Raina membaca jurnalnya di kamar kos, bukan di rumah Japos.
Awalnya, ia tidak berniat begitu.
Ia membawa satu jilid Raina I ke kos hanya karena Renata dan Rendra membawa milik mereka juga. Jilid-jilid lainnya masih ia tinggalkan di kamar lamanya, di rak bawah dekat kotak foto Ibu. Ia pikir ia akan membacanya nanti, bersama Bapak, atau setidaknya saat pulang ke rumah pada akhir pekan.
Tetapi malam itu, ia lembur.
Pukul sebelas lewat empat puluh dua, ia baru mematikan laptop. Matanya panas. Punggungnya pegal. Rambutnya masih diikat asal sejak pagi. Di layar ponsel, ada pesan dari Bapak pukul delapan malam.
Bapak: Pulang ke rumah?
Raina membalas pukul sembilan, ketika rapat terakhir baru selesai setengah.
Raina: Kayaknya hari ini aku tidur di kos ya, Pak. Besok aku pulang.
Bapak menjawab:
Iya. Jangan dipaksakan.
Raina membaca pesan itu beberapa kali.
Jangan dipaksakan.
Dulu, kalimat seperti itu hampir selalu datang dari Ibu. Biasanya terdengar seperti kelembutan yang sekaligus membuatnya merasa bersalah. Tetapi dari Bapak, kalimat itu terasa asing. Seperti seseorang yang baru belajar menggunakan benda baru dan masih hati-hati agar tidak salah.
Begitu sampai, Raina meletakkan ponsel di meja. Kamar kosnya kecil. Kasur satu, lemari satu, meja kerja yang selalu terlalu penuh, gantungan baju di belakang pintu, dan jendela yang menghadap dinding gedung sebelah. Tidak ada pohon mangga. Tidak ada kursi rotan. Tidak ada suara Bapak menutup pagar. Tidak ada dapur yang lapnya harus dibedakan.
Namun malam itu, di atas meja kecilnya, ada satu benda dari rumah.
Jurnal bersampul polos dengan label kecil:
Raina I
Raina menatapnya lama.
Ia lelah.
Namun justru karena itu, ia membukanya.
Halaman pertama berisi tanggal kelahirannya.
8 Desember 2000
Raina lahir pukul 22.47. Berat 3 kg. Panjang 48 cm. Menangis paling keras dari tiga anak. Ibu menangis setelah Raina diletakkan di dadanya. Renata bertanya apakah bayi bisa diajak tidur di kamarnya. Rendra bilang bayi terlalu kecil untuk main bola. Catatan: rumah bertambah penuh.
Raina tersenyum kecil.
Rumah bertambah penuh.
Ia membayangkan rumah Japos pada malam itu: Renata masih kecil, Rendra belum masuk sekolah, Ibu lelah setelah melahirkan, Bapak berdiri dengan wajah kaku dan mungkin tidak tahu harus menggendong bayi ketiga dengan cara apa yang berbeda dari bayi pertama dan kedua.
Ia membalik halaman.
15 Desember 2000
Raina tidur lebih tenang kalau ada suara. Saat rumah terlalu sepi, bangun. Ibu bilang mungkin terbiasa dengar suara kakak-kakaknya. Catatan: Raina lahir saat rumah sudah ramai.
Raina membaca kalimat itu dua kali.
Ia memang tidak pernah mengenal rumah sebagai tempat yang benar-benar sepi sebelum semuanya mulai pergi. Dalam ingatan masa kecilnya, rumah selalu berisi suara: Renata belajar, Rendra berlari, Ibu di dapur, Bapak menutup pagar, televisi menyala, air keran, panci, hujan, tetangga, motor lewat. Mungkin karena itu, saat rumah mulai kosong satu per satu, ia yang paling mendengarnya.
Halaman berikutnya:
3 Mei 2004
Raina ingin makan sendiri. Nasi jatuh ke lantai. Ibu hendak menyuapi, Raina menolak. Menangis karena sendok diambil. Setelah sendok dikembalikan, makan 4 suap sendiri. Meja kotor. Catatan: Raina marah kalau dianggap belum bisa.
