Rumah Japos tidak kembali seperti semula. Tidak ada pagi ketika mereka bangun dan tiba-tiba mendengar Ibu mengaduk teh di dapur. Tidak ada siang ketika kursi rotan itu kembali terisi. Tidak ada malam ketika suara televisi bercampur dengan keluhan Ibu tentang anak-anak yang pulang terlalu larut.
Rumah itu tetap kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti. Namun perlahan, rumah mulai memiliki irama baru. Bukan irama yang sama. Bukan pula irama yang lebih baik. Hanya irama yang cukup untuk membuat hari-hari tidak seluruhnya berbentuk ruang kosong.
Renata seharusnya kembali ke Singapura pada Minggu malam. Tiketnya sudah dipesan. Koper kecilnya sudah hampir selesai dibereskan. Laptop kantor terletak di meja makan bersama charger, paspor, dan jurnal-jurnal yang akan dibawanya kembali. Namun pada Sabtu pagi, ia menerima pesan dari atasannya. Pekerjaan minggu berikutnya bisa dilakukan dari jarak jauh. Rapat penting dipindahkan menjadi daring. Presentasi yang semula harus dihadiri langsung ternyata dapat diwakili anggota tim lain.
Renata membaca pesan itu dua kali.
Lalu membuka aplikasi penerbangan.
Ia duduk cukup lama sebelum akhirnya memindahkan tiketnya satu minggu.
Tidak ada yang memintanya.
Bapak bahkan tidak tahu jadwal penerbangannya secara lengkap selain hari kepulangan. Raina sedang keluar mengurus pemeriksaan kesehatan untuk dokumen Jepang. Rendra kembali bekerja dua hari sebelumnya.
Renata mengubah tiket tanpa rapat keluarga. Tanpa menghitung apakah tindakannya akan membuat orang lain senang. Tanpa berkata pada dirinya sendiri bahwa ia harus tinggal karena Bapak sendirian. Ia hanya ingin tinggal sedikit lebih lama.
Ketika Bapak pulang dari pasar, ia menemukan Renata masih duduk di meja makan dengan laptop terbuka.
“Kamu belum berkemas?” tanya Bapak.
“Sudah.”
“Besok berangkat?”
“Nggak jadi.”
Bapak berhenti mengeluarkan sayuran dari kantong.
“Kenapa?”
“Aku mundurkan seminggu.”
“Kerjaanmu?”
“Dari rumah.”
Bapak menatapnya.
Renata menunggu.
Dulu, mungkin ia akan menambahkan alasan panjang. Menjelaskan bahwa pekerjaannya aman, atasannya mengizinkan, tiket bisa diubah tanpa biaya besar, jaringan internet di rumah cukup stabil, dan keberadaannya tidak akan mengganggu siapa pun.
Namun kali ini, ia hanya berkata, “Aku mau tinggal sedikit lebih lama.”
Bapak masih memegang satu ikat kangkung.
“Oh.”
Renata hampir tertawa.
“Oh doang?”
“Mau jawab apa?”
“Misalnya senang gitu.”
Bapak menaruh kangkung di meja dapur.
“Bapak senang.”
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang baru selesai dilatih.
Tidak sepenuhnya alami.
Tetapi sampai.
Renata tersenyum. “Bagus.”
Bapak melanjutkan menyimpan belanjaan.
Beberapa menit kemudian, tanpa menoleh, ia berkata, “Kalau kerja dari sini, meja makan jangan penuh terus.”
Renata menghela napas.
“Iya, Pak.”
Bapak tetap sama.
Namun hari itu, ia memasak nasi sedikit lebih banyak.
Renata tidak mengatakan bahwa ia melihatnya.
Selama seminggu berikutnya, ia bekerja dari rumah Japos. Pagi-pagi, ia membuka laptop di meja makan setelah sarapan. Ketika rapat dimulai, ia memakai headset agar suara rekan kerjanya tidak memenuhi rumah. Bapak bergerak di belakang layar dengan langkah pelan, kadang lewat membawa sapu, kadang memindahkan jemuran, kadang berdiri terlalu lama di dekat kulkas karena lupa hendak mengambil apa.
Pada hari kedua, salah satu rekan Renata bertanya melalui video call, “Kamu kerja dari rumah orang tua?”
Renata melihat latar belakangnya.
Dinding rumah lama. Lemari kecil. Sebagian bingkai foto keluarga. Ujung kursi rotan yang terlihat di sisi layar.
“Iya,” jawabnya.
“Nyaman?”
Renata berhenti sebentar.
“Sekarang, iya.”
Jawaban itu mengejutkannya sendiri.
Rumah masih membuatnya sedih. Masih ada saat ketika ia mendengar suara dari dapur dan tubuhnya refleks mengira Ibu. Masih ada saat ketika Bapak mengucapkan kalimat dengan nada salah dan luka lama kembali menegang.
Namun rumah tidak lagi terasa seperti tempat Renata harus datang membawa pembelaan. Ia bisa bekerja di sana. Menangis sebentar di kamar mandi. Keluar dan makan siang. Membantu Bapak memotong sayur. Menelepon kantornya. Lalu duduk di teras tanpa harus menjelaskan mengapa ia belum pulang bersama siapa pun.
