Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #30

Pagi yang Hampir Biasa

Pagi itu, rumah Japos bangun sebelum semua orang selesai tidur. Air mengalir dari keran belakang. Sapu lidi menyentuh halaman dengan irama yang pelan. Pintu kulkas dibuka, lalu ditutup. Ada suara sendok beradu dengan gelas, kompor menyala, dan satu tutup panci yang diletakkan sedikit terlalu keras. Tidak ada yang luar biasa. Justru itu yang membuat pagi tersebut terasa berbeda.

Renata bangun karena aroma kopi. Bukan alarm. Bukan pesan kantor. Bukan suara koper diseret atau ketukan di pintu kamar. Hanya aroma kopi yang menyelinap melalui celah pintu dan membuat kamar lamanya terasa kembali seperti kamar, bukan tempat sementara untuk seseorang yang akan segera pergi lagi.

Ia membuka mata.

Cahaya masuk dari jendela yang gordennya belum tertutup sempurna. Di kursi dekat lemari, pakaian untuk perjalanan kembali ke Singapura sudah dilipat. Koper kecilnya tertutup, tetapi belum dikunci. Jurnal-jurnal bertuliskan namanya berada di atas meja, dibungkus kain agar tidak rusak. Hari itu ia akan berangkat setelah makan siang. Namun pagi belum meminta perpisahan.

Renata duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, lalu keluar kamar tanpa merapikan selimut.

Di lorong, pintu kamar Rendra masih terbuka. Adiknya tidak ada di dalam. Kipas angin yang pernah diperbaiki bersama Bapak masih menyala pelan. Ranjang terlihat berantakan, dengan satu bantal jatuh ke lantai dan selimut menggumpal di ujung.

Renata hampir masuk untuk membereskannya.

Kemudian berhenti.

Membiarkan.

Tidak semua hal harus rapi sebelum bisa dianggap baik.

Dari kamar Raina terdengar suara perempuan mengulang kalimat dalam bahasa Jepang.

“Ohayou gozaimasu.”

Jeda.

“Ohayou... gozaimasu.”

Lalu suara kesal.

“Kenapa susah banget?”

Renata mengetuk pintunya yang terbuka setengah.

Raina duduk di lantai dengan ponsel di depan wajah, rambutnya diikat asal, masih memakai kaus tidur. Di sekelilingnya ada map dokumen, salinan paspor, buku catatan bahasa Jepang, dan dua koper yang baru terisi separuh.

“Kamu ngomong sama siapa?” tanya Renata.

“Aplikasi.”

“Dia marah?”

“Aku yang marah.”

“Kedengarannya hubungan kalian tidak sehat.”

Raina melempar bantal kecil ke arah kakaknya.

Renata menghindar sambil tertawa.

“Sarapan,” katanya.

“Bapak masak?”

“Kayaknya.”

“Bang Rendra mana?”

“Tidak tahu.”

Raina melihat jam. “Jam segini dia sudah bangun?”

“Keajaiban.”

Mereka keluar bersama.

Di ruang tengah, jurnal-jurnal Lestari masih tersusun di rak dekat kursi rotan. Folder transparan berisi catatan masa sakit Ibu berada di sampingnya. Pada meja kecil, ada satu jurnal yang terbuka dengan pulpen diletakkan melintang di atas halaman.

Renata berjalan lebih dekat.

Halaman itu berisi tulisan baru Bapak.

Tidak banyak.

Hanya beberapa baris.

Renata memperpanjang tinggal satu minggu. Rendra pulang tanpa acara. Raina akan berangkat ke Jepang. Anak-anak makan bersama tiga malam. Rumah berisik.

Di bawahnya, ada satu kalimat lagi.

Tidak mengganggu.

Renata tersenyum.

Ia tidak memanggil Raina untuk melihat.

Tidak memotret.

Tidak menyentuh halaman.

Ia hanya mengembalikan pulpen ke posisi semula, lalu mengikuti adiknya ke dapur.

Bapak berdiri di depan kompor.

