Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #28

Halaman Terakhir yang Belum Terakhir

Pagi setelah membuat kue sus, rumah masih berbau margarin dan vanili. Aroma itu tertinggal di dapur, menempel pada lap, loyang, dan udara yang bergerak pelan dari jendela. Di atas meja makan masih ada satu wadah berisi kue sus yang bentuknya tidak seragam. Bapak sudah memindahkan bagian yang gosong ke piring terpisah, tetapi piring itu kini kosong. Tidak ada yang bertanya siapa yang menghabiskannya.

Renata duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Ia sedang memindai beberapa halaman buku resep Ibu agar Raina bisa membawanya ke Jepang tanpa mengambil buku aslinya. Rendra berdiri di dekat kulkas, memakan kue sus langsung dari wadah meskipun Renata sudah menyuruhnya menggunakan piring. Raina mondar-mandir antara kamar dan ruang tengah, memilah dokumen yang harus dibawa untuk pengurusan visa. Bapak berada di teras, menyapu daun mangga.

Rumah terasa ramai oleh pekerjaan kecil. Bukan pekerjaan yang mendesak. Bukan sesuatu yang harus selesai hari itu. Namun semua orang seperti membutuhkan alasan untuk bergerak sebelum kembali ke tempat masing-masing.

“Pak, katanya kartu keluarga lama ada di lemari kamar,” kata Raina sambil membawa map bening. “Tapi di situ cuma ada tagihan rumah sakit.”

Renata tetap menatap layar. “Coba lemari bawah.”

“Sudah.”

“Yang sebelah kanan?”

“Sudah.”

Rendra mengambil satu kue lagi.

“Di meja kerja Bapak mungkin.”

“Bapak nggak punya meja kerja,” kata Raina.

“Meja yang ada kalkulatornya.”

“Itu meja makan.”

“Semua meja buat Bapak adalah meja kerja.”

Renata menahan senyum.

Raina masuk ke kamar utama lagi.

Kamar itu sudah lebih sering dibuka sekarang. Bapak mulai tidur di sana beberapa malam dalam seminggu, meskipun kadang Raina masih menemukannya tertidur di sofa. Baju-baju Ibu tetap berada di lemari. Scarf krem tetap terlipat di kursi kecil. Gelas Ibu sudah dipindahkan dari meja, tetapi bekas lingkarannya masih ada di permukaan kayu.

Raina membuka lemari bagian bawah. Di sana terdapat beberapa map rumah sakit, amplop hasil pemeriksaan, kuitansi apotek, dan salinan resep dokter. Sebagian sudah diurutkan berdasarkan tanggal dengan tulisan kecil Bapak di sudut kanan atas.

Raina mengeluarkan satu tumpuk. Di bagian belakangnya, terselip sebuah folder plastik transparan yang lebih tebal daripada map lainnya. Tidak ada logo rumah sakit. Tidak ada label nama dokter. Hanya satu kertas putih di bagian depan dengan tulisan tangan Bapak.

Lestari — 2024–2026

Raina berhenti.

Folder itu tidak tampak seperti jurnal-jurnal yang mereka temukan sebelumnya. Tidak memiliki sampul keras atau punggung yang dijilid. Isinya berupa lembaran berbeda-beda yang dijepit menjadi satu. Ada kertas bergaris, halaman agenda, kertas putih biasa, belakang fotokopi hasil laboratorium, dan beberapa lembar yang tampaknya diambil dari buku catatan kecil.

Belum dijilid.

Mungkin karena Bapak belum merasa jumlahnya cukup.

Atau karena bagian hidup yang dicatat di sana belum pernah ia anggap selesai.

“Kak,” panggil Raina.

Renata mendengar dari ruang makan. “Apa?”

“Sini bentar.”

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Renata langsung menutup laptop.

Rendra ikut masuk, masih memegang setengah kue sus.

Mereka bertiga berdiri di kamar utama, mengelilingi folder plastik di tangan Raina.

“Apa itu?” tanya Rendra.

Raina memperlihatkan labelnya.

Renata langsung mengenali tulisan Bapak.

