Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #25

Renata Tidak Harus Lengkap

Renata pulang ke Japos pada akhir pekan terakhir bulan itu. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya pulang.

Selama bertahun-tahun, Renata selalu membutuhkan alasan untuk kembali. Libur panjang. Pekerjaan di Jakarta. Urusan dokumen. Undangan keluarga. Tiket yang kebetulan murah. Ia jarang mengakui bahwa terkadang ia pulang hanya karena ingin melihat pagar hijau terbuka, mencium bau dapur, dan mendengar Bapak bertanya apakah ia sudah makan. Pulang tanpa alasan membuatnya merasa lebih telanjang. Namun setelah membaca jurnal, ia mulai lelah menyamarkan kasih sayang sebagai kebetulan.

Pesawatnya tiba Jumat malam. Ia menginap di hotel dekat bandara karena tidak ingin membuat Bapak menunggu terlalu larut, meskipun Bapak tetap mengirim pesan pukul sebelas.

Bapak: Sudah sampai hotel?

Renata menjawab:

Sudah, Pak.

Beberapa menit kemudian:

Jangan lupa kunci pintu.

Renata tersenyum.

Renata: Sudah otomatis, Pak.

Lalu setelah ragu sebentar, ia menambahkan:

Besok pagi aku sampai.

Bapak membalas:

Iya. Besok sarapan bubur di rumah.

Tidak ada kata senang.

Namun Renata tahu Bapak sudah merencanakan sarapan.

Sabtu pagi, ia sampai di Japos membawa satu koper kecil dan satu kantong kertas berisi roti dari bandara. Pagar hijau tidak terkunci. Bapak berdiri di halaman sedang menyapu daun mangga.

“Pak.”

Bapak mengangkat wajah.

“Lama sampainya.”

Renata menatap jam tangannya. “Aku datang sesuai yang kubilang.”

“Dari hotel tetap lama.”

Renata tertawa kecil.

Bapak meletakkan sapu, lalu mengambil koper dari tangannya.

“Aku bisa bawa.”

“Bapak tahu.”

Kalimat itu masih membuat sesuatu bergerak kecil di dada Renata. Bapak tahu ia bisa. Tetapi tetap mengambil koper. Dulu, ia mungkin akan merebutnya kembali karena tidak ingin dianggap lemah. Sekarang, ia membiarkan.

Di ruang tengah, tidak banyak yang berubah. Kursi rotan Ibu tetap berada di tempatnya. Foto keluarga dengan sepeda hitam sudah dipajang dalam bingkai sedang, sesuai perintah Bapak yang kalah suara. Jurnal-jurnal Ibu tersusun di rak kecil. Vas bunga di meja diganti dengan daun hijau sederhana yang tampaknya dipotong dari halaman.

Renata berdiri beberapa detik di depan foto Ibu.

Bapak berjalan ke dapur.

“Mau bubur?”

“Iya, Pak.”

“Pakai telur?”

“Iya.”

“Cabe?”

“Sedikit.”

Bapak berhenti di ambang dapur. “Sedikit itu berapa?”

Renata menoleh. “Pak, ini sarapan, bukan audit.”

“Supaya jelas.”

“Satu sendok kecil.”

Bapak mengangguk dan masuk ke dapur.

Renata tersenyum sendiri.

Rumah tidak menjadi lebih ringan setelah Ibu pergi. Namun kesedihan mulai belajar duduk tanpa memenuhi seluruh ruangan. Ia tetap ada di kursi rotan, di foto, di cangkir yang tidak lagi dipakai, di cara Bapak menyiapkan bubur untuk dua orang. Tetapi di antara semua itu, ada hidup yang pelan-pelan kembali meminta tempat.

Siang harinya, Raina pulang dari kos.

Ia datang dengan laptop, dua kantong cucian, dan wajah lelah.

“Kak?”

Renata sedang duduk di sofa membaca jurnal Lestari III. “Halo.”

Raina meletakkan tas lalu langsung memeluknya.

Pelukan itu tidak lama, tetapi tidak canggung.

“Kenapa nggak bilang dari kemarin?”

“Aku bilang di grup.”

“Aku ketiduran.”

“Ya salah sendiri.”

Raina melepaskan pelukan. “Bang Rendra tahu?”

“Tahu.”

“Dia iri?”

“Dia bilang titip makan ayam kecap.”

“Standar.”

Bapak keluar dari dapur membawa segelas air.

“Raina, cucian jangan ditaruh di ruang tengah.”

Raina menoleh pada dua kantongnya. “Baru juga masuk, Pak.”

“Makanya pindahkan.”

“Bapak kangen aku, kan?”

Bapak tidak menjawab.

Raina menatap Renata. “Lihat. Masih susah.”

Renata tertawa.

Bapak menunjuk kantong cucian. “Pindahkan dulu.”

Raina mengangkat kedua kantong sambil mengeluh pelan, tetapi wajahnya tersenyum.

Malam itu, mereka makan bertiga. Bapak memasak ayam kecap, meskipun Rendra tidak ada. Raina memotret makanannya dan mengirim ke grup. Rendra membalas dengan pesan yang menyebut mereka pengkhianat keluarga. Renata mengirim foto Bapak yang sedang menuang air. Bapak protes karena fotonya diambil tanpa izin.