Pada malam kelima, Renata membuka kalender di ponselnya. Ia mulai menandai beberapa akhir pekan dalam tiga bulan ke depan. Satu kunjungan bulan depan. Satu setelah Raina berangkat ke Jepang. Satu lagi mendekati ulang tahun Ibu. Ia hampir mengirim tangkapan layar ke grup keluarga, lalu berhenti. Jadwal itu tampak terlalu seperti pekerjaan. Terlalu Renata.
Ia menghapus beberapa warna dan hanya menulis:
Aku akan usahakan pulang sebulan sekali beberapa bulan ke depan. Kalau kerja memungkinkan.
Raina membalas paling cepat.
Raina: Kak, jangan karena merasa harus.
Renata tersenyum.
Dulu, Raina mungkin akan langsung berkata terima kasih. Sekarang adiknya mengingatkan batas.
Renata: Bukan karena harus. Aku memang mau.
Rendra membalas:
Dicatat. Tapi jangan ambil semua jadwal.
Beberapa menit kemudian, Bapak menulis:
Tidak perlu setiap bulan kalau pekerjaan banyak.
Renata membaca pesannya.
Tidak perlu.
Bukan jangan.
Bukan pulanglah.
Bukan rumah sepi.
Hanya izin untuk tidak menjadikan kasih sayang sebagai kewajiban yang kaku.
Renata membalas:
Iya, Pak. Aku atur.
Bapak: Kabari sebelum beli tiket.
Raina: Supaya Bapak bisa beli kangkung lebih banyak.
Tidak ada balasan dari Bapak.
Namun malam itu, ketika Renata ke dapur, ia menemukan daftar belanja baru di meja.
Di bagian paling bawah, tertulis:
Kopi Renata.
Rendra mengambil cuti berikutnya dengan cara yang berbeda. Selama ini, ia menggunakan cuti ketika ada kebutuhan. Acara keluarga. Keadaan mendesak. Jadwal yang kebetulan memungkinkan. Atau karena Ibu memintanya pulang berulang kali sampai ia tidak punya alasan lagi untuk menunda. Kali ini tidak ada keadaan darurat. Tidak ada pesan mendadak. Tidak ada rumah sakit. Ia membuka jadwal rotasi, menghitung hari, lalu mengajukan cuti tiga hari tanpa menunggu siapa pun menyuruh.
Supervisornya melihat formulir itu.
“Ada acara keluarga?”
“Nggak.”
“Urusan rumah?”
Rendra berpikir sebentar.
“Lagi pengen pulang aja.”
Supervisornya mengangkat alis.
Rendra hampir menarik kembali permintaannya, merasa alasan itu terlalu kecil. Namun kemudian ia ingat rumah tidak harus hampir kehilangan seseorang dulu sebelum layak didatangi.
“Sudah lama nggak ambil cuti buat benar-benar istirahat,” tambahnya.
Supervisornya mengangguk dan menandatangani.
Ketika memberi tahu grup keluarga, Rendra menulis:
Aku pulang tanggal 14. Tiga malam.
Raina: Ada apa?
Rendra: Nggak ada apa-apa.
Renata: Kamu sakit?
Rendra: Kalian menyebalkan.
Bapak baru membalas beberapa menit kemudian.
Bapak: Mau makan apa?
Rendra menatap pesan itu cukup lama.
Ia mengetik:
Ayam kecap.
Bapak: Iya.
Tidak ada yang bertanya lagi mengapa ia pulang.
Saat tiba, kamar lamanya sudah dibuka. Kipas yang pernah diperbaiki bersama Bapak menyala pelan. Seprai baru terpasang. Handuk diletakkan di ujung tempat tidur. Di meja kecil, ada satu wadah kering tempe. Tidak ada catatan. Tidak perlu. Rendra tidak menghabiskan kepulangannya untuk memperbaiki sesuatu.
Itu terasa aneh.
Hari pertama, ia hanya tidur sampai siang. Bapak tidak membangunkan. Ketika akhirnya keluar kamar dengan rambut berantakan, nasi dan ayam kecap sudah tersedia di meja.
“Kok nggak dibangunin?” tanyanya.
“Katanya cuti.”
“Biasanya Bapak bilang tidur siang terlalu lama bikin malam nggak bisa tidur.”
“Masih benar.”
“Terus?”
Bapak mengangkat bahu kecil. “Sekali-sekali.”
Rendra makan dua porsi.
Sore harinya, mereka duduk di teras. Tidak ada lampu yang perlu diperbaiki. Tidak ada kipas yang perlu dibongkar. Tidak ada pertanyaan besar tentang masa kecil.
Bapak mengupas jeruk.
Rendra melihat jalan.
“Pak.”
“Hm?”
“Cuti berikutnya mungkin aku ambil dua bulan lagi.”
Bapak tidak langsung menatapnya.
“Kerjaanmu?”
“Bisa diatur.”
“Tidak perlu terlalu sering kalau susah.”
“Nggak susah.”
“Biaya perjalanannya mahal.”
“Aman, Pak.”
Bapak mengangguk.
Rendra menunggu.
Akhirnya Bapak berkata, “Bagus.”
Satu kata.