Raina berhenti.
Lalu tertawa kecil.
“Ya ampun, Pak.”
Ia bisa membayangkan Bapak menulis itu dengan wajah datar, seolah nasi jatuh ke lantai adalah informasi penting untuk masa depan keluarga. Namun kalimat terakhir membuat tawanya berhenti.
Raina marah kalau dianggap belum bisa.
Jadi Bapak tahu sejak ia kecil.
Ia membalik lagi.
20 Juli 2006
Raina memakai sepatu sekolah sendiri. Tali tidak rapi. Bapak mau bantu, Raina bilang bisa. Di jalan, tali lepas. Raina jatuh kecil. Tidak menangis, tapi marah saat Bapak jongkok untuk membetulkan. Ibu bilang biarkan Raina coba lagi. Catatan: Raina ingin dipercaya lebih dulu, dibantu setelah meminta.
Raina meletakkan buku di pangkuannya.
Kamar kos itu mendadak terasa terlalu sempit.
Sepanjang hidupnya, ia merasa harus membuktikan bahwa ia bukan anak kecil. Bahwa ia bisa. Bahwa ia tidak perlu selalu diperiksa, diantar, diperingatkan, ditahan. Bahwa menjadi bungsu tidak berarti semua keberaniannya harus dianggap lucu. Ternyata Bapak tahu. Tidak sepenuhnya, mungkin. Tidak cukup untuk mengubah cara rumah memperlakukannya. Tetapi Bapak melihat.
Raina melanjutkan membaca.
Catatan-catatan awal banyak berisi hal kecil.
Raina takut hujan.
Raina tidak suka kulit timun.
Raina menangis ketika Renata berangkat karyawisata karena ia tidak diajak.
Raina mengikuti Rendra ke halaman, lalu marah karena tidak boleh memegang bola.
Raina menulis namanya sendiri di buku gambar dengan huruf besar-besar, lalu meminta semua orang melihat.
Tulisan Bapak tetap sama.
Kaku.
Terlalu teliti.
Terlalu sedikit perasaan untuk sesuatu yang jelas-jelas penuh perasaan.
Lalu ia menemukan halaman tentang hujan yang pernah dibaca sekilas di Japos.
17 Januari 2005
Hujan besar sore. Petir 4 kali dekat. Raina menangis di bawah meja makan. Tidak mau keluar meski Ibu panggil. Renata ikut masuk ke bawah meja. Rendra membawa senter. Raina berhenti menangis setelah diberi timun kupas dan duduk di pangkuan Ibu. Catatan: jika hujan besar, tutup gorden ruang tengah lebih awal.
Raina menyentuh kalimat tentang Renata dan Rendra.
Renata ikut masuk ke bawah meja. Rendra membawa senter. Ia tidak ingat bagian itu. Ia hanya ingat takutnya. Ingat bunyi petir. Ingat gelap di bawah meja. Ingat Ibu. Namun ternyata kakak-kakaknya juga ada di sana, dengan cara masing-masing. Renata masuk ke ruang takutnya. Rendra membawa cahaya. Dan Bapak mencatat semuanya.
Dulu, saat ia merasa kakak-kakaknya pergi jauh dan meninggalkannya sebagai anak yang paling dekat, ia lupa bahwa sebelum mereka pergi, mereka pernah masuk ke bawah meja dan membawa senter.
Raina menangis pelan. Bukan tangis besar. Air matanya hanya jatuh terus, seperti beberapa hari terakhir. Namun di kamar kos, tidak ada piring untuk dicuci, tidak ada tamu yang meminta air, tidak ada Bapak yang harus diperhatikan. Ia bisa membiarkan air mata itu turun tanpa mencari tugas untuk menghentikannya.
Ia membalik halaman lebih jauh.
Masa SD.
