Tulisan Bapak tidak mirip cinta. Setidaknya, tidak seperti yang Renata bayangkan. Tidak ada kalimat panjang tentang betapa ia mencintai anak-anaknya. Tidak ada pengakuan yang basah. Tidak ada metafora. Tidak ada kata-kata yang membuat seseorang langsung mengerti bahwa tulisan itu dibuat oleh seorang ayah yang selama ini menyimpan terlalu banyak hal di balik wajah datar. Yang ada adalah tanggal, jam, berat badan, suhu tubuh, nama dokter, nama sekolah, keterangan singkat, dan observasi kaku. Catatan-catatan itu seperti laporan yang lupa bahwa isinya adalah manusia.
Renata membuka buku bertuliskan namanya dengan tangan gemetar. Ia hanya berniat melihat sedikit. Satu halaman saja, mungkin dua, untuk memahami apa sebenarnya benda yang baru mereka temukan di kamar Ibu dua hari setelah penguburan.
Halaman pertama ditulis dengan pulpen hitam. Kertasnya tidak sama dengan halaman berikutnya. Ada yang bergaris, ada yang polos, ada yang seperti robekan buku agenda lama. Semua dijilid rapi menjadi satu buku, seolah Bapak menulis di kertas apa pun yang tersedia, lalu suatu hari memutuskan bahwa lembaran-lembaran itu sudah cukup banyak untuk diberi punggung dan sampul.
Di sudut kiri atas halaman pertama, tertulis:
14 Mei 1996
Di bawahnya:
Renata lahir pukul 03.18. Berat 3,1 kg. Panjang 49 cm. Menangis keras. Ibu tertawa setelah dokter bilang anak perempuan. Ibu bilang hidungnya mirip Bapak. Menurut Bapak belum kelihatan.
Renata membaca kalimat terakhir itu tiga kali. Menurut Bapak belum kelihatan. Dalam keadaan lain, mungkin ia akan tertawa. Sekarang, matanya langsung panas.
Raina duduk di lantai kamar utama, memeluk buku bertuliskan namanya. Rendra duduk di tepi tempat tidur, buku miliknya terbuka di pangkuan tetapi belum benar-benar dibaca. Bapak masih berdiri dekat pintu, seperti orang yang tidak yakin apakah boleh tetap berada di ruangan tempat rahasianya baru saja ditemukan.
Renata menatap halaman berikutnya.
20 Mei 1996
Renata minum susu lebih banyak malam ini. Ibu tidur sebentar setelah subuh. Renata menangis jam 01.10, 02.45, 04.30. Kalau digendong Ibu, berhenti lebih cepat. Kalau digendong Bapak, berhenti setelah agak lama. Perlu latihan.
Renata tertawa kecil.
Tangisnya ikut keluar bersama tawa itu.
“Perlu latihan,” ulangnya pelan.
Raina mengangkat wajah. “Latihan apa?”
Renata menyerahkan bukunya sedikit agar Raina bisa membaca.
Raina membaca, lalu tertawa dengan mata basah. “Bapak bahkan mencatat kemampuan menggendong bayi sebagai sesuatu yang perlu latihan.”
Rendra menunduk ke bukunya sendiri. “Masuk akal. Bapak pasti bikin KPI menggendong.”
“Rendra Prawula,” kata Bapak pelan dari pintu.
Suara itu membuat mereka semua menoleh. Untuk pertama kalinya sejak kotak itu dibuka, Bapak tampak benar-benar malu. Bukan malu kecil. Bukan malu karena diledek. Malu yang lebih dalam, seperti seseorang yang bagian paling tersembunyinya tiba-tiba dibaca keras-keras di hadapan orang-orang yang ia cintai tetapi tidak pernah tahu cara mengatakannya.
Renata menutup bukunya pelan.
“Pak,” katanya.
Bapak menatap kotak kayu di lantai.
“Bapak tidak pernah berniat untuk menyembunyikan... begitulah pokoknya.”
