Setelah penguburan, tidak ada yang benar-benar tahu harus pulang sebagai siapa.
Sebagai anak?
Sebagai suami?
Sebagai keluarga yang baru saja kehilangan pusatnya?
Sebagai orang-orang yang masih harus makan, mandi, menerima tamu, menjawab pesan, dan mengingat di mana kunci rumah diletakkan?
Mereka pulang dari makam menjelang sore.
Tanah masih melekat di beberapa ujung sepatu. Bau bunga dan matahari menempel di pakaian. Wajah-wajah lelah duduk di dalam mobil tanpa banyak suara. Renata memegang tisu yang sudah terlalu basah untuk dipakai, tetapi tetap ia genggam. Raina menatap keluar jendela dengan mata kosong. Rendra duduk di samping Bapak, tubuhnya tegak, rahangnya terkunci, tetapi bahunya bergetar kecil setiap beberapa menit.
Bapak duduk paling depan. Diam. Ia tidak menangis di makam dengan suara yang bisa didengar orang. Tidak jatuh. Tidak memukul tanah. Tidak bertanya mengapa. Ia berdiri ketika harus berdiri, duduk ketika diminta duduk, menerima ucapan duka, mengangguk, dan mengucapkan terima kasih dengan suara yang rendah. Dari jauh, ia tampak tenang. Namun anak-anaknya melihat.
Renata melihat jari Bapak gemetar ketika menggenggam payung.
Raina melihat lutut Bapak hampir goyah saat tanah pertama diturunkan.
Rendra melihat napas Bapak patah sebentar ketika seseorang menyebut nama Ibu dalam doa.
Bapak tidak runtuh. Tetapi seluruh tubuhnya seperti sedang menahan runtuh agar tidak menimpa siapa pun.
Ketika mereka sampai di rumah Japos, tamu masih ada. Rumah yang semalam penuh doa kini penuh piring kotor, gelas plastik, sisa bunga, kursi tambahan, dan wajah-wajah yang tidak semuanya Raina kenal. Beberapa orang langsung menyambut mereka di teras. Ada yang memeluk Renata. Ada yang menepuk bahu Rendra. Ada yang berkata pada Bapak agar kuat.
Bapak mengangguk.
“Terima kasih,” katanya.
Kalimat itu ia ulang berkali-kali sampai terdengar bukan lagi seperti kata, melainkan tugas.
Renata kembali menangis begitu melewati pintu. Ia sudah menangis sejak sebelum Ibu dibawa dari rumah. Menangis saat doa. Menangis saat melihat peti ditutup. Menangis sepanjang perjalanan ke makam. Menangis ketika tanah diturunkan. Menangis ketika orang-orang mulai beranjak pergi. Menangis di mobil. Dan sekarang, di ruang tengah yang sudah kehilangan peti, ia menangis lagi karena kursi rotan Ibu masih berada di tempat yang sama.
“Bu,” katanya, hampir tanpa suara.
Tidak ada yang menjawab.
Raina berdiri di belakangnya.
Ia belum menangis besar.
Air matanya memang terus jatuh sejak rumah sakit, sejak Ibu dibawa pulang, sejak Rendra tiba, sejak penguburan. Tetapi tangis itu seperti hujan yang tidak bersuara. Mengalir terus, membuat matanya panas, membuat pipinya lengket, tetapi tidak membuat tubuhnya benar-benar pecah.
Ia masih mengambil air untuk tamu.
Masih menerima piring dari tetangga.
Masih menjawab ketika seseorang bertanya di mana gelas tambahan.
Masih menunjuk letak kamar mandi.
Masih berkata, “Iya, Tante,” dan “Terima kasih,” dan “Di dapur, Bu,” seolah kata-kata itu milik orang lain yang sementara meminjam tubuhnya.
Rendra masuk terakhir. Ia melepas sepatu di teras, lalu berhenti lama sebelum masuk. Sepatu berat itu berdiri di dekat sandal-sandal lain, masih membawa tanah makam di bagian bawahnya. Ia menatapnya, lalu menunduk. Tidak ada suara keluar dari mulutnya. Namun ketika ia akhirnya duduk di lantai dekat kaki sofa, tubuhnya mulai berguncang. Sesenggukan tanpa suara.
Kedua tangannya menutup wajah, tetapi tidak ada tangis yang terdengar. Hanya bahu yang naik turun, napas yang tertahan, dan tubuh besar seorang laki-laki yang sejak kecil diajari untuk berdiri, kini duduk di lantai rumah dan tidak lagi sanggup berpura-pura tidak jatuh.
Renata melihatnya dan menangis lebih keras.
Raina tetap berdiri di dekat meja, memegang nampan kosong.
Bapak berjalan ke dapur.
“Pak,” panggil Raina.
Bapak berhenti.
“Mau apa?”
“Air.”
“Aku ambilkan.”
“Bapak bisa.”
Raina ingin mengatakan bahwa bukan soal bisa. Bahwa tidak semua hal harus Bapak lakukan sendiri. Bahwa setelah menguburkan Ibu, Bapak boleh duduk. Boleh diam. Boleh tidak mengambil air. Namun ia tidak mengatakannya. Ia hanya mengikuti Bapak ke dapur.