12 Agustus 2009
Raina mendapat tugas membaca puisi di depan kelas. Latihan di ruang tengah 6 kali. Setiap kali salah, mulai dari awal. Renata bilang sudah bagus. Rendra bilang jangan kaku. Raina marah pada keduanya. Saat tampil, Raina lancar. Pulang sekolah berkata biasa saja. Ibu membuat teh manis. Catatan: Raina bekerja keras diam-diam, lalu pura-pura hasilnya mudah.
Raina tertawa kecil di tengah tangis.
Bekerja keras diam-diam, lalu pura-pura hasilnya mudah.
Ia memandang laptop di meja.
Berapa kali ia melakukan itu sekarang?
Mengerjakan dashboard sampai lewat tengah malam, lalu keesokan harinya berkata, “Sudah kok.” Merevisi angka yang salah dari tim lain, lalu bilang, “Gapapa.” Mengurus update rumah, kantor, Bapak, dirinya sendiri, lalu berkata, “Bisa.” Ia dulu mengira kebiasaan itu muncul karena menjadi dewasa. Ternyata benihnya sudah ada saat membaca puisi di ruang tengah.
Halaman berikutnya membuat dadanya lebih berat.
4 Juni 2012
Raina ingin ikut les di tempat yang lebih jauh. Ibu ragu karena pulangnya sore. Bapak bilang lebih dekat saja. Raina diam saat makan malam. Setelah itu mengerjakan PR sampai 22.30. Catatan: Raina ingin diperlakukan seperti kakak-kakaknya, tetapi Bapak dan Ibu masih melihatnya sebagai yang paling kecil. Mungkin salah kami.
Raina menutup buku.
Mungkin salah kami.
Ia memegang sampulnya dengan kedua tangan.
Bapak tahu. Bapak tahu bahwa ia ingin diperlakukan seperti Renata dan Rendra. Bapak tahu bahwa mereka masih melihatnya sebagai yang paling kecil. Bahkan ada kata mungkin salah kami di sana. Lalu kenapa? Kenapa setelah itu, ia tetap menjadi yang paling mudah ditahan?
Kenapa ketika Renata pergi, semua orang bangga meski khawatir? Kenapa ketika Rendra pergi, semua orang takut tapi menganggapnya bagian dari jalan hidup? Sedangkan, kenapa ketika Raina ingin pergi sedikit lebih jauh, rumah menahannya dengan alasan hati-hati?
Raina membuka buku lagi, lebih cepat, hampir marah.
19 November 2015
Raina pulang terlambat karena kerja kelompok. Ibu sudah menelepon 5 kali. Raina marah karena katanya bukan anak kecil. Bapak menjemput ke depan gang. Raina tidak bicara di motor. Catatan: Bapak takut, tapi cara Bapak membuat Raina merasa tidak dipercaya.
Raina menghapus air matanya dengan kasar.
Ada pola di sana.
Bapak takut.
Ibu khawatir.
Raina merasa tidak dipercaya.
Semua orang terluka, lalu menamainya sebagai perhatian.
Ia membaca lagi.
2 Februari 2017
Raina bilang ingin kuliah di luar kota. Ibu langsung diam. Bapak bertanya kampus mana. Raina belum punya jawaban pasti. Rendra bilang luar kota enak. Renata bilang cari informasi dulu. Ibu malamnya menangis sedikit di dapur. Catatan: Bapak dan Ibu belum siap rumah menjadi sepenuhnya kosong. Ini bukan karena Raina lemah. Tapi mungkin yang Raina dengar: kami tidak percaya dia bisa pergi.
Raina berhenti.
Seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Ia membaca catatan itu lagi.
Bapak dan Ibu belum siap rumah menjadi sepenuhnya kosong. Ini bukan karena Raina lemah. Tapi mungkin yang Raina dengar: kami tidak percaya dia bisa pergi.
