Singapura menyambut Renata dengan cara yang sama seperti sebelum ia pulang. Lift apartemennya tetap naik tanpa suara. Koridor tetap bersih. Lampu sensor tetap menyala tepat ketika ia melangkah. Tanaman kecil di dekat pintu unit sebelah tetap berada di tempat yang sama. Dari jendela ruang tamunya, kota tetap tampak rapi, terang, dan jauh dari rumah Japos yang beberapa hari terakhir seperti menelan seluruh hidupnya.
Tidak ada yang berubah. Justru itu yang membuat Renata hampir tidak sanggup berdiri di tengah apartemennya sendiri. Koper masih berada di dekat pintu. Ia belum membukanya sejak tiba dari bandara. Sepatunya dilepas asal. Mantel tipisnya tergantung setengah di sandaran kursi. Ponselnya penuh pesan yang belum dibalas: Mei Ling, kantor, teman-teman, beberapa kerabat, Raina, Rendra, Bapak.
Ia mengirim pesan di grup keluarga.
Renata: Aku sudah sampai.
Raina langsung menjawab.
Raina: Jangan lupa makan ya, Kak.
Beberapa detik kemudian, Rendra menyusul.
Rendra: Jangan cuma kopi.
Renata menatap dua pesan itu.
Lalu sebuah pesan dari Bapak masuk.
Bapak: Kalau sudah sampai, istirahat dulu.
Tidak ada tanda baca lain.
Tidak ada emotikon.
Namun Renata membaca pesan itu lama.
Dulu, ia mungkin akan membalas: Iya, Pak. Lalu langsung mandi, membuka laptop, mengecek email, dan mencoba kembali menjadi Renata yang semestinya. Renata yang rapi. Renata yang bisa. Renata yang tidak membuat orang lain khawatir.
Malam itu, ia hanya mengetik:
Iya, Pak. Bapak juga ya, tidurnya jangan kemalaman.
Balasan Bapak datang beberapa menit kemudian.
Bapak: Nanti.
Renata hampir tertawa.
Nanti.
Kata paling berbahaya di rumah mereka.
Ia meletakkan ponsel di meja, lalu akhirnya membuka koper.
Di antara pakaian hitam, scarf, tas kecil, dan charger, ada tiga buku bersampul polos yang dibungkus kain. Renata I, Renata II, Renata III. Bapak menyerahkannya sendiri sebelum ia berangkat, tidak dengan kalimat panjang.
“Bawa,” kata Bapak.
“Semua?”
“Iya.”
“Boleh, Pak?”
“Itu tentang kamu.”
Renata mengangkat buku-buku itu dari koper dengan dua tangan. Beratnya tidak seberapa. Tetapi ketika ia meletakkannya di meja ruang tamu apartemen, bunyinya terasa seperti sesuatu yang lebih besar daripada kertas. Ia belum siap membaca semuanya. Namun ia juga tidak sanggup membiarkannya tertutup.
Malam di luar jendela terlalu terang. Kota tidak tahu ibunya baru dikuburkan. Mesin pendingin ruangan bekerja dengan stabil. Dari apartemen sebelah, terdengar suara televisi samar dalam bahasa yang tidak ia perhatikan.
Renata duduk di lantai, bersandar pada sofa, dan membuka Renata I.
Halaman pertama sudah pernah ia lihat di Japos.
14 Mei 1996
Renata lahir pukul 03.18. Berat 3,1 kg. Panjang 49 cm. Menangis keras. Ibu tertawa setelah dokter bilang anak perempuan. Ibu bilang hidungnya mirip Bapak. Menurut Bapak belum kelihatan.
Renata menyentuh tanggal itu.
Ia pernah membaca banyak dokumen tentang dirinya sendiri. Akta lahir. Ijazah. Paspor. Kontrak kerja. Profil profesional. Kartu nama. Semua mencatat siapa dirinya dalam bentuk yang bisa digunakan dunia. Tetapi tidak ada dokumen yang pernah menuliskan bahwa ia menangis keras pukul tiga lewat delapan belas, bahwa Ibu tertawa, bahwa Bapak tidak yakin hidung bayi baru lahir bisa langsung mirip siapa pun.
