Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #26

Raina yang Tidak Lagi Menunggu Izin

Email itu masuk pada Selasa siang, ketika Raina sedang makan nasi kotak di depan laptop.

Subjeknya singkat.

Global Employment Offer — Data Analyst, Tokyo Office

Raina melihat notifikasi itu muncul di sudut layar, lalu menutupnya terlalu cepat.

Di sekelilingnya, kantor tetap sibuk seperti tidak ada sesuatu yang baru saja bergeser di dalam hidupnya. Seseorang sedang memperdebatkan angka yang berbeda antara dua dashboard. Di meja belakang, seorang rekan mengeluh karena pesanan kopinya tertukar. Grup proyek terus berbunyi. Ada data yang harus diperbaiki sebelum pukul empat dan rapat yang kemungkinan besar akan melewati jam kerja.

Email itu seharusnya bisa menunggu.

Namun sepanjang makan siang, mata Raina terus berpindah ke ikon kotak masuk.

Ia sudah mengikuti proses seleksi hampir tiga bulan lalu, jauh sebelum keadaan Ibu memburuk. Saat itu, ia hanya menganggapnya sebagai keberanian kecil yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebuah perusahaan global membuka posisi Data Analyst untuk kantor regional mereka di Tokyo. Bahasa kerja utamanya Inggris. Perusahaan menyediakan dukungan relokasi, pengurusan visa, tempat tinggal sementara, serta kelas bahasa Jepang selama tahun pertama.

Posisi itu tampak terlalu jauh.

Bukan hanya secara jarak.

Terlalu besar untuk Raina yang masih sering disebut anak paling kecil. Terlalu tinggi untuk Raina yang sehari-hari masih membersihkan data orang lain sambil menunggu kesempatan mengerjakan sesuatu yang benar-benar penting. Terlalu dekat dengan mimpi yang selama ini hanya ia simpan dalam bentuk video perjalanan, tangkapan layar jalanan Tokyo, daftar tempat yang ingin dikunjungi, dan kalimat ringan:

Suatu hari aku mau ke Jepang.

Ia pernah mengatakannya kepada Ibu.

Ibu tertawa dan menjawab, “Pergi liburan atau tinggal?”

Raina waktu itu menjawab, “Kalau bisa, dua-duanya.”

Ibu tidak melarang. Hanya berkata, “Belajar bahasanya dulu. Jangan tahunya cuma arigatou.”

Kemudian hidup berjalan. Raina bekerja. Lembur. Pulang ke kos. Pulang ke Japos. Menunda belajar bahasa. Menunda mendaftar. Menunda percaya bahwa mimpi itu bisa menjadi sesuatu selain latar belakang layar.

Sampai iklan pekerjaan itu muncul.

Ia mengirim lamaran tanpa memberi tahu siapa pun. Bukan karena ingin merahasiakan. Ia hanya tidak ingin menjelaskan mimpi yang mungkin akan ditolak sebelum sempat menjadi kenyataan.

Tahap pertama lewat.

Lalu tes teknis.

Dua wawancara.

Satu presentasi kasus dalam bahasa Inggris yang membuatnya tidak tidur hampir semalaman.

Setelah Ibu meninggal, prosesnya sempat berhenti. Raina mengira perusahaan itu memilih kandidat lain. Sebagian dirinya kecewa. Sebagian lagi lega. Tidak perlu memutuskan. Tidak perlu meninggalkan Indonesia. Tidak perlu membicarakan apa yang akan terjadi pada rumah Japos jika anak yang selama ini paling dekat justru pergi paling jauh. Namun minggu sebelumnya, perekrut menghubunginya kembali.

Hari ini, tawaran itu datang. Raina menunggu sampai waktu makan siang hampir habis sebelum membuka email. Ia membaca pelan. Kemudian mengulang dari awal.

Posisi tetap setelah masa percobaan. Gaji dalam yen. Asuransi. Dukungan visa kerja. Tiket keberangkatan. Tempat tinggal sementara selama dua bulan. Bantuan mencari apartemen. Kursus bahasa. Tanggal mulai tiga bulan lagi.

