Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #21

Rendra di Dalam Catatan Bapak

Rendra tidak langsung membaca jurnalnya pada malam pertama.

Ia membawanya, tentu saja.

Dua jilid bersampul polos itu masuk ke dalam ranselnya, dibungkus kaus bersih agar tidak rusak. Ia meletakkannya di bagian paling dalam, jauh dari sepatu, kabel, botol minum, dan segala benda yang biasa ia bawa pergi kerja.

Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali membuka ransel hanya untuk memastikan buku-buku itu masih ada. Tetapi ia tidak membacanya. Di bandara, ia hanya menyentuh jurnal itu sebentar, lalu menutup ransel lagi.

Di pesawat, ia tidur dengan kepala bersandar ke jendela, tetapi tidurnya dangkal. Setiap kali terbangun, ia melihat awan, lalu teringat tanah makam. Melihat lampu kabin, lalu teringat lampu rumah sakit. Mendengar suara pramugari, lalu teringat suara Bapak di telepon.

Ibu sudah dengar. Kamu tidak terlambat.

Kalimat itu menahan sebagian tubuhnya agar tidak jatuh. Namun tidak cukup untuk membuatnya merasa benar-benar sampai.

Saat kembali ke mess transit, dunia kerja menerimanya tanpa upacara. Ada kamar sempit. Ada ranjang. Ada lemari besi. Ada seragam kerja. Ada jadwal. Ada suara orang tertawa di lorong. Ada bau kopi hitam dan pakaian yang dijemur terlalu dekat dengan mesin pendingin. Ada laki-laki lain yang pulang dari cuti, berangkat lagi, kehilangan waktu, menyimpan lelah, dan tetap bekerja karena laut tidak menunggu duka siapa pun.

Rendra meletakkan ransel di lantai.

Jurnal itu tetap di dalam.

Seharian ia bekerja seperti biasa. Memeriksa laporan, mengecek jadwal maintenance, menjawab supervisor. Bahkan mengucapkan, “Iya, pelan-pelan membaik,” saat ditanya. Meskipun ia tidak tahu bagian mana dari dirinya yang sedang membaik.

Sore menjelang malam, setelah mandi dan makan seadanya, ia kembali ke kamar. Kamar itu hanya berisi satu ranjang, satu meja kecil, lemari, dan dinding putih yang tidak punya kenangan. Tempat yang aman untuk orang yang tidak ingin rumah melihatnya menangis.

Ia mengeluarkan jurnal itu.

Rendra I

Rendra II

Tulisan di labelnya adalah tulisan Bapak. Kecil. Rapi. Tidak tergesa-gesa. Rendra duduk di tepi ranjang lama sekali sebelum membuka jilid pertama. Halaman awal berisi kelahirannya.

22 Maret 1997

Rendra lahir pukul 10.06. Berat 3,4 kg. Panjang 50 cm. Menangis keras, tetapi berhenti saat diletakkan dekat Ibu. Renata melihat dari kaca dan bertanya apakah bayi bisa diajak main. Ibu tertawa. Bapak belum tahu cara menggendong anak laki-laki.

Rendra membaca kalimat terakhir itu berulang.

Bapak belum tahu cara menggendong anak laki-laki.

Ia hampir tertawa.

Bapak mencatat ketidaktahuannya sendiri bahkan sejak awal.

Halaman berikutnya masih tentang bayi. Susu. Tidur. Demam. Berat badan. Catatan tentang Renata yang cemburu karena perhatian rumah terbagi. Catatan tentang Ibu yang kurang tidur. Catatan tentang Bapak yang salah memasang popok dan ditegur Ibu.

Tulisan itu kaku, tetapi tidak dingin. Justru di situlah masalahnya. Kalau tulisan itu dingin, Rendra mungkin bisa menutupnya lebih cepat. Namun di balik tanggal dan angka, ada seseorang yang memperhatikan. Seseorang yang berdiri di tepi hidupnya dan menulis hal-hal kecil yang bahkan ia sendiri tidak ingat.

Ia membalik beberapa halaman.

8 Juni 2001

Rendra tidak mau makan sayur. Ibu mencampur bayam ke telur. Rendra makan 5 suap sebelum sadar. Setelah sadar, marah. Catatan: Rendra tidak suka merasa dibohongi, meski untuk hal kecil.

Rendra menghela napas.

“Ya jelaslah,” gumamnya.

Ia membalik lagi.

14 Februari 2002

Rendra menangis karena mobil-mobilan merah patah. Bapak bilang mainan bisa diperbaiki. Rendra bilang bukan soal bisa diperbaiki, tapi mobilnya sudah tidak sama. Catatan: Rendra ingat bentuk awal sesuatu. Kalau rusak, meski dibetulkan, ia tahu bedanya.

