keluarga terdekat dan tetangga depan rumah.
Rendra masih di perjalanan. Penerbangannya baru didapat menjelang dini hari. Ia akan tiba pagi-pagi, itu pun jika semua lancar. Pesannya masuk berkali-kali di grup keluarga.
Rendra: Aku sudah dapat tiket.
Rendra: Aku ke bandara sekarang.
Rendra: Aku pulang.
Rendra: Tolong jangan apa-apa dulu sebelum aku sampai.
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa pada pesan terakhir itu. Karena ada hal-hal yang tidak bisa ditunda hanya karena satu anak masih berusaha mengejar jarak.
Akhirnya Bapak membalas:
Pulang hati-hati. Ibu diantar ke rumah.
Beberapa menit kemudian, Rendra menjawab:
Pak, tunggu aku.
Bapak membaca pesan itu lama.
Lalu mengetik:
Kami tunggu di rumah.
Rumah Japos menyala ketika mereka tiba. Tetangga depan sudah membuka pagar. Beberapa orang datang membantu tanpa banyak bertanya. Ada yang menggeser kursi. Ada yang menyapu ruang tengah. Ada yang menawarkan meminjamkan bangku plastik. Ada yang bertanya apakah perlu menghubungi pengurus lingkungan.
Kursi rotan Ibu masih berada di tempatnya.
Bapak berhenti di depan kursi itu.
Untuk sesaat, Raina pikir Bapak akan memindahkannya.
Namun Bapak hanya berkata, “Kursi ini jangan disingkirkan.”