Kamar kosnya sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Raina menutup mulut dengan tangan. Jadi itu. Bukan karena ia lemah. Atau setidaknya, bukan hanya itu. Ada bagian dari rumah yang menahannya bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena rumah tidak siap ditinggal sepenuhnya. Karena setelah Renata pergi, setelah Rendra pergi, tinggal Raina yang membuat meja makan tidak benar-benar kehilangan semua anak. Tinggal Raina yang masih bisa dipanggil pulang. Tinggal Raina yang jaraknya cukup dekat untuk membuat Bapak dan Ibu merasa rumah belum sepenuhnya kosong.
Raina menangis. Kali ini lebih keras. Ia menangis karena untuk pertama kalinya, ada kalimat yang menjelaskan sesuatu yang selama ini hanya ia rasakan sebagai ketidakadilan.
Namun penjelasan itu datang terlambat. Terlambat untuk Raina remaja yang merasa mimpinya harus selalu dinegosiasikan dengan rasa takut orang tua. Terlambat untuk Raina kuliah yang memilih tetap di sekitar Jakarta sambil berkata pada diri sendiri itu keputusan rasional. Terlambat untuk Raina dewasa yang setiap kali tidak pulang merasa seperti anak buruk karena ia paling dekat. Terlambat untuk Ibu mendengarnya berkata, “Aku tahu sekarang.”
Ia membuka halaman berikutnya dengan tangan gemetar.
10 Juli 2018
Raina diterima di kampus di Jakarta. Ibu lega. Raina bilang memang pilihannya begitu. Bapak tidak tahu apakah benar itu pilihan Raina atau pilihan yang paling tidak membuat rumah takut. Catatan: tanyakan lagi nanti.
Raina tertawa pahit.
“Tanyakan lagi nanti,” bisiknya.
Nanti yang tidak pernah datang. Atau mungkin datang terlalu samar. Dalam bentuk pertanyaan praktis. Dalam bentuk “yakin?” Dalam bentuk “jangan pulang malam.” Dalam bentuk “kalau capek, di rumah saja.” Dalam bentuk perhatian yang terdengar seperti pagar.
Ia membalik ke bagian yang lebih baru.
5 Oktober 2022
Raina mulai kerja. Pulang ke rumah membawa laptop. Masih membuka file setelah makan malam. Ibu bilang jangan terlalu capek. Raina bilang sebentar. Pukul 23.15 masih bekerja. Catatan: Raina ingin dianggap mampu. Takut kalau berhenti, orang mengira ia belum siap.
Raina menatap laptopnya. Ia hampir marah pada benda itu. Benda yang selalu ia bawa pulang. Ke kantor. Ke kos. Ke rumah Japos. Ke meja makan. Ke kamar lama. Benda yang menjadi bukti ia bekerja keras dan sekaligus rantai yang membuatnya tidak pernah benar-benar berada di satu tempat.
Bapak tahu. Bapak tahu ia ingin dianggap mampu. Bukan manja. Bukan paling kecil. Bukan anak yang dibantu. Bukan cadangan keluarga karena jaraknya paling dekat. Tapi mampu.
Ia membaca lagi.
18 Maret 2024
Raina datang hari Minggu. Membawa roti dan obat batuk untuk Ibu. Menolak uang saku. Ibu bilang anak kecil sudah bisa belikan obat. Raina tertawa, tapi setelah itu diam. Catatan: jangan sebut anak kecil saat Raina sedang berusaha menjadi dewasa.
Raina menutup buku dan menangis lagi.
Kalimat itu seharusnya sederhana.
Jangan sebut anak kecil saat Raina sedang berusaha menjadi dewasa.
Seharusnya Bapak mengatakan itu kepada Ibu. Atau kepada dirinya sendiri. Atau kepada Raina. Seharusnya kalimat itu keluar di meja makan, di dapur, di teras, di momen ketika Raina masih bisa mendengarnya tanpa harus menemukan lewat jurnal setelah Ibu meninggal. Ia merasa dilihat. Dan karena dilihatnya terlambat, rasanya hampir lebih menyakitkan daripada tidak dilihat sama sekali.
Ponselnya bergetar.