Gagasan membuat kue sus muncul dari Raina. Ia mengatakannya pada Sabtu pagi, beberapa minggu sebelum keberangkatannya ke Jepang, ketika ketiga bersaudara kebetulan lengkap berada di rumah pada waktu yang sama.
Renata datang dari Singapura dua malam sebelumnya. Rendra sedang mendapat jeda singkat dari pekerjaannya. Raina membawa sebagian barang dari kos untuk mulai memilah mana yang akan ikut dibawa, mana yang akan ditinggal, dan mana yang sebenarnya sudah bertahun-tahun tidak ia gunakan tetapi tetap sulit dibuang.
Rumah Japos kembali ramai. Tidak seramai dulu. Tetapi cukup untuk membuat dua kamar terisi, dua koper terbuka di lorong, tiga charger mencari stopkontak, dan meja makan dipenuhi benda-benda yang tidak ada hubungannya dengan makanan.
Pagi itu, Raina sedang duduk di lantai ruang tengah bersama dua tumpuk dokumen ketika pandangannya jatuh pada jurnal Lestari I yang tersimpan di rak kecil.
Ia mengambilnya.
Membuka halaman pertama.
Lalu membaca keras-keras, meskipun semua orang sudah pernah mendengarnya.
“Bertemu Lestari di acara arisan kantor Pak Darto. Lestari membawa kue sus. Krimnya tidak terlalu manis.”
Di meja makan, Bapak sedang memeriksa salinan dokumen visa Raina. Tanpa mengangkat wajah, ia berkata, “Harusnya vla sepertinya.”
Raina menoleh. “Apa?”
“Bukan krim. Vla.”
Rendra yang sedang memperbaiki roda koper mendengus. “Pak, inti catatannya bukan terminologi isi kue. Lagian kan ini Bapak yang nulis.”
“Kalau salah, ya salah.”
Renata keluar dari kamar sambil mengikat rambut. “Kita buat saja.”
Semua orang menoleh padanya.
Renata berhenti di dekat meja makan. “Apa?”
“Buat apa?” tanya Rendra.
“Kue sus.”
Raina langsung mengangguk. “Aku mau.”
Bapak akhirnya mengangkat wajah dari dokumen.
“Beli lebih mudah.”
“Itu bukan poinnya,” kata Raina.
“Poinnya makan kue sus.”
“Pak,” ujar Renata, “kita mau buat resep Ibu.”
Bapak memandang mereka bertiga bergantian, lalu kembali menunduk pada dokumen.
“Kalau gagal, jangan buang bahan.”
Itu bukan izin.
Namun di rumah mereka, kalimat seperti itu cukup dekat dengan persetujuan.
Buku resep Ibu ditemukan di rak dapur paling bawah. Sampulnya sudah lunak karena terlalu sering dibuka. Beberapa halaman terlepas dari jilid dan diselipkan kembali tanpa urutan jelas. Ada noda minyak, bekas tepung, lingkaran air, dan tulisan tangan Ibu yang kadang rapi, kadang terburu-buru.
Renata membawa buku itu ke meja makan dengan kedua tangan, seolah sedang membawa dokumen keluarga yang lebih penting daripada semua kontrak kerja dan formulir visa di meja.
Mereka menemukan resep kue sus di antara resep bolu kukus dan nastar.
Tulisan di bagian atas:
KUE SUS — jangan buka oven sebelum mengembang.
Di bawahnya terdapat daftar bahan.
Air.
Margarin.
Tepung.
Telur.
Garam.
Jumlahnya cukup jelas sampai bagian telur.
3–4 butir, lihat adonan.
Renata membaca kalimat itu dua kali.
“Lihat adonan gimana maksudnya?”
Rendra mengambil buku dari tangannya. “Ya dilihat.”
“Aku bisa baca ya, Ren.”
“Sambil ditambahin sambil dilihat?.”
“Maksud Ibu konsistensinya kali ya?”
Raina mendekatkan wajah ke halaman. “Mungkin ada keterangannya.”
Tidak ada.
Di bagian vla, resepnya bahkan lebih buruk.
Susu secukupnya. Gula jangan terlalu manis. Maizena sampai pas. Vanili sedikit.
Renata menatap halaman itu dengan ekspresi terhina.
“Ini bukan resep.”
“Ini peta buta,” kata Rendra.
“Maizena sampai pas itu berapa?”
“Ya sampai pas.”
“Diam.”
Raina tertawa.
Bapak berdiri di dekat wastafel, mencuci cangkir kopinya.
Tanpa menoleh, ia berkata, “Ibu tidak biasa pakai takaran kalau buat sedikit.”
Renata menoleh cepat. “Bapak tahu?”
“Melihat.”
“Berapa banyak susunya?”
“Tidak tahu.”
“Maizenanya?”
“Tidak tahu.”
“Telurnya?”
Bapak mematikan keran.
“Adonannya harus jatuh pelan dari spatula.”
Ketiga anaknya diam.
Rendra menunjuk Bapak. “Nah.”
Bapak mengambil lap dan mengeringkan cangkir.
“Apa?”
“Bapak tahu.”
“Sedikit.”