Di bagian paling bawah, tertulis batas waktu untuk memberi jawaban.

Lima hari.

Raina menutup laptop.

Dadanya berdebar begitu keras hingga ia khawatir orang di meja sebelah bisa mendengarnya.

Ini Jepang.

Bukan kota lain yang masih bisa ditempuh beberapa jam dengan kereta atau mobil. Bukan tempat yang memungkinkan ia pulang mendadak pada Jumat malam, lalu kembali bekerja Senin pagi. Lebih jauh dari Rendra, bahkan Renata. Lebih jauh daripada semua rencana yang pernah berani ia bicarakan. Dan itu adalah salah satu mimpinya.

Hal pertama yang muncul di kepalanya bukan Gunung Fuji, kereta cepat, musim semi, atau jalan-jalan yang selama ini hanya ia lihat melalui layar. Dan yang paling membuatnya bingung saat ini adalah satu hal. Bapak.

Ia membayangkan rumah Japos setelah dirinya berangkat. Tidak ada Raina yang pulang beberapa kali seminggu. Tidak ada pesan mendadak, Aku makan di rumah ya, Pak. Tidak ada laptop di meja makan. Tidak ada cucian yang diletakkan sembarangan di ruang tengah lalu dipindahkan Bapak sambil menggerutu.

Jika ada sesuatu, ia tidak bisa langsung datang. Jika Bapak sakit, ada penerbangan yang harus dicari. Paspor. Bandara. Jam perjalanan. Perbedaan waktu. Jarak yang tidak bisa dilawan hanya dengan niat pulang. Rumah akan benar-benar kehilangan anak terakhir yang masih berada di dekatnya. Rasa bersalah muncul begitu cepat sampai Raina hampir menutup email itu dan melupakannya. Namun matanya jatuh pada satu kalimat.

We are pleased to welcome you to our Tokyo team.

Tokyo.

Mimpi yang selama ini selalu diikuti kata suatu hari kini mempunyai tanggal mulai.

Raina teringat catatan dalam jurnal Bapak.

Bapak dan Ibu belum siap rumah menjadi sepenuhnya kosong. Ini bukan karena Raina lemah. Tapi mungkin yang Raina dengar: kami tidak percaya dia bisa pergi.

Dulu, rumah belum siap.

Sekarang Ibu sudah tidak ada.

Apakah itu berarti rumah tidak akan pernah siap?

Raina membuka chat Renata lebih dulu.

Raina: Kak, bisa telepon malam ini?

Renata membalas beberapa menit kemudian.

Renata: Bisa. Ada apa?

Raina menatap layar sebelum menulis.

Raina: Aku dapat offer kerja.

Raina: Di perusahaan global. Kantor Tokyo.

Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Renata: Tokyo, Jepang?

Raina hampir tertawa.

Raina: Memangnya ada Tokyo lain?

Renata: Rain, serius?

Raina: Serius.

Balasan berikutnya datang lebih lama.

Renata: Kamu mau ambil?

Pertanyaan itu membuat Raina berhenti.

Bukan Bapak bagaimana?

Bukan jauh sekali.

Bukan siapa yang nanti sering pulang ke rumah?

Kamu mau ambil?

Raina menatap kolom pesan.

Jarinya gemetar ketika mengetik satu kata.

Raina: Mau.

Ia membaca ulang.

Lalu mengirim.

Renata membalas:

Berarti kita bahas cara menyampaikannya ke Bapak. Bukan apakah kamu boleh.

Raina mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

Setelah itu, ia mengirim pesan kepada Rendra.

Raina: Bang, aku dapat tawaran kerja di Jepang.

Rendra baru membalas hampir satu jam kemudian.

Rendra: Jepang negara Jepang?

Raina: Kalian kenapa sama-sama nanya begitu?

Rendra: Karena jauh banget.

Rendra: Pekerjaannya bagus?