Ia mengenakan kaus abu-abu lama dan celana rumah. Rambutnya belum disisir rapi. Di atas kompor ada wajan berisi nasi goreng. Di meja, telur ceplok sudah disiapkan di empat piring. Timun kupas tersusun tidak sama besar. Satu cangkir kopi untuk Renata berada dekat ujung meja. Teh untuk Raina masih mengepul.

“Kok nggak bangunin?” tanya Renata.

Bapak mengaduk nasi.

“Sudah bangun kan.”

“Maksudku dari tadi.”

“Tidak perlu.”

“Bapak masak sendiri.”

“Memangnya biasanya sama siapa?”

Renata berhenti.

Kalimat itu tidak dimaksudkan untuk melukai. Wajah Bapak pun tidak berubah. Namun selama sepersekian detik, dapur mengingat orang yang sudah tidak ada.

Bapak mengecilkan api.

Lalu menambahkan, “Rendra bantu potong bawang.”

Renata melihat talenan.

Potongan bawang di sana tidak seragam. Sebagian terlalu besar, sebagian hampir hancur.

“Pantesan.”

Dari halaman belakang, terdengar suara Rendra.

“Aku dengar ya.”

Ia masuk membawa dua pot kecil yang baru disiram. Celana pendeknya sedikit basah di bagian bawah. Rambutnya berantakan.

“Sejak kapan kamu nyiram tanaman?” tanya Renata.

“Sejak Bapak suruh.”

Bapak menggeleng. “Bapak bilang tanahnya kering.”

“Sama aja.” Balas Rendra

“Tidak.”

Raina duduk di meja dan mengambil satu potong timun.

“Pagi-pagi sudah debat definisi.”

Rendra melihat tangannya. “Belum makan sudah ngambil.”

“Ini pembuka.”

“Itu lauk.”

“Timun bukan lauk.”

“Bagi Bapak lauk.”

Bapak mematikan kompor.

“Kalau mau bertengkar, nasi gorengnya keburu dingin.”

Mereka berhenti.

Lalu saling melihat.

Renata tertawa lebih dulu.

Raina ikut.

Rendra mengambil piring dan berkata, “Iyadeh, Pak.”

Mereka duduk di meja makan. Empat orang. Satu kursi tetap kosong. Namun pagi itu, kursi kosong tersebut tidak seperti lubang yang menelan seluruh pandangan. Ia hanya ada. Menjadi bagian dari meja, dari rumah, dari sesuatu yang tidak perlu disangkal agar mereka bisa tetap makan.

Bapak membagi nasi goreng.

Porsi Rendra paling banyak.

“Kenapa dia lebih banyak?” Protes Renata

“Dia yang potong bawang.”

“Aku kerja dari sini seminggu.”

“Itu bukan bantu masak.”

Raina menunjuk telurnya. “Telurku kuningnya pecah.”

Bapak melihat.

“Masih bisa dimakan.”

“Aku suka yang utuh.”

“Yang pecah untuk Bapak.”

Bapak hendak menukar piring, tetapi Raina menarik piringnya kembali.

“Nggak usah.”

“Katanya tidak suka.”

“Aku tetap bisa makan.”

Bapak tidak memaksa. Raina menusuk bagian kuning telur yang sudah pecah, lalu mencampurnya ke nasi. Gerakan itu kecil. Namun Renata melihat sesuatu di dalamnya. Dulu, Bapak akan langsung mengambil bagian yang kurang bagus. Yang gosong. Yang retak. Yang pecah. Seolah cara termudah mencintai adalah memastikan anak-anak tidak mendapat sesuatu yang tidak sempurna. Sekarang, Raina membiarkan bagian yang tidak sempurna tetap berada di piringnya. Dan Bapak membiarkannya.

Mereka makan. Tidak ada yang terburu-buru. Renata memang punya penerbangan siang, tetapi mobil baru datang beberapa jam lagi. Rendra akan kembali bekerja keesokan harinya. Raina masih punya waktu yang cukup lama sebelum keberangkatannya. Pagi tersebut belum menjadi hitung mundur.

“Bahasa Jepangnya bagaimana?” tanya Bapak.

Raina mengunyah dulu sebelum menjawab.

“Masih dasar.”

“Sudah bisa tanya arah?”

“Belum.”

“Pesan makanan?”

“Belum.”

Lihat selengkapnya