Ia membalik halaman.
Tulisan Bapak terus berjalan dengan gaya yang sama. Kaku. Rapi. Hampir lucu karena tidak pernah mencoba menyentuh hati, tetapi justru menyentuh karena itu.
2 Oktober 1998
Renata belajar memakai sepatu sendiri. Kanan-kiri terbalik. Marah saat Ibu bantu. Menangis 7 menit. Setelah itu berhasil sendiri. Catatan: kalau dibantu terlalu cepat, Renata lebih marah daripada kalau gagal.
Renata menutup mata.
Tentu saja.
Tentu saja ia begitu sejak kecil.
Ia membayangkan dirinya yang kecil, duduk di lantai rumah Japos dengan sepatu terbalik, menolak tangan Ibu, menolak bantuan, menangis bukan karena tidak bisa, tetapi karena ada orang lain melihat ia tidak bisa.
Di halaman lain:
11 Juli 2001
Renata ikut lomba mewarnai di sekolah. Menang juara 2. Saat pulang, ditanya senang atau tidak. Renata bilang harusnya bisa juara 1 karena langitnya keluar garis sedikit. Ibu bilang juara 2 juga bagus. Renata diam. Catatan: Renata sulit menerima bagus kalau melihat satu bagian salah.
Renata tertawa pelan, lalu menangis sedikit.
Bukan tangis besar seperti di rumah. Bukan tersedu-sedu sampai tubuhnya lelah. Hanya air mata yang jatuh karena ia membaca dirinya dari mata Bapak dan merasa terlalu dikenali.
Ia membalik lagi.
6 April 2004
Renata demam 38,5. Tetap minta buku PR karena besok dikumpulkan. Ibu bilang tidur. Renata bilang nanti dimarahi guru. Bapak tulis surat izin. Renata tanya apakah tulisan Bapak rapi. Catatan: sakit pun Renata takut tidak memenuhi tanggung jawab.
Renata menutup buku itu sebentar.
Ruangan apartemennya terasa terlalu sunyi.
Ia memandang laptop di meja. Ada email kantor yang belum dibalas. Kalender minggu depan penuh rapat. Mei Ling sudah menawarkan mengambil alih beberapa bagian presentasi. Renata belum menjawab karena sebagian dirinya masih ingin berkata, Aku bisa.
Aku bisa memimpin presentasi.
Aku bisa kembali bekerja.
Aku bisa pulang dari pemakaman Ibu dan tetap menjalankan timeline campaign.
Aku bisa tidak membuat hidup orang lain repot.
Ternyata Bapak sudah melihatnya sejak ia kecil.
Sakit pun Renata takut tidak memenuhi tanggung jawab.
Ia membuka Renata II.
Kertas di dalam jilid kedua lebih beragam. Ada lembar agenda, kertas bergaris, bahkan satu halaman yang tampak berasal dari belakang amplop cokelat. Semua dijilid rapi, tetapi tidak sepenuhnya seragam. Seperti hidup yang mencoba dibuat tertib setelah terjadi.
23 September 2009
Renata pulang dengan nilai ulangan matematika 97. Ibu senang. Renata berkata tiga poin hilang karena kurang teliti. Bapak bilang 97 bagus. Renata mengangguk, tetapi wajah tetap kecewa. Catatan: pujian harus lebih cepat dari koreksi. Bapak terlambat.
Renata membaca kalimat terakhir itu berulang.
Bapak terlambat.
Jadi Bapak tahu. Bukan hanya tahu nilainya. Bukan hanya tahu ia kecewa. Bapak bahkan tahu bahwa pujiannya terlambat.
Renata menutup mulutnya. Luka lama di dadanya bergerak, bukan seperti sembuh, melainkan seperti seseorang yang selama ini duduk dalam gelap tiba-tiba diberi lampu kecil dan menyadari ruangan itu tidak kosong.