Raina: Harusnya bagus sih, Bang. Perusahaan global. Tim data regional. Lebih banyak belajar.

Rendra: Kamu mau?

Raina: Mau.

Balasan Rendra datang cepat.

Rendra: Ambil.

Raina menatap layar.

Raina: Bapak gimana?

Rendra: Pasti nggak tenang.

Rendra: Kali ini bukan cuma nggak tenang. Mungkin takut banget.

Raina: Itu yang bikin aku ragu.

Rendra: Kamu ragu pekerjaannya atau ragu meninggalkan Bapak?

Raina tidak langsung menjawab.

Raina: Yang kedua.

Rendra: Berarti pekerjaannya bukan masalah.

Beberapa saat kemudian, ia menambahkan:

Kasih tahu langsung. Jangan dari chat.

Raina: Aku tahu.

Rendra: Dan jangan bilang “boleh nggak”.

Raina menatap pesan itu.

Bahkan Rendra tahu kebiasaan lamanya.

Malamnya, Renata menelepon.

Raina sedang berada di kamar kos, duduk di kasur dengan jurnal Raina I di sampingnya. Laptop terbuka di meja. Email penawaran itu masih menunggu.

“Tokyo?” kata Renata begitu panggilan tersambung.

“Tokyo.”

“Bahasa kerjanya?”

“Inggris. Ada kelas Jepang juga.”

“Visa?”

“Diurus perusahaan.”

“Tempat tinggal?”

“Dikasih sementara dua bulan. Setelah itu dibantu cari.”

“Gajinya?”

Raina menyebutkan jumlahnya.

Renata terdiam beberapa detik.

“Bagus.”

“Iya.”

“Jauh.”

“Iya.”

“Lebih jauh dari aku.”

“Iya.”

Renata menarik napas. “Kamu tetap mau?”

Raina memandang jurnal di sampingnya.

“Mau.”

“Karena Jepang?”

“Bukan cuma karena Jepang. Pekerjaannya memang bagus. Tapi...” Ia tersenyum kecil. “Ya, karena Jepang juga.”

“Kamu dari dulu memang mau ke sana.”

“Aku bahkan pernah belajar hiragana dua minggu.”

“Lalu berhenti.”

“Karena kerjaan.”

“Alasan.”

Raina tertawa kecil.

Tawanya segera hilang ketika melihat email itu lagi.

“Aku nggak tahu cara bilang ke Bapak.”

“Pake mulut.”

“Kak.”

“Oke.”

Renata diam sejenak.

“Rain, kamu tidak sedang pergi liburan. Kamu akan pindah negara. Bapak pasti akan takut. Aku juga takut.”

Raina menunduk.

“Terus?”

“Terus takut kita bukan keputusanmu.”

“Aku tetap harus pertimbangkan keluarga.”

“Tentu.”

“Aku nggak mau Bapak sendirian.”

“Kita semua nggak mau.”

“Kalau ada apa-apa, aku paling jauh.”

“Belum tentu paling jauh secara waktu. Dari Singapura aku lebih dekat, tapi tetap perlu pesawat. Rendra juga di laut. Kita cari sistem.”

“Sistem kedengarannya dingin.”

“Lebih baik sistem yang jelas daripada kamu membatalkan hidup lalu diam-diam marah pada kami.”

Raina memegang ujung selimut.

“Aku memang sudah pernah sedikit marah.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku pergi ke Jepang, rumah benar-benar kosong, Kak.”

“Rumah sudah kosong sejak Ibu pergi,” kata Renata pelan. “Kehadiranmu membantu. Tapi kamu tidak bisa menggantikan Ibu.”

Kalimat itu menusuk sekaligus melegakan.

Raina mengusap matanya.

“Aku takut Bapak merasa aku meninggalkan dia.”

“Bilang kamu pergi, bukan meninggalkan.”

“Kalau dia tetap merasa begitu?”

“Perasaannya boleh ada. Tapi tidak harus menjadi larangan.”

Raina memandang jurnal Bapak.

