Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #31

Senyum di Waktu Tidur

Pagi setelah Renata kembali ke Singapura, rumah tidak bangun pada waktunya. Tidak ada suara sapu di halaman. Tidak ada keran belakang yang dibuka. Tidak ada kompor menyala atau sendok menyentuh gelas.

Pada mulanya, Rendra tidak menyadarinya. Ia tidur lebih lama daripada biasanya karena baru akan kembali berkerja siang nanti. Tasnya sudah hampir selesai dikemas. Tiket tersimpan di ponsel. Pakaian kerja dilipat dalam koper kecil yang diletakkan dekat pintu kamar.

Ketika membuka mata, cahaya matahari sudah mencapai sisi tempat tidurnya. Kipas angin berputar pelan. Rumah terlalu sunyi. Rendra meraih ponsel dari meja kecil. Pukul tujuh lewat empat puluh tiga.

Ada satu pesan dari Renata yang dikirim dini hari.

Renata: Sudah sampai apartemen.

Di bawahnya, balasan Bapak:

Iya. Istirahat.

Pesan itu terkirim pukul dua belas lewat sembilan belas.

Tidak ada pesan baru setelahnya.

Rendra duduk. Biasanya, pada jam segini, Bapak sudah menyapu halaman, minum kopi, memeriksa pagar, atau setidaknya membuat cukup banyak suara untuk memastikan semua orang tahu pagi sudah dimulai. Mungkin Bapak tidur lebih lama.

Malam sebelumnya mereka duduk sampai hampir pukul sebelas, membicarakan hal-hal yang tidak penting. Biaya bagasi Raina. Jadwal keberangkatan Rendra. Renata yang lupa membawa satu wadah kue sus dan baru menyadarinya di bandara.

Bapak tampak lelah.

Namun tidak lebih lelah dari biasanya.

Rendra turun dari tempat tidur dan berjalan ke lorong. Pintu kamar Raina masih tertutup. Adiknya mungkin belum bangun. Ia baru tidur lewat tengah malam karena menyelesaikan formulir relokasi ke Jepang. Pintu kamar utama juga tertutup.

Rendra berjalan melewatinya menuju dapur. Tidak ada nasi. Tidak ada air panas. Cangkir kopi Bapak masih terbalik di rak, bersih, belum digunakan.

Ia membuka kulkas. Tidak tahu apa yang dicari. Mungkin telur. Mungkin sisa nasi goreng. Mungkin hanya bukti bahwa pagi itu tetap berjalan meskipun Bapak belum bangun.

Di meja makan, jurnal yang kemarin terbuka sudah ditutup. Pulpen diletakkan tepat di atasnya. Kotak kue sus hanya berisi remah dan sedikit vla yang menempel di sudut.

Rendra menutup kulkas.

“Pak?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan ke teras. Pagar masih terkunci dari dalam. Sapu bersandar pada dinding di tempat yang sama seperti kemarin. Daun mangga berserakan di halaman, belum dikumpulkan menjadi satu tumpukan.

Rendra berdiri beberapa saat. Ada rasa tidak nyaman yang tumbuh perlahan. Belum menjadi takut. Hanya sesuatu yang tidak berada di tempat semestinya. Ia kembali masuk. Lalu mengetuk pintu kamar utama.

“Pak.”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih keras.

“Pak, sudah hampir jam delapan.”

Tetap sunyi.

Rendra memegang gagang pintu. Tidak terkunci. Kamar itu redup karena gorden masih tertutup. Cahaya tipis masuk dari celah, jatuh pada lantai dan sisi lemari. Udara di dalam lebih dingin daripada lorong.

Bapak berada di tempat tidur. Tidur menyamping sedikit ke arah sisi ranjang yang dulu ditempati Ibu. Selimut menutupi tubuhnya sampai pinggang. Salah satu tangannya berada di atas perut. Tangan lainnya terletak dekat bantal.

Kacamata Bapak dilipat di meja samping ranjang. Di sebelahnya ada segelas air, tinggal setengah. Obat malam sudah tidak ada di wadah kecilnya. Semuanya terlihat biasa. Terlalu biasa.

