Setelah jurnal ditemukan, Renata sempat mengira Bapak akan berubah. Tapi tidak banyak yang berubah.
Ia tidak membayangkan Bapak tiba-tiba memeluk mereka setiap bertemu, mengirim pesan panjang berisi perasaan, atau duduk di ruang tengah sambil menjelaskan semua luka lama dengan kata-kata yang tertata. Renata cukup mengenal Bapak untuk tidak mengharapkan keajaiban sebesar itu.
Tetapi ia tetap berharap sesuatu.
Mungkin Bapak akan mulai bercerita lebih banyak.
Mungkin Bapak akan menjelaskan kenapa jurnal itu ditulis.
Mungkin Bapak akan mengatakan apa yang ia rasakan setelah Ibu pergi.
Mungkin Bapak akan membuka satu halaman dan berkata, “Ini yang Bapak maksud dulu.”
Namun Bapak tetap Bapak.
Pagi hari di Japos masih dimulai dengan suara gelas, air panas, dan sendok yang menyentuh cangkir. Bapak masih menutup pagar dengan gerakan yang sama. Masih melipat koran lama meskipun lebih sering tidak benar-benar membacanya. Masih menyapu halaman tanpa menyebut bahwa daun mangga jatuh lebih banyak sejak Ibu tidak ada yang mengomentarinya dari kursi rotan.
Pesan-pesannya juga tetap pendek.
Sudah makan?
Sudah sampai kantor?
Hari ini hujan. Jangan pulang terlalu malam.
Rendra kabari kalau sinyal ada.
Renata jangan tidur lewat jam dua.
Renata pernah menatap pesan terakhir itu dari apartemennya di Singapura, lalu tertawa kecil sendiri.
Bapak tidak bertanya apakah ia sedih.
Tidak berkata ia rindu.
Tidak membahas halaman jurnal yang baru ia baca.
Bapak hanya menyuruhnya tidur sebelum jam dua.
Dulu, Renata mungkin akan membacanya sebagai kontrol.
Sekarang, ia membacanya sebagai kalimat yang belum sempat menemukan tubuh lain.
Tetap saja, ada hari-hari ketika ia kecewa.
Mengetahui bahwa Bapak punya bahasa tersembunyi tidak otomatis membuat bahasa lamanya mudah diterima. Kadang pesan pendek tetap terasa pendek. Kadang diam tetap terasa seperti pintu tertutup. Kadang Renata masih ingin mengetik, Pak, ngomong yang jelas. Aku capek menerjemahkan.
Tetapi ia tidak selalu mengirimnya.
Kadang ia hanya membalas:
Iya, Pak. Bapak juga tidur.
Dan Bapak, seperti biasa, menjawab:
Nanti.
Di laut, Rendra juga menemukan hal yang sama.
Setelah membaca jurnal, ia sempat mengira percakapan mereka akan menjadi lebih mudah. Paling tidak sedikit. Ia dan Bapak sudah bertukar pesan tentang luka lama. Bapak sudah menulis maaf. Bapak sudah bertanya, terlambat tetapi sampai, Masih sakit? Namun beberapa hari kemudian, ketika Rendra video call dari mess, Bapak tetap bertanya dengan urutan yang sangat Bapak.
“Alat keselamatan lengkap?”
“Lengkap, Pak.”
“Tidur cukup?”
“Lumayan.”
“Lumayan berarti tidak.”
Rendra menghela napas. “Iya, Pak. Tidak cukup.”
“Makan?”
“Sudah.”
“Makan apa?”
“Pak, ini interogasi?”
Bapak menatap layar. “Pertanyaan itu dijawab.”
Rendra hampir tertawa.
Hampir.
Di belakang pertanyaan-pertanyaan itu, kini ia bisa melihat kecemasan. Tetapi tetap saja, ada bagian dirinya yang lelah menjadi orang yang selalu diperiksa dari hal praktis.
“Pak,” katanya suatu malam, “Bapak bisa tanya aku gimana tanpa lewat checklist.”
Bapak diam di layar.
Sinyal tidak terlalu bagus. Wajahnya sedikit pecah-pecah, tetapi cukup jelas untuk memperlihatkan kebingungan yang jujur.
“Checklist apa?”
Rendra menutup mata sebentar.
“Ya itu. Makan. Tidur. Alat keselamatan. Kerja. Sinyal.”
“Itu penting.”
“Iya. Tapi aku juga ada di luar itu.”
Bapak tidak menjawab. Untuk beberapa detik, Rendra merasa percakapan itu akan jatuh ke pola lama. Ia mengatakan sesuatu. Bapak diam. Rendra merasa tidak didengar. Lalu ia mengeras, menutup diri, dan mengakhiri telepon dengan alasan sinyal.
Namun kali ini, Bapak berkata pelan, “Kalau begitu, kamu gimana?”
Rendra menatap layar.
Pertanyaan itu kaku sekali.
Tidak halus. Tidak hangat. Tidak pandai.
Tetapi ada.
Rendra bersandar ke dinding kamar mess. “Capek.”
Bapak mengangguk.
“Masih sering kepikiran Ibu,” lanjut Rendra.
Bapak menunduk sedikit.
“Iya.”
“Kadang aku masih merasa telat.”
Bapak mengangkat wajah. “Ibu sudah dengar.”
Rendra menelan napas.
“Aku tahu.”
“Kamu tidak terlambat.”
“Iya.”
Mereka diam.
Diam itu tidak langsung menjadi nyaman. Tetapi untuk pertama kalinya, Rendra tidak merasa harus segera mengisinya dengan marah atau lelucon. Bapak tetap tidak banyak bicara. Namun malam itu, ia tidak kembali ke checklist.
Di Japos, Raina paling sering melihat bahwa Bapak sebenarnya masih sama. Karena ia yang paling sering pulang.
Ia melihat Bapak tetap meletakkan gelas Ibu di rak paling atas, meskipun gelas itu tidak lagi dipakai. Tetap membeli timun ketika ke pasar, lalu mengupasnya tanpa bertanya apakah Raina akan datang. Tetap menyalakan lampu teras terlalu cepat saat sore mendung. Tetap duduk di kursi plastik, bukan kursi rotan.
Raina juga melihat Bapak tetap sulit ditanya.
“Pak, hari ini sedih banget nggak?”
Bapak biasanya menjawab, “Biasa.”
“Biasa apa?”
“Ya biasa.”
“Biasa sedih atau biasa tidak sedih?”
“Raina Prawula.”
Dulu, nama lengkap itu akan membuat Raina berhenti.
Sekarang, kadang ia tetap berhenti. Kadang tidak.
“Pak, aku serius.”
Bapak menatap meja.
Lalu berkata, “Sedih.”
Satu kata.
Setelah itu, ia berdiri untuk mengecek air galon.
Raina pernah ingin mengejarnya dan berkata, Kalimatnya jangan berhenti di situ. Namun ia melihat tangan Bapak di atas galon. Tangan itu bergetar sedikit. Maka ia membiarkannya. Bukan karena satu kata sudah cukup selamanya. Tetapi karena hari itu, satu kata mungkin sudah menghabiskan tenaga Bapak lebih banyak daripada yang terlihat.
Jurnal tidak membuat Bapak berubah menjadi lelaki yang pandai membuka hati. Jurnal hanya membuat anak-anak tahu bahwa selama ini, hati itu tidak kosong. Perbedaannya kecil. Namun kecil bukan berarti tidak berarti.
Beberapa minggu setelah penguburan, mereka mulai membuat kebiasaan baru. Setiap malam, siapa pun yang bisa akan video call. Tidak selalu lengkap. Kadang Renata sedang rapat. Kadang Rendra sinyalnya hilang. Kadang Raina masih di jalan dari kantor ke kos. Kadang Bapak lupa menyalakan volume sampai lima menit pertama hanya berisi mereka bertiga berteriak, “Pak, suaranya! Volume, Pak!”
Bapak biasanya menjawab, “Sudah.”
Padahal belum.
Minggu pertama, mereka mencoba membaca jurnal Lestari bersama.
Renata dari Singapura. Rendra dari mess. Raina dari ruang tengah Japos, duduk di karpet. Bapak duduk di kursi plastik, buku Lestari II di meja kecil.
“Pak, Bapak yang baca,” kata Raina.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Bapak tidak enak baca tulisan sendiri.”
Rendra dari layar berkata, “Pak, kami semua sudah baca tulisan Bapak tentang cabe dua kilo. Sudah terlambat untuk malu.”
Renata tertawa.
Bapak tidak.
Namun ia membuka buku itu juga.
Akhirnya Raina yang membaca.
12 Januari 1998
Ibu membuat kue bolu untuk pesanan Bu Endang. Bolu pertama bantat. Ibu diam 14 menit. Bapak menyarankan istirahat. Ibu melotot. Catatan: kalau bolu bantat, jangan menyarankan istirahat terlalu cepat.
Rendra tertawa dari layar.
Renata menutup mulut.
Raina terkikik. “Pak, ini penting banget dicatat?”
Bapak menjawab datar, “Supaya tidak salah lagi.”
“Berhasil?”
“Tidak selalu.”
Renata tertawa lebih keras.
Untuk beberapa saat, Ibu terasa ada di ruang itu. Bukan sebagai kesedihan yang berat, melainkan sebagai perempuan yang pernah melotot karena bolu bantat dan memiliki suami yang mencatat durasi diamnya. Namun setelah tawa reda, mereka semua menjadi sedikit sunyi. Karena Ibu tidak ada untuk membantah. Karena tawa yang membawa Ibu pulang juga mengingatkan bahwa ia tidak benar-benar pulang.