“Begitu apa?” tanya Raina.
Bapak tidak menjawab.
Mungkin ia sendiri tidak tahu.
Renata memandang buku-buku lain di kotak. Setelah mereka keluarkan, jumlahnya ternyata lebih banyak daripada yang tampak pertama kali. Bukan hanya empat buku. Ada beberapa jilid untuk setiap nama. Renata, Rendra, dan Raina masing-masing memiliki jumlah yang sama. Sampulnya berbeda warna, tetapi labelnya seragam.
Renata I
Renata II
Renata III
Begitu juga Rendra.
Begitu juga Raina.
Untuk Ibu, jumlahnya sedikit lebih banyak.
Lestari I
Lestari II
Lestari III
Lestari IV
Dan beberapa jilid tipis lain yang sampulnya tidak diberi angka, hanya diberi label kecil dengan tahun.
Tidak ada satu pun yang bertuliskan Hendra.
Raina menyentuh sampul Lestari I dengan hati-hati.
“Ini semua Bapak yang tulis?” tanyanya.
Bapak mengangguk.
“Sejak kapan?”
Bapak melihat ke arah lemari, seolah jawabannya tersimpan di sana.
“Punya kalian sejak kalian lahir, punya Ibu jauh lebih lama sebelum itu.”
Renata menatapnya.
“Kenapa?”
Bapak diam lama.
Lalu berkata, “Bapak takut lupa.”
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk menjelaskan tumpukan buku yang sekarang berada di lantai kamar. Terlalu sederhana untuk menjelaskan puluhan, mungkin ratusan halaman tentang mereka.
Rendra membuka bukunya lagi. Ia membalik beberapa halaman, berhenti pada satu catatan yang tanggalnya langsung ia kenali samar-samar dari cerita lama: hari ia jatuh dari sepeda. Kertasnya berwarna sedikit kekuningan. Tulisannya tetap rapi, meski ada satu bagian yang seperti ditekan lebih keras.
3 Agustus 2002
Rendra jatuh dari sepeda hitam di depan rumah. Lutut kanan luka. Setang sepeda miring. Ibu panik. Rendra menangis keras, tetapi berhenti setelah masuk kamar mandi. Bapak menyuruh Rendra berdiri dulu karena jatuh di tengah jalan. Seharusnya Bapak tanya sakitnya dulu. Malam: setang sudah dibetulkan. Rendra tidur miring ke kiri.
Rendra tidak bergerak.
Renata melihat wajah adiknya.
Raina perlahan menunduk.
Bapak tetap berdiri di pintu.
Tidak ada yang segera bicara.
Catatan itu tidak meminta maaf. Tidak menjelaskan dengan indah. Tidak menghapus apa pun. Kalimatnya datar. Fakta demi fakta. Lutut kanan. Setang miring. Ibu panik. Rendra menangis. Bapak menyuruh berdiri. Seharusnya Bapak tanya sakitnya dulu.
Justru karena tidak puitis, catatan itu terasa seperti pisau yang tidak berusaha tampak tajam.
Rendra menutup buku itu.
Tangannya bergetar.
“Pak,” katanya, suaranya rendah.
Bapak menatapnya.
“Bapak tahu.”
Bapak tidak bertanya tahu apa.
Rendra mengangkat buku itu sedikit. “Waktu itu. Bapak tahu?”
“Iya.”
“Bapak nulis seharusnya tanya sakitnya dulu.”
“Iya.”
“Tapi besoknya Bapak tetap nyuruh aku naik lagi.”
Bapak menunduk.
“Iya.”
Rendra tertawa sekali, tanpa lucu. “Aku nggak ngerti.”
Renata memegang bukunya lebih erat.
Raina menatap Bapak.