Rendra berdiri di ambang pintu.

“Pak.”

Bapak tidak bergerak.

Rendra masuk.

“Pak, bangun. Aku nanti harus berangkat.”

Tidak ada gerakan kecil pada bahu. Tidak ada dengusan. Tidak ada jawaban pendek yang mengatakan masih pagi atau menyuruh Rendra sarapan sendiri.

Rendra mendekat.

Wajah Bapak tampak tenang. Tidak ada kerutan di antara alisnya. Rahangnya tidak mengeras. Bibirnya sedikit terbuka, dengan salah satu ujung terangkat sangat kecil. Seperti senyum yang tidak selesai. Atau mungkin hanya wajah yang akhirnya tidak sedang menahan apa pun.

Rendra duduk di tepi tempat tidur.

“Pak.”

Ia menyentuh bahu Bapak. Dingin. Bukan dingin seperti es. Hanya tidak menyimpan kehangatan yang seharusnya ada. Rendra menarik tangannya. Seluruh tubuhnya berhenti. Ia menatap wajah Bapak, menunggu dada itu naik.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Tidak.

Rendra menyentuh bahunya lagi, kali ini lebih keras.

“Pak.”

Ia menggoyangkan sedikit.

“Pak, bangun.”

Kepala Bapak bergerak mengikuti dorongan, tetapi tidak ada reaksi.

Rendra berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur sisi ranjang.

“Pak.”

Suaranya berubah. Lebih kecil. Lebih panik. Ia menempelkan dua jari ke leher Bapak, mencari denyut yang tidak benar-benar ia tahu cara menemukannya. Tangannya gemetar terlalu keras. Ia memindahkannya ke pergelangan tangan. Tidak ada. Atau ia tidak bisa merasakan. Atau ia salah menempatkan jari.

Rendra membungkuk mendekati wajah Bapak.

“Pak, dengar aku?”

Tidak ada napas yang menyentuh pipinya.

Rendra menepuk wajah Bapak pelan.

Gerakan yang cukup lembut untuk membangunkan siapa pun.

“Pak.”

Ia memanggil sekali lagi.

Lalu, tanpa merencanakannya, keluar pertanyaan yang selama puluhan tahun pernah ia tunggu dari Bapak.

“Bapak Sakit?”

Tidak ada jawaban. Rendra menutup mulut. Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan tangis, belum. Hanya tarikan napas yang gagal sampai ke paru-paru.

Ia menyentuh bahu Bapak lagi.

“Pak?”

Tetap tidak ada jawaban. Di wajah itu tidak tampak rasa sakit. Tidak ada dahi berkerut. Tidak ada mulut yang menahan sesak. Hanya ketenangan yang membuat Rendra semakin takut.

Ia berbalik ke pintu.

“Raina.”

Suaranya tidak cukup keras.

Ia mencoba lagi.

“Raina!”

Pintu kamar di lorong terbuka.

“Apa?”

Raina muncul dengan rambut berantakan dan wajah masih mengantuk. Ia melihat Rendra berdiri di kamar utama.

“Ada apa?”

Rendra tidak tahu cara menjawab.

Mulutnya bergerak, tetapi kata-katanya tidak keluar.

Raina mendekat.

“Bang?”

Rendra menunjuk tempat tidur.

Raina melihat Bapak.

Pada awalnya, wajahnya tidak berubah. Ia mungkin mengira Bapak hanya tidur. Mungkin berpikir Rendra panik karena tidak bisa membangunkannya. Kemudian ia melihat tangan Rendra yang gemetar.

“Pak?” Tukas Raina.

Raina berjalan cepat ke tempat tidur.

“Pak.”

Ia menyentuh lengan Bapak.

Lalu menarik tangannya.

“Bang.”

“Aku nggak tahu,” kata Rendra.

Suaranya pecah.

“Aku nggak bisa ngerasain nadinya.”

Raina menempelkan telinga dekat dada Bapak.

Tidak lama.

Hanya beberapa detik.

Lalu ia berdiri dan meraih ponselnya.

“Kita telepon ambulans.”

Lihat selengkapnya