Semuanya terasa hampir biasa.

Hampir.

Setelah makan, mereka membuka satu halaman jurnal Ibu.

19 September 2005

Ibu membeli baju merah, lalu tidak jadi dipakai karena merasa terlalu terang. Seminggu kemudian dipakai ke acara sekolah Renata. Tiga orang memuji. Di rumah, Ibu bilang ternyata tidak terlalu merah. Catatan: kadang Ibu perlu memakai sesuatu dulu sebelum percaya cocok.

Raina tersenyum. “Ibu banget.”

Renata menatap tulisan itu lebih lama.

Kadang Ibu perlu memakai sesuatu dulu sebelum percaya cocok. Ia teringat banyak hal yang tidak pernah dicoba karena terlalu sibuk memastikan semuanya tepat. Pekerjaan. Kota. Hubungan. Kesendirian. Pulang.

Bapak menutup jurnal setelah satu halaman.

“Besok ada Tante Mira datang,” katanya.

Renata langsung menegang.

Gerakannya kecil, tetapi Raina melihat.

“Tante Mira?” tanya Raina.

“Iya. Katanya mau bawa makanan.”

“Jam berapa?”

“Siang.”

Renata menunduk pada gelas airnya.

Tante Mira adalah adiknya Bapak. Beliau salah satu anggota keluarga yang selalu berhasil membuat pertanyaan sederhana terasa seperti formulir evaluasi hidup.

Pekerjaan masih di Singapura?

Betah tinggal sendiri?

Sudah ada teman dekat?

Usia berapa sekarang?

Tidak sepi?

Dulu, Renata selalu menyiapkan jawaban.

Aku fokus kerja dulu.

Belum ketemu yang cocok.

Aku baik-baik saja.

Sekarang perempuan tidak harus buru-buru.

Doakan saja.

Jawaban-jawaban itu terdengar santai, tetapi menguras tenaga. Setiap pulang ke keluarga besar, Renata merasa harus membawa presentasi tak terlihat yang membuktikan bahwa hidupnya tetap sah meski satu kolom belum terisi.

Raina menyenggol kakinya di bawah meja.

“Kak.”

Renata mengangkat wajah.

“Kalau Tante Mira mulai, aku alihkan.”

Renata tersenyum tipis. “Aku bisa jawab sendiri.”

Raina hendak membalas, tetapi Bapak berkata dari kursinya, “Tidak perlu dijawab kalau tidak mau.”

Renata menatapnya.

Bapak tetap melihat jurnal yang sudah tertutup.

“Apa, Pak?”

“Kalau tidak mau jawab, tidak perlu.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi datang dari Bapak, yang selama ini lebih sering diam ketika keluarga lain bertanya, kalimat itu terasa seperti perubahan arah angin.

Renata mengangguk pelan. “Iya.”

Namun malam itu, di kamar lamanya, ia tetap memikirkan kedatangan Tante Mira. Ia benci bahwa pertanyaan kecil masih bisa membuatnya menjadi defensif. Ia benci bahwa tiga puluh tahun hidup, pendidikan, pekerjaan, keberanian merantau, dan kemampuan mengurus diri terasa bisa mengecil di hadapan satu pertanyaan tentang pasangan.

Ia membuka lemari lama. Di bagian atas, ada beberapa pakaian Ibu yang belum dipindahkan. Bapak tidak mengizinkan semuanya dirapikan dulu, dan anak-anak juga belum siap. Scarf krem yang pernah ia bawa dari Singapura masih terlipat di sudut. Renata mengambilnya. Kain itu masih menyimpan aroma lemari dan sedikit wangi Ibu yang mungkin hanya ada dalam ingatan.

Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memegang scarf itu.

“Bu,” katanya pelan.

Kamar tidak menjawab.

Renata memejamkan mata.

Ia teringat percakapan terakhir mereka tentang kekhawatiran Ibu. Tentang pulang ke tempat yang tidak ada orangnya. Tentang kesendirian yang bisa dialami bahkan oleh orang kuat.

Dulu, Renata mendengar semuanya sebagai tuntutan. Sekarang, setelah jurnal dan percakapan dengan Bapak, ia tahu itu tidak sesederhana itu. Tetapi mengetahui maksud tidak menghapus cara yang melukai.

Ia tetap pernah merasa kurang. Tetap pernah pulang dengan bahu tegang. Tetap pernah menyiapkan senyum sebelum melewati pintu. Tetap pernah duduk di pesawat kembali ke Singapura dan bertanya apakah semua keberhasilannya tidak cukup jika tidak ada orang yang duduk di sebelahnya.

Renata menyentuh scarf itu ke pipinya.

“Aku ngerti sedikit sekarang,” bisiknya. “Tapi aku masih sakit hati.”

Kalimat itu terasa penting untuk diucapkan, meskipun Ibu tidak ada. Menerima cinta tidak berarti harus menyangkal luka. Ia melipat scarf kembali dan meletakkannya di samping bantal.

Keesokan siangnya, Tante Mira datang membawa dua kotak makanan dan suara yang langsung memenuhi ruang tengah. Ia memeluk Raina, memeluk Renata lebih lama, lalu menepuk bahu Bapak sambil berkata harus menjaga kesehatan.

Lihat selengkapnya