Tangan Rendra berhenti di halaman itu. Kalimat itu terlalu dekat. Bukan tentang mobil-mobilan lagi. Ia memandang dinding kamar mess. Cat putihnya sedikit mengelupas di dekat sudut. Di luar, seseorang tertawa keras. Ada bunyi pintu dibanting. Hidup terus berjalan dengan cara kasar yang tidak peduli seseorang baru saja menemukan dirinya di dalam tulisan ayahnya.

Kalau rusak, meski dibetulkan, ia tahu bedanya.

Rendra menutup mata. Jadi Bapak tahu. Bapak tahu bahkan sejak ia kecil bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak mudah menerima benda rusak sebagai benda yang sama. Bahwa perbaikan tidak menghapus retak. Bahwa luka yang sudah ditutup tetap punya bentuk di bawah kulit.

Lalu kenapa Bapak begitu sering berharap satu kata “iya” cukup?

Ia membuka halaman lain, lebih cepat, seolah ingin menemukan bukti bahwa jurnal itu bisa disalahkan.

Lalu ia menemukan sepeda.

Catatan yang sudah dibaca sekilas di rumah, tetapi kali ini ia membacanya sendirian, tanpa Renata, Raina, atau Bapak di ruangan yang sama.

3 Agustus 2002

Rendra jatuh dari sepeda hitam di depan rumah. Lutut kanan luka. Setang sepeda miring. Ibu panik. Rendra menangis keras, tetapi berhenti setelah masuk kamar mandi. Bapak menyuruh Rendra berdiri dulu karena jatuh di tengah jalan. Seharusnya Bapak tanya sakitnya dulu. Malam: setang sudah dibetulkan. Rendra tidur miring ke kiri.

Rendra membaca sampai kata terakhir. Lalu membaca lagi. Ia tidak menangis. Bukan karena tidak sedih. Justru karena dadanya penuh sekali sampai air mata tidak menemukan jalan keluar.

Seharusnya Bapak tanya sakitnya dulu.

Kalimat itu membuatnya ingin melempar buku. Bukan karena Bapak tidak mengerti. Karena Bapak mengerti. Karena Bapak menulisnya. Karena Bapak tahu letak salahnya, tetapi esok hari, dan hari-hari setelahnya, Rendra tetap tumbuh bersama kalimat-kalimat yang mirip: berdiri dulu, jangan lembek, laki-laki harus kuat, jangan gampang capek, jangan cengeng, coba lagi. Bapak tidak sepenuhnya buta akan itu semua. Itu yang paling sulit diterima.

Selama ini, Rendra membangun kemarahannya di atas keyakinan bahwa Bapak tidak melihat. Bahwa Bapak tidak tahu. Bahwa Bapak memang keras karena tidak paham bagaimana rasanya menjadi anak yang disuruh kuat sebelum ditanya sakit. Namun jurnal itu menghancurkan bentuk kemarahannya.

Bapak melihat.

Bapak tahu.

Bapak bahkan ragu.

Tetapi luka tetap terjadi.

Rendra menutup buku dan meletakkannya di samping ranjang. Ia berdiri, berjalan ke wastafel kecil, membasuh wajahnya, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin.

Wajahnya terlihat lelah. Mata merah. Rahang tegang. Rambut masih basah setelah mandi. Tubuh laki-laki dewasa yang bekerja di tempat keras, mengerti mesin, mengerti prosedur keselamatan, mengerti cara menahan panik ketika alarm berbunyi. Namun di belakang matanya, ada anak kecil dengan lutut berdarah yang masih ingin seseorang bertanya, “Sakit enggak?”

Rendra mematikan keran.

Ia kembali ke ranjang.

Membuka buku lagi.

Kali ini ia tidak melompat. Ia membaca pelan.

Catatan-catatan itu membentuk masa kecilnya dengan cara yang mengganggu.

12 Oktober 2003

Rendra memecahkan gelas. Ibu bilang tidak apa-apa, yang penting kaki tidak kena. Bapak bilang lihat kalau memegang barang. Rendra diam sampai malam. Catatan: Bapak terlalu cepat menegur. Gelas bisa diganti. Diam Rendra lebih lama dari pecahnya gelas.

Rendra mengusap wajahnya.

Di halaman lain:

29 April 2004

Rendra berkelahi di sekolah. Katanya temannya mengejek Renata sok pintar. Guru bilang Rendra memukul duluan. Di rumah, Bapak marah karena berkelahi. Ibu tanya kenapa Rendra memukul. Rendra tidak jawab. Malam, Renata masuk kamar Rendra membawa biskuit. Catatan: Rendra melindungi dengan cara yang salah. Bapak menegur caranya, lupa melihat alasannya.

Rendra tertawa pendek.

Lagi.

Bapak tahu.

Halaman berikutnya membuat tenggorokannya mengering.

5 September 2006

Rendra nilai matematika 68. Bapak tanya kenapa turun. Rendra bilang tidak tahu. Ibu bilang mungkin soalnya sulit. Bapak bilang harus latihan lebih banyak. Rendra mengangguk. Setelah itu Rendra main bola sampai sore, tidak mau makan malam di meja. Catatan: Bapak takut Rendra tertinggal. Yang keluar dari mulut Bapak terdengar seperti kecewa.