Pertanyaan yang sama bergerak di wajah mereka bertiga, meski tidak langsung keluar. Kalau Bapak memperhatikan sedetail ini, kenapa selama ini ia seperti tidak melihat? Kalau Bapak tahu Renata menangis lebih cepat berhenti dalam gendongan Ibu, kenapa kemudian ia begitu sering membiarkan Renata merasa harus menenangkan dirinya sendiri? Kalau Bapak tahu Rendra sakit saat jatuh, kenapa ia tetap membuat anak laki-lakinya merasa harus berdiri sebelum boleh merasa sakit? Kalau Bapak mencatat semuanya, kenapa mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa Bapak tidak benar-benar memperhatikan?
Bapak duduk perlahan di kursi kecil dekat lemari.
Gerakannya tampak tua.
Sangat tua.
“Bapak tidak punya jawaban yang bagus,” katanya.
Tidak ada yang menyela.
“Bapak melihat,” lanjutnya. “Tapi sering tidak tahu harus berbuat apa setelah melihat.”
Renata menatap halaman bukunya.
Kalimat itu membuatnya ingin marah. Bukan karena tidak percaya. Justru karena ia percaya. Melihat tanpa tahu harus berbuat apa mungkin adalah tragedi yang sangat Bapak. Namun anak-anak yang dilihat tetap tumbuh dengan rasa tidak dilihat.
Raina membuka bukunya sedikit.
Halaman yang terbuka bukan halaman pertama. Mungkin buku itu terjatuh pada bagian tengah ketika ia memeluknya. Di sana ada catatan bertanggal saat ia masih kecil.
17 Januari 2005
Hujan besar sore. Petir 4 kali dekat. Raina menangis di bawah meja makan. Tidak mau keluar meski Ibu panggil. Renata ikut masuk ke bawah meja. Rendra membawa senter. Raina berhenti menangis setelah diberi timun kupas dan duduk di pangkuan Ibu. Catatan: jika hujan besar, tutup gorden ruang tengah lebih awal.
Raina membaca catatan itu dalam diam.
Ia bahkan tidak ingat kejadian itu dengan jelas. Yang ia ingat hanya rasa takut pada hujan saat kecil. Dan Ibu yang selalu menutup gorden ketika langit mulai gelap, seolah rumah perlu diberi kelopak mata agar anak bungsunya tidak melihat petir datang. Ternyata Bapak yang mencatat. Ternyata Bapak tahu.
Ia menyentuh kalimat terakhir dengan ujung jari.
Tutup gorden ruang tengah lebih awal.
Tidak ada kata sayang.
Namun ada gorden.
Raina menangis lagi, kali ini pelan.
“Ini menyebalkan,” katanya.
Renata menoleh. “Apanya?”
“Ini.” Raina mengangkat bukunya. “Semuanya.”
Rendra mengusap wajahnya. “Iya.”
“Aku tersentuh, tapi aku juga marah.”
Renata mengangguk pelan. “Aku juga.”
Bapak tidak bergerak.
Raina memandangnya. “Bukan marah ke Bapak. Maksudku... mungkin marah juga, sedikit. Tapi lebih marah karena aku nggak tahu.”
Renata menunduk. “Padahal kita hidup di rumah yang sama.”
“Dan Bapak menulis sebanyak ini,” lanjut Raina. “Tentang kita. Tentang Ibu. Tentang hal-hal kecil yang bahkan kita lupa.”
Rendra memegang bukunya. “Terus kenapa rasanya dulu kita harus nebak-nebak sendiri?”
Tidak ada jawaban yang langsung datang.
Di luar kamar, rumah sunyi. Kursi rotan Ibu kosong di ruang tengah. Dapur sudah sedikit lebih rapi. Piring-piring tamu sudah dikembalikan. Tetapi duka masih tertinggal di setiap ruangan seperti debu yang tidak terlihat sampai terkena cahaya.
Renata mengambil buku bertuliskan Lestari I dari kotak.
“Pak,” katanya hati-hati.
Bapak mengangkat wajah.
“Boleh kami baca yang ini?”