“Aku takut nanti aku bicara seperti sedang presentasi alasan aku pantas pergi.”

“Jangan presentasi.”

“Terus?”

“Beri tahu keputusanmu. Jelaskan hal penting. Dengarkan kekhawatirannya. Tapi jangan menyerahkan keputusanmu supaya rasa takut rumah yang menentukan.”

“Aku masih merasa perlu minta izin.”

“Kalau refleks bilang ‘boleh nggak’, berhenti. Ulangi.”

Raina tersenyum tipis.

“Kakak enak ngomong karena sudah duluan pergi.”

“Iya,” kata Renata jujur. “Aku memang lebih enak ngomong. Makanya aku akan lebih sering pulang kalau kamu berangkat.”

Raina terdiam.

“Kak.”

“Hm?”

“Kamu nggak harus—”

“Aku tahu. Tapi kita membagi. Bukan mengganti satu anak dekat dengan anak lain. Membagi.”

Setelah telepon berakhir, Raina membuka email itu lagi.

Jepang tetap ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengecil. Menunggu ia memutuskan apakah mimpi akan tetap menjadi sesuatu yang aman karena tidak pernah dicoba.

Dua hari berikutnya, ia belum menjawab. Ia menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Menunggu Bapak terlihat tidak terlalu lelah. Menunggu dirinya tidak terlalu takut. Menunggu kalimat-kalimatnya sempurna.

Pada Kamis sore, ia sadar ia sedang menunggu izin dari waktu. Maka ia menutup laptop pukul enam, lalu berangkat ke Japos. Dalam perjalanan, hujan turun. Titik-titik air menempel pada kaca mobil. Lampu jalan memanjang di permukaan yang basah. Raina memandang kota Jakarta lewat jendela dan mencoba membayangkan seperti apa rasanya melihat Tokyo dari kendaraan lain. Huruf-huruf yang belum lancar ia baca. Musim yang berbeda. Apartemen kecil. Stasiun yang sibuk. Hari pertama bekerja dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya.

Dadanya berdebar.

Separuh takut.

Separuh ingin segera berangkat.

Ia membuka chat Bapak.

Raina: Aku pulang malam ini, Pak.

Bapak membalas:

Makan di rumah?

Raina: Iya.

Raina menambahkan:

Mau sayur bening dan telur dadar.

Bapak: Bayam jangan terlalu matang.

Raina tersenyum.

Ketika sampai, lampu teras sudah menyala. Bapak membuka pagar sambil membawa payung hitam. Ia berjalan mendekat dan memayungi Raina, meskipun gerimis hampir berhenti.

“Bawa tas banyak?”

“Cuma laptop.”

Bapak mengambil tas itu.

“Aku bisa.”

“Bapak tahu.”

Mereka masuk ke rumah. Di meja makan sudah ada sayur bening, telur dadar tebal, dan timun kupas. Dua porsi nasi. Dua gelas air. Kursi Ibu kosong.

Raina duduk.

Bapak mengambil nasi untuknya.

Mereka makan sambil membicarakan hal-hal biasa. Macet. Atap gudang. Harga sayur. Pesan Renata yang mengingatkan Bapak minum obat. Rendra yang sinyalnya hilang dua hari. Semua percakapan kecil itu terasa seperti pagar terakhir sebelum sesuatu berubah.

Ketika piringnya hampir kosong, Raina meletakkan sendok.

“Pak.”

“Hm?”

“Aku dapat tawaran kerja baru.”

Bapak mengangkat wajah.

“Perusahaan apa?”

Raina menyebutkan namanya.

“Posisi?”

“Data Analyst. Tim regional.”

“Di mana?”

Raina menarik napas.

“Tokyo.”

Gerakan tangan Bapak berhenti.

Tidak hanya sebentar.

Sendoknya tetap berada di udara sebelum perlahan diturunkan ke piring.

“Tokyo?”

“Jepang.”

Bapak menatap Raina seolah perlu memastikan tidak ada bagian kalimat yang salah dengar.

Lihat selengkapnya