Dapur tampak seperti rumah orang lain. Banyak tangan telah menyentuhnya. Gelas berpindah tempat. Lap biru dan lap polos tercampur. Sendok-sendok basah diletakkan di wadah yang salah. Panci besar berisi makanan dari tetangga diletakkan di atas kompor.
Raina berdiri di ambang pintu dan tiba-tiba ingin Ibu marah.
Bukan marah sungguhan. Hanya komentar kecil.
“Lapnya kebalik.”
“Sendok jangan di situ.”
“Panci itu tutupnya mana?”
“Kalau ambil gula, tutup lagi.”
Tetapi dapur diam.
Bapak mengambil gelas dari rak. Tangannya gemetar saat menuang air. Sedikit tumpah ke meja.
Raina melihat.
Bapak juga melihat.
Ia mengambil lap biru untuk mengelap air.
Raina hampir berkata, itu lap piring.
Lalu ia sadar Ibu tidak ada untuk memastikan.
Dadanya seperti ditarik dari dalam.
“Pak,” katanya.
Bapak tidak menoleh. “Hm?”
“Lap biru untuk piring. Yang polos untuk meja.”
Tangan Bapak berhenti.
Beberapa detik.
Lalu ia mengangguk.
“Iya.”
Satu kata itu membuat Raina hampir menangis di dapur, tetapi seorang tante masuk membawa piring kotor dan bertanya, “Ini ditaruh mana, Nak?”
Raina menelan tangisnya.
“Di sini saja, Tante.”
Duka mereka hari itu tidak datang sebagai satu gelombang besar.
Ia datang terpotong-potong.
Renata menangis ketika seseorang membawa makanan kesukaan Ibu.
Rendra menangis tanpa suara saat melihat ponselnya dan menemukan panggilan terakhir dari Ibu.
Raina menangis sedikit ketika mencuci gelas, lalu berhenti karena ada tamu meminta air hangat.
Bapak diam saat seorang kerabat berkata, “Yang sabar, Pak. Sekarang Bapak harus kuat untuk anak-anak.”
Anak-anaknya mendengar kalimat itu.
Dan untuk pertama kalinya, ketiganya sama-sama merasa marah pada kata kuat.
Namun tidak ada yang menjawab.
Menjelang malam, tamu mulai berkurang. Kursi-kursi plastik masih tersusun di teras. Beberapa piring sudah dicuci. Ada makanan di meja yang cukup untuk beberapa hari. Rumah beraroma kopi, bunga, dan kelelahan. Di ruang tengah, foto Ibu yang dipilih cepat oleh Renata sudah diletakkan di meja kecil. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, ketika Ibu masih lebih berisi, tersenyum di depan kue buatannya sendiri.
Semua orang berkata foto itu bagus.
Raina tidak bisa melihatnya terlalu lama.
Ketika tamu terakhir akhirnya pulang, rumah menutup pintu dengan suara yang terdengar terlalu keras.
Dan saat itulah Raina menangis.
Bukan di rumah sakit.
Bukan saat peti datang.
Bukan saat makam ditutup.
Bukan saat orang-orang memeluknya.
Ia menangis setelah rumah benar-benar hanya berisi mereka.
Setelah tidak ada lagi yang meminta air.
Setelah tidak ada lagi yang bertanya letak piring.
Setelah tidak ada lagi yang perlu disambut.
Setelah ia tidak punya tugas yang bisa dipakai untuk berdiri.
Raina masih berada di dekat pintu ketika suara tangisnya pecah.
Ia menutup mulut dengan kedua tangan, tetapi tubuhnya sudah menyerah. Lututnya melemah. Rendra yang duduk di sofa langsung berdiri, tetapi Renata lebih dulu menangkapnya. Mereka berdua turun ke lantai bersama.
“Aku nggak tahu harus ngapain,” kata Raina, terisak untuk pertama kalinya. “Aku nggak tahu harus ngapain kalau Ibu nggak ada.”
Renata memeluknya erat sambil tetap menangis.
“Aku juga nggak tahu.”
Rendra berdiri beberapa langkah dari mereka, wajahnya basah, tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia ingin mendekat, tetapi untuk sesaat tampak tidak tahu bagaimana. Lalu Bapak, yang sejak tadi berdiri di dekat kursi rotan, berkata pelan, “Rendra Prawula.”
Rendra menoleh. Bapak tidak memberi instruksi panjang. Ia hanya memandang Renata dan Raina di lantai. Rendra mengerti.
Ia mendekat, lalu duduk di sisi mereka. Tidak memeluk langsung. Hanya meletakkan tangannya di punggung Raina, kaku dan hati-hati. Renata menangis semakin keras. Raina menunduk ke lututnya sendiri. Rendra menahan napas, tetapi air matanya jatuh lagi tanpa suara.
Bapak berdiri memandangi ketiganya. Tiga anak Prawula. Dulu, jika mereka menangis bersamaan, Ibu yang akan tahu siapa perlu dipeluk dulu, siapa perlu diberi air, siapa hanya perlu dibiarkan sampai bisa bicara.Kini Bapak harus berdiri di tempat itu.
Ia tidak tahu caranya. Maka ia melakukan satu hal yang ia bisa. Ia pergi ke dapur, mengambil tiga gelas air, lalu kembali ke ruang tengah. Tangannya masih gemetar, tetapi gelas-gelas itu sampai tanpa tumpah.