“Kenapa dari tadi diam?” tanya Raina.
“Tidak ditanya.”
Renata menutup mata sebentar seperti sedang meminta kesabaran.
Mereka membagi tugas. Renata mengambil alih timbangan digital dan bahan-bahan. Ia menimbang semuanya dengan ketelitian yang membuat Rendra berkata bahwa mereka sedang membuat kue, bukan bahan bakar roket. Rendra bertugas di kompor karena menurutnya ia paling mengerti panas.
“Api kompor dan ruang mesin itu beda,” kata Renata.
“Prinsipnya sama.”
“Tidak sama.”
“Panas adalah panas.”
“Kalau gosong, kamu yang makan.”
“Baik.”
Raina membaca resep, menyiapkan loyang, dan mencari plastik segitiga yang biasa dipakai Ibu. Setelah mengobrak-abrik dua laci, ia menemukan satu bungkus plastik lama yang masih tersisa.
Bapak duduk di meja makan dengan koran. Ia tidak membaca. Setiap beberapa menit, matanya berpindah dari koran ke kompor, lalu kembali lagi.
Renata memasukkan air dan margarin ke panci.
Rendra menyalakan api.
“Api sedang,” kata Renata.
“Ini sedang.”
“Itu besar.”
“Belum.”
“Rendra.”
“Renata.”
Raina berdiri di antara mereka sambil memegang buku resep.
“Kalau kalian mulai berantem sebelum tepung masuk, aku pulang ke kos.”
Dari meja makan, Bapak berkata, “Api kecilkan sedikit.”
Rendra langsung mengecilkan.
Renata memandang adiknya dengan tidak percaya. “Aku bilang dari tadi.”
“Bapak bilang sedikit. Kamu bilang besar.”
“Itu sama.”
“Beda nada.”
Margarin meleleh. Air mendidih. Tepung dimasukkan sekaligus. Rendra mengaduk dengan spatula kayu. Adonan menggumpal, lalu perlahan terlepas dari sisi panci.
“Sudah kalis?” tanya Raina.
“Sepertinya.”
Renata melihat. “Belum.”
“Menurut apa?”
“Masih terlalu basah.”
“Di resep tidak ada durasi.”
“Karena Ibu tidak menulis resep dengan benar.”
Bapak menurunkan koran sedikit.
“Ibu menulis untuk dirinya sendiri.”
Renata berhenti.
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat dapur sedikit lebih sunyi. Buku resep itu memang bukan dibuat untuk diwariskan. Ibu tidak pernah menulisnya dengan bayangan suatu hari anak-anaknya akan berdiri kebingungan di dapur, berusaha menafsirkan kata secukupnya seperti petunjuk terakhir yang ditinggalkan.
Raina melihat halaman bernoda minyak.
“Ibu pikir dia akan selalu ada buat ditanya,” katanya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Rendra terus mengaduk. Setelah adonan dianggap cukup matang, mereka memindahkannya ke mangkuk besar. Renata mengingatkan agar tidak langsung memasukkan telur karena adonan masih panas.
Rendra mengipas-ngipas mangkuk dengan tutup panci.
Raina tertawa. “Itu membantu?”
“Angin adalah angin.”
Renata menatap langit-langit.
Ketika adonan cukup hangat, telur dimasukkan satu per satu.
Telur pertama.
Aduk.
Telur kedua.
Aduk.
Telur ketiga.
Adonan masih terasa terlalu kental.
“Tambah satu,” kata Rendra.
Renata mengangkat telur keempat. “Telurnya besar.”
“Resep bilang tiga sampai empat.”
“Lihat adonan,” kata Raina, meniru tulisan Ibu.
Mereka bertiga memandang adonan.
Adonan tidak memberi jawaban.
Bapak menurunkan korannya lagi.
“Coba ambil dengan spatula.”
Renata mengangkat sebagian adonan.
Adonan jatuh sangat lambat, hampir tidak bergerak.
“Tambah setengah telur,” kata Bapak.
“Setengah telur?” tanya Rendra.
“Kocok satu. Masukkan setengah.”
Renata memandang Bapak dengan curiga. “Bapak sebenarnya pernah buat?”
“Tidak.”
“Tapi tahu.”
“Pernah lihat Ibu.”
Raina mengambil mangkuk kecil untuk mengocok telur.
Mereka memasukkan setengahnya.
Adonan menjadi lebih halus.
Renata mengangkat spatula lagi. Kali ini adonan jatuh membentuk ujung seperti pita tebal.
Bapak mengangguk sekali.
“Begitu.”
Tidak ada yang mengomentari bahwa ia tahu terlalu banyak untuk seseorang yang mengaku hanya melihat.
Adonan dimasukkan ke plastik segitiga.
Rendra mengambil alih tugas mencetak.
“Kenapa kamu?” tanya Renata.
“Tanganku lebih kuat.”
“Ini bukan lomba meremas.”
“Bentuknya harus besar.”
“Jangan terlalu besar.”
Sus pertama keluar miring.
Sus kedua terlalu panjang.
Sus ketiga berbentuk sesuatu yang membuat Raina berhenti bekerja untuk tertawa.