Rendra menutup buku lagi. Tangannya menekan sampul kuat-kuat. Ia ingin marah pada Bapak. Ia memang marah. Tetapi kemarahannya kini tidak punya arah yang mudah. Karena di jurnal itu, Bapak tidak menulis sebagai orang yang yakin dirinya benar. Tidak selalu. Ada banyak catatan yang menunjukkan Bapak ragu. Terlambat, sering kali. Tetapi ragu.

Bapak bukan monster dalam cerita masa kecil Rendra. Bapak juga bukan ayah sempurna yang diam-diam mencintai dan karena itu semua salahnya harus dimaafkan. Bapak adalah orang dewasa yang melihat anaknya terluka, mencatatnya, menyadari sebagian kesalahan, lalu keesokan harinya tetap tidak selalu bisa berubah. Dan bagi Rendra, itu lebih sulit daripada membenci.

Ia membuka halaman berikutnya dengan gerakan kasar.

Di tengah buku, ada satu catatan yang lebih panjang dari biasanya. Tulisannya tetap rapi, tetapi beberapa kata tampak ditekan lebih dalam.

21 Januari 2008

Rendra pulang dengan lutut memar karena jatuh saat main bola. Bapak bilang laki-laki harus kuat, jangan sedikit-sedikit mengeluh. Rendra langsung diam. Ibu melihat Bapak setelah Rendra masuk kamar. Ibu bilang anak laki-laki juga bisa sakit. Bapak jawab tahu. Tapi Bapak tetap tidak masuk kamar.

Ada jeda satu baris.

Lalu tulisan berlanjut.

Aku tidak tahu apakah tadi aku sedang mendidik atau hanya mengulang kerasnya Bapakku dulu.

Rendra berhenti bernapas beberapa detik.

Kalimat itu tidak seperti catatan lain. Masih sederhana. Masih tidak puitis. Tetapi kata aku jarang muncul di jurnal Bapak. Kata itu hanya muncul di awal-awal jurnal Ibu. Biasanya Bapak menulis dirinya sebagai Bapak, seolah ia pun sebuah fungsi di rumah. Namun di kalimat itu, ia menulis aku.

Rendra membaca lagi.

Aku tidak tahu apakah tadi aku sedang mendidik atau hanya mengulang kerasnya Bapakku dulu.

Jadi ada orang lain di belakang Bapak.

Bukan untuk membenarkan.

Rendra langsung menolak pembenaran itu sebelum sempat tumbuh.

Tidak.

Fakta bahwa Bapak pernah dikerasi oleh Bapaknya sendiri tidak menghapus luka Rendra. Tidak mengubah malam-malam ia menelan tangis. Tidak mengubah cara tubuhnya selalu menegang setiap kali melakukan kesalahan kecil di depan orang lain. Tidak mengubah pilihannya mencari tempat kerja yang membuktikan ia kuat, jauh dari rumah yang dulu membuat kekuatan terasa seperti satu-satunya cara dicintai. Namun kalimat itu membuat Bapak menjadi manusia. Dan Rendra belum tahu apakah ia siap melihat Bapak seperti itu.

Lebih mudah menjadikan Bapak tembok. Tembok tidak punya masa kecil. Tembok tidak ragu. Tembok tidak menyesal. Tembok hanya menghalangi. Tetapi jurnal itu menunjukkan bahwa Bapak mungkin juga pernah berdiri di depan tembok yang lebih tua, lalu tanpa sadar membangun tembok yang sama di hadapan anaknya.

Rendra menutup buku dan meletakkannya di pangkuan.

Ia menunduk.

Kali ini air matanya jatuh.

Tidak banyak. Hanya beberapa tetes yang mengenai celananya.

Ia tidak menghapusnya.

Di luar kamar, suara lorong mulai sepi. Orang-orang masuk ke kamar masing-masing. Besok jadwal tetap berjalan. Mesin tetap harus diperiksa. Sistem tetap harus aman. Tidak ada cuti tambahan untuk seseorang yang baru memahami bahwa ayahnya pernah mencintai dan melukainya pada saat bersamaan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Raina.

Raina: Bang, kamu sudah baca?

Rendra menatap layar.

Ia mengetik:

Sedikit.

Raina membalas:

Berat?

Rendra hampir menulis lumayan.

Lalu ia menghapusnya.

Rendra: Berat banget.

Balasan Raina datang cepat.

Raina: Mau telepon?

Rendra memandang jurnal di pangkuannya. Ia ingin menjawab tidak. Ingin berkata ia baik-baik saja. Ingin menjadi abang yang tidak menambah beban adiknya. Ingin menjadi anak laki-laki yang tetap bisa menahan dirinya sendiri. Namun halaman Bapak tadi masih terbuka di kepalanya. Anak laki-laki juga bisa sakit.

Ia mengetik:

Lihat selengkapnya