“Jurnal lagi?”

“Kayaknya.”

Rendra mengambil folder itu, lalu membukanya sedikit.

Halaman pertama bukan tentang kelahiran atau kenangan masa lalu.

Di bagian atas, tertulis tanggal sekitar dua tahun sebelumnya.

Di bawahnya ada daftar singkat.

Obat pagi: 3.

Obat malam: 2.

Mual setelah makan siang.

Makan: 6 sendok nasi, setengah telur.

Tidur siang 40 menit.

Kontrol berikutnya: Kamis, 09.30.

Rendra mengerutkan kening.

“Ini catatan pengobatan.”

Renata mengambil folder tersebut.

Ia membalik halaman berikutnya.

Berat turun 0,8 kg. Dokter menyarankan makanan porsi kecil, lebih sering. Ibu bilang tidak lapar. Dibuatkan bubur. Makan 5 sendok.

Halaman lain:

Batuk mulai pukul 02.10. Reda 02.35. Air hangat. Obat sesuai resep. Tidak demam. Ibu tidur lagi pukul 03.20.

Renata menatap lembaran-lembaran itu.

“Ini yang selalu Bapak bawa waktu kontrol.”

Raina mengangguk pelan.

Ia ingat agenda Bapak. Catatan gejala. Jam obat. Semua yang dulu membuat rumah terasa seperti tempat perawatan. Namun folder ini lebih tebal daripada yang mereka lihat waktu itu. Dan sebagian besar belum pernah ditunjukkan kepada mereka.

“Kita harus tanya Bapak dulu,” kata Renata.

Rendra memasukkan sisa kue ke mulut dan mengangguk.

Mereka membawa folder itu ke ruang tengah.

Bapak baru saja selesai menyapu. Ia berdiri di teras, mengetukkan ujung sapu ke lantai agar daun yang menempel terlepas.

“Pak,” panggil Raina.

Bapak menoleh.

Raina mengangkat folder plastik itu.

Gerakan Bapak berhenti.

Ia tidak langsung bertanya dari mana mereka mendapatkannya. Matanya hanya tertuju pada tulisan Lestari — 2024–2026 di bagian depan.

“Kami nemu ini di lemari,” kata Raina.

Bapak meletakkan sapu ke dinding.

“Itu belum dijilid.”

Kalimat pertama yang keluar justru itu.

Rendra menatap folder di tangan Raina.

“Memang rencananya mau dijilid?”

Bapak masuk ke ruang tengah tanpa menjawab.

Ia duduk di kursi plastik dekat kursi rotan Ibu.

Renata membawa folder tersebut, lalu berdiri di hadapannya.

“Pak, ini jurnal?”

“Catatan.”

“Boleh kami baca?”

Bapak menatap sampul transparan itu lama.

Tidak seperti jurnal anak-anak atau jurnal Lestari yang lebih lama, folder ini tampak membuatnya lebih tidak nyaman. Jurnal-jurnal lama berisi hal-hal yang sudah selesai terjadi. Kelahiran. Sekolah. Kue. Pertengkaran. Anak-anak yang pergi.

Folder ini masih terlalu dekat.

Sebagian tintanya bahkan belum pudar.

“Kalau Bapak tidak mau, nggak apa-apa,” kata Raina.

Bapak mengangkat wajah.

“Itu tentang Ibu.”

“Iya.”

“Dan tentang pengobatannya.”

“Iya.”

Rendra duduk di lantai, bersandar pada sofa. “Tapi ada yang bukan soal obat juga?”

Bapak menatapnya.

Pertanyaan itu cukup menjadi jawaban.

Renata duduk di sofa.

“Kami baca sedikit saja.”

Bapak mengusap lututnya dengan telapak tangan.

Lalu berkata, “Baca saja.”

Raina duduk di karpet.

Bapak tetap di kursi plastik.

Folder itu dibuka di meja kecil, di antara mereka dan kursi rotan Ibu.

Renata membaca halaman pertama dengan suara pelan.

Tanggal-tanggal awal berisi catatan medis, nama dokter, jadwal pemeriksaan, daftar obat, keluhan, makanan, tidur, berat badan, suhu, bahkan tekanan darah. Semua ditulis dengan gaya yang sangat Bapak. Tidak ada satu kata pun yang lebih panjang daripada yang diperlukan.

12 Agustus 2024

Kontrol pertama setelah hasil pemeriksaan lanjutan. Dokter menjelaskan pilihan terapi. Ibu bertanya apakah rambut akan rontok. Dokter bilang mungkin. Di mobil, Ibu diam. Bapak bertanya mau makan apa. Pertanyaan salah. Seharusnya bertanya takut atau tidak.

Renata berhenti membaca.

Bapak menatap lantai.

Raina menyentuh ujung halaman.

“Waktu itu kami belum tahu,” katanya.

Bapak mengangguk.

“Kami tahu Ibu periksa, tapi belum tahu hasilnya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Bapak tidak menjawab.

Renata melanjutkan.

15 Agustus 2024

Ibu minta anak-anak belum diberi tahu. Katanya Renata sedang banyak kerja, Rendra sedang di laut, Raina baru mulai proyek baru. Ibu bilang tunggu sampai ada rencana terapi yang jelas. Bapak setuju. Tidak tahu keputusan itu benar atau tidak.

Rendra mengangkat wajah.

“Ibu yang minta?”

“Iya,” jawab Bapak.

“Tapi Bapak setuju.”

“Iya.”

Tidak ada pembelaan.

Hanya pengakuan.

Renata membalik halaman.

21 Agustus 2024

Obat pagi diminum. Mual pukul 10.20. Tidur sampai 12.05. Tidak mau makan nasi. Makan dua biskuit dan teh. Renata video call malam. Ibu memakai bedak sebelum mengangkat. Renata tidak melihat wajah pucat. Setelah telepon selesai, Ibu muntah.

Renata menutup mulutnya. Ia ingat panggilan itu. Ibu duduk di kursi rotan. Wajahnya memang tampak sedikit pucat, tetapi Ibu berkata hanya kurang tidur. Renata saat itu sedang terburu-buru karena harus masuk rapat. Panggilan berlangsung mungkin tujuh menit.

Ia ingat berkata, “Bu, nanti aku telepon lagi.”

Entah apakah ia benar-benar menelepon lagi malam itu.

“Kak,” panggil Raina pelan.

Renata menggeleng, meminta waktu. Ia tidak ingin langsung tenggelam dalam rasa bersalah. Jurnal itu bukan daftar kesalahan anak-anak. Bukan itu tujuan Bapak menulisnya. Tetapi mengetahui apa yang terjadi setelah layar padam tetap melukai.

Rendra mengambil alih membaca.

3 September 2024

Rendra telepon 4 menit. Sinyal buruk. Ibu bilang suara Rendra cukup. Setelah telepon, makan setengah mangkuk bubur. Catatan: kalau anak-anak telepon, makan lebih baik.

Rendra membaca kalimat itu dua kali.

“Kenapa tidak bilang kalau telepon bikin Ibu makan?”

Bapak menatapnya. “Nanti kamu merasa harus telepon.”

“Aku memang seharusnya telepon.”

“Bukan begitu.”

“Terus?”

Bapak tidak langsung menjawab.

“Nanti teleponnya karena takut,” katanya.

Rendra menatap halaman. Kalimat itu mengingatkannya pada alasan Ibu memanggil mereka pulang. Karena rindu, bukan karena keadaan darurat. Namun sekarang, Rendra mulai melihat biaya dari keputusan itu. Ibu menunggu suara mereka. Bapak menunggu mereka menelepon tanpa berani meminta.

Raina membaca halaman berikutnya.

18 Oktober 2024

Raina pulang membawa obat batuk. Tidak tahu Ibu baru muntah sebelum dia datang. Ibu minta jangan bilang. Raina duduk di dapur bekerja sampai malam. Dua kali keluar kamar untuk cek Ibu. Raina kira Ibu tidur. Sebenarnya Ibu menahan mual supaya tidak mengganggu.

Lihat selengkapnya