Bapak diantar dari rumah, seperti Ibu. Tidak ada perdebatan. Ketika seseorang sempat menyebut rumah duka, Rendra langsung menggeleng.
“Bapak dari rumah saja.”
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat orang lain berhenti menawarkan pilihan.
Mungkin baru sekarang Rendra memahami mengapa dulu Bapak bersikeras membawa Ibu kembali ke Japos. Rumah itu telah menerima hampir seluruh hidup mereka. Rasanya tidak benar jika perpisahan dilakukan dari tempat lain.
Maka ruang tengah sekali lagi dipenuhi kursi. Pagar hijau dibuka sejak pagi. Orang-orang berdatangan, membawa makanan, air minum, dan kalimat-kalimat yang tidak selalu bisa didengar sampai selesai.
Kali ini, ketiga anak Prawula mengurus semuanya bersama.
Renata menangani dokumen dan keluarga besar. Ketika suaranya mulai serak, ia menyerahkan telepon kepada Tante Mira.
“Tante, tolong lanjutkan ya.”
Mira menerima ponsel itu.
“Iya. Kamu duduk dulu.”
Rendra mengurus tenda, kendaraan, dan hal-hal di luar rumah. Jika ada pertanyaan yang tidak ia ketahui, ia tidak berpura-pura bisa menjawab.
“Tanya Renata.”
Atau:
“Raina yang pegang catatannya.”
Raina membuat daftar, tetapi tidak mengerjakan seluruh isinya sendiri.
“Bang, ini bagian kamu.”
“Kak, yang ini perlu tanda tangan.”
“Tante Mira, keluarga dari pihak Bapak lebih baik Tante yang kabari.”
Tidak ada satu anak yang menahan semuanya. Pelajaran itu datang pada hari ketika Bapak tidak lagi bisa melihat mereka melakukannya. Atau mungkin ia sudah melihat cukup.
Malam sebelum pemakaman, setelah sebagian besar pelayat pulang, mereka duduk di ruang tengah. Renata di lantai, memegang gelas air yang sudah tidak dingin. Rendra berada dekat tubuh Bapak. Raina bersandar pada sofa. Kursi rotan Ibu kosong. Kursi plastik Bapak dekat jendela juga kosong.
Raina memandang keduanya.
“Sekarang dua-duanya kosong.”
Tidak ada yang menyuruhnya berhenti berkata begitu.
Karena memang benar.
Renata melihat kursi plastik Bapak.
“Bapak pasti ngomel kalau lihat kursi-kursi ini nggak lurus.”
Rendra menatap gelas-gelas di meja.
“Terus protes soal gelas yang belum dicuci.”
Raina berkata, “Terus bilang airnya jangan dibuang.”
Renata tertawa kecil. Tawanya berubah menjadi tangis. Raina memegang tangannya. Rendra menunduk. Mereka tinggal di sana, di antara dua kursi yang tidak akan terisi lagi, tanpa mencoba membuat kehilangan terdengar lebih mudah.
Pemakaman berlangsung pada pagi berikutnya. Langit tidak terlalu cerah dan tidak hujan. Tidak ada cuaca yang terasa seperti tanda. Bapak dimakamkan di pemakaman yang sama dengan Ibu. Tidak tepat berdampingan, tetapi cukup dekat agar anak-anak tidak harus berjalan jauh untuk berpindah dari satu nama ke nama lainnya.
Setelah orang-orang mulai pergi, Rendra masih berdiri di depan makam Bapak. Renata dan Raina menunggunya beberapa langkah di belakang.
Rendra memasukkan kedua tangan ke saku celana. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya sudah memaafkan. Belum. Ia tidak mengatakan semua luka selesai hanya karena Bapak tidak lagi ada. Tidak. Namun kini ia tahu kemarahannya bukan satu-satunya hal yang tersisa.
Ada kipas yang pernah mereka perbaiki bersama.
Ada ayam kecap.
Ada cuti yang diambil tanpa alasan darurat.
Ada pertanyaan yang akhirnya diajukan dan jawaban yang terlambat, tidak sempurna, tetapi jujur.
Rendra menatap tanah yang masih baru.
“Pak.”
Tidak ada jawaban.
“Kali ini aku nggak bawa apa-apa.”
Ia tersenyum kecil, meskipun matanya basah.
“Cuma pulang.”
Setelah itu, ia berbalik.
Renata dan Raina masih menunggu.
Mereka berjalan kembali bertiga.
Beberapa hari setelah pemakaman, rumah mulai kehilangan banyak suara. Kursi tambahan diangkut. Tenda dilepas. Piring pinjaman dikembalikan. Pagar hijau lebih sering tertutup. Pada malam pertama setelah semua pelayat pergi, mereka berdiri cukup lama di depan pintu utama. Rendra menutup pintu. Raina mengunci. Renata menarik gagangnya sekali untuk memastikan. Gerakan itu sangat Bapak. Tidak ada yang mengomentari.
Di dapur, Rendra memeriksa kompor. Raina menutup keran belakang yang menetes. Renata mematikan lampu. Pekerjaan-pekerjaan kecil yang dulu dilakukan Bapak berpindah kepada mereka tanpa diminta. Mereka tahu karena selama ini mereka melihat. Sama seperti Bapak pernah melihat Ibu memasak dan kemudian tahu bagaimana adonan kue sus seharusnya jatuh dari spatula.
Warisan tidak selalu diberikan lewat percakapan. Kadang ia tinggal dalam gerakan tangan. Cara memeriksa pintu. Cara menutup wadah. Cara menyimpan sekrup dalam tutup toples. Cara memastikan orang lain mendapat lauk sebelum mengambil bagian sendiri.
Berhari-hari setelah pemakaman Bapak, mereka belum membicarakan rumah secara serius. Apakah akan dijual. Disewakan. Atau dibiarkan kosong. Pertanyaan itu muncul ketika mereka duduk di meja makan pada hari kelima.
“Aku harus kembali ke Singapura Jumat,” kata Renata.
Rendra mengangguk. “Aku sampai Minggu.”
Raina melihat jadwal di ponselnya. “Aku masih ada urusan visa Selasa. Setelah itu balik kos.”
Lalu rumah ini?
Pertanyaan itu ada, meskipun belum diucapkan.
Akhirnya Raina yang bertanya.
“Kalau kita semua pergi, rumahnya bagaimana?”
Renata memandang ruang tengah.
Foto Ibu.
Foto Bapak.
Kursi rotan.
Kursi plastik.
Rak jurnal.
Koper yang sebentar lagi dibawa pergi.
“Aku belum mau putuskan sekarang,” katanya.
Rendra mengangguk. “Biar tetap rumah dulu.”
“Walaupun kosong?” tanya Raina.
“Tidak selalu kosong,” jawab Rendra. “Kita bisa pulang.”
Mereka mulai merapikan meja kecil Bapak pada sore hari ketujuh. Tidak banyak benda di sana. Ada pulpen, kalkulator, beberapa tagihan, kotak baterai, gunting, dan satu jurnal bersampul polos. Buku itu sebelumnya terbuka pada pagi terakhir mereka makan bersama. Mereka sudah membaca satu halaman di dalamnya.
Renata memperpanjang tinggal satu minggu. Rendra pulang tanpa acara. Raina akan berangkat ke