Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #24

Pertanyaan Rendra

Rendra pulang ke Japos tiga minggu setelah mendapat jadwal rotasi.

Tidak lama.

Hanya dua malam.

Jadwalnya masih padat, rotasinya belum benar-benar memberi ruang, dan dunia kerja tidak berubah menjadi lebih pengertian hanya karena seseorang sedang berduka. Namun kali ini, ketika ia mengabari akan pulang, Bapak tidak bertanya terlalu banyak.

Bapak hanya membalas:

Iya. Kamar sudah dibuka.

Rendra membaca pesan itu di mess, lalu menatap layar beberapa saat.

Kamar sudah dibuka.

Bukan Bapak senang kamu pulang.

Bukan Bapak menunggu.

Bukan kalimat panjang yang mungkin akan membuat semuanya terasa lebih mudah.

Hanya kamar sudah dibuka.

Tetapi Rendra tahu apa artinya. Bapak sudah masuk ke kamar lamanya. Mungkin membuka jendela. Mungkin mengganti seprai. Mungkin mengecek apakah kipas angin masih berbunyi seperti helikopter. Mungkin meletakkan handuk bersih di ujung kasur, seperti yang dulu selalu Ibu lakukan.

Maka ia membalas:

Oke, Pak.

Dan setelah beberapa detik, ia menambahkan:

Rendra: Aku sampai Sabtu pagi.

Bapak menjawab:

Kabari kalau sudah dari bandara.

Rendra hampir tersenyum.

Bapak masih sama.

Sabtu pagi, rumah Japos tampak lebih tenang daripada terakhir kali ia melihatnya. Terlalu tenang. Pagar hijau terbuka setengah. Pohon mangga menjatuhkan beberapa daun ke halaman. Lampu teras mati karena matahari sudah naik.

Rendra turun dari mobil dengan ransel di bahu.

Bapak sudah berdiri di teras.

“Lama kamu pulangnya,” katanya.

Rendra menatapnya.

Kalimat itu pernah menyebalkan. Pernah terasa seperti teguran. Pernah membuatnya ingin menjawab keras bahwa jalan macet, bahwa bandara jauh, bahwa ia sudah berusaha.

Pagi itu, ia hanya berkata, “Iya, Pak.”

Bapak mengambil ransel dari bahunya.

Rendra menahan. “Berat.”

“Bapak tahu.”

“Biar aku bawa.”

“Masuk dulu.”

Rendra melepaskan ransel itu.

Bapak membawanya masuk tanpa berkata lagi.

Di ruang tengah, kursi rotan Ibu tetap berada di tempatnya. Foto Ibu ada di meja kecil. Di rak sebelahnya, jurnal-jurnal Lestari tersusun rapi. Ada vas kecil berisi bunga segar, mungkin dibeli Bapak dari pasar atau diberi tetangga. Rendra tidak bertanya.

Ia berdiri beberapa detik di depan kursi rotan.

Setiap pulang, kehilangan Ibu terasa baru lagi.

Di mess, di laut, di ruang mesin, di jadwal kerja, duka bisa bersembunyi di balik suara dan tugas. Di rumah, duka duduk terang-terangan di kursi rotan.

“Sudah makan?” tanya Bapak dari dapur.

Rendra menelan napas. “Belum.”

“Ada bubur.”

“Oke, Pak.”

Bapak keluar membawa mangkuk.

Mereka makan di meja berdua.

Tidak ada Ibu yang bertanya apakah buburnya cukup asin. Tidak ada Raina yang mengomentari tekstur telur. Tidak ada Renata yang mengatur mangkuk agar tidak terlalu dekat dengan laptop. Hanya Bapak dan Rendra, duduk berhadapan, dengan satu kursi kosong di sisi lain meja.

Bapak makan pelan.

Rendra makan lebih cepat, lalu melambat ketika sadar.

“Kamu tidak dikejar,” kata Bapak.

Rendra menatapnya.

Bapak tampak menyadari kalimat itu terlalu mirip Ibu. Ia menunduk pada mangkuknya.

Rendra mengaduk bubur dengan sendok. “Ibu biasanya yang ngomong begitu.”

“Iya.”

Hening.

Lalu Bapak berkata, “Tapi benar.”

Rendra tertawa kecil.

Tidak lepas. Tidak ringan sepenuhnya. Tetapi ada.

Setelah makan, Bapak mencuci mangkuk. Rendra mencoba mengambil alih, tetapi Bapak hanya berkata, “Tamu baru datang tidak langsung cuci piring.”

“Aku bukan tamu.”

Bapak berhenti sebentar.

Lalu menjawab, “Iya.”

Mangkuk tetap ia cuci sendiri.

Rendra membiarkan.

Menjelang sore, Rendra menemukan Bapak di gudang. Gudang itu masih berbau debu, kardus lama, kayu, dan sedikit oli. Sepeda hitam masa kecilnya bersandar di sudut, kali ini sudah lebih bersih daripada saat pertama dikeluarkan. Ban depannya masih kempis, tetapi rantainya tidak lagi sekering dulu. Di sampingnya, ada kotak perkakas terbuka. Bapak sedang memperbaiki kipas angin lama.

“Kipas siapa?” tanya Rendra.

“Kamar kamu.”

“Masih bunyi helikopter?”

“Sudah tidak.”

“Lantas kenapa dibongkar?”

“Biar tidak bunyi lagi nanti.”

Rendra bersandar di kusen gudang. “Pak, aku cuma dua malam.”

“Dua malam tetap perlu tidur.”

Jawaban itu membuat Rendra diam.

Di lantai dekat kaki Bapak, ada obeng, kain lap, satu botol kecil pelumas, dan sekrup-sekrup yang diletakkan dalam tutup toples agar tidak hilang. Semua rapi. Semua berada pada tempatnya. Bahkan dalam gudang yang berdebu, Bapak tetap menciptakan urutan kecil yang bisa ia pahami.

Rendra masuk dan jongkok di seberangnya.

“Sini, aku bantu.”

“Tidak usah.”

“Aku bisa.”

“Bapak tahu.”

Rendra menatapnya. Bapak tidak tampak sedang menyindir. Hanya menjawab. Bapak tahu. Dua kata itu sederhana, tetapi Rendra masih belajar mendengarnya tanpa langsung menyiapkan perlawanan. Ia mengambil obeng lain. Bapak membiarkannya. Mereka bekerja beberapa menit tanpa bicara.

Kipas angin itu tidak terlalu sulit. Bautnya dibuka, baling-baling dilepas, bagian dalam dibersihkan, porosnya diberi sedikit pelumas. Bapak melakukan semuanya dengan gerakan lambat tapi tepat. Rendra membantu memegang bagian yang perlu ditahan.

Pekerjaan kecil itu seharusnya mudah. Namun sejak membaca jurnal, hal-hal kecil di rumah tidak lagi hanya menjadi hal kecil. Obeng mengingatkannya pada lampu pagar. Kipas mengingatkannya pada kamar lama. Gudang mengingatkannya pada sepeda. Sepeda mengingatkannya pada lutut berdarah dan kalimat Bapak yang datang dua puluh tahun terlambat.

Sakit?

Rendra menatap sepeda hitam di sudut gudang.

Bapak melihat arah pandangnya.

Tidak bertanya.

Justru karena tidak bertanya, Rendra akhirnya bicara.

“Pak.”

“Hm?”

“Aku baca lagi jurnalnya.”

Tangan Bapak berhenti sebentar, lalu kembali memasang baut.

“Iya.”

“Aku baca bagian Bapak nulis soal aku jatuh. Soal nilai. Soal berantem. Soal Bapak nggak tahu sedang mendidik atau cuma mengulang kerasnya Kakek dulu.”

Bapak diam.

Rendra memegang obeng di tangannya. “Aku nggak bisa berhenti mikirin itu.”

Bapak menurunkan kipas angin sedikit.

Gudang terasa lebih sempit.

Dari luar, suara motor lewat. Ada anak kecil tertawa di rumah tetangga. Dapur mereka sunyi. Kursi rotan di ruang tengah kosong.

Rendra menarik napas.

“Kalau Bapak tahu aku terluka,” katanya pelan, “kenapa dulu Bapak tetap keras?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar. Tidak meledak. Tidak berteriak. Tidak penuh tuduhan seperti yang pernah ia bayangkan saat masih remaja. Justru karena suaranya pelan, pertanyaan itu terasa lebih tajam.

Bapak menatap kipas angin di pangkuannya. Lama. Terlalu lama. Rendra hampir mengira Bapak tidak akan menjawab. Lalu Bapak meletakkan obeng di lantai. Gerakannya pelan, seolah ia butuh kedua tangan kosong untuk menghadapi pertanyaan yang tidak bisa diperbaiki dengan alat.

“Bapak tidak punya jawaban yang bagus,” katanya.

Rendra menahan napas.

“Kasih jawaban yang ada saja.”

Bapak menatap sekrup-sekrup kecil di tutup toples.

“Bapak kira...” Ia berhenti.

Rendra menunggu.

“Bapak kira kalau kamu kuat, kamu akan aman.”

Kalimat itu keluar tidak indah.

Tidak rapi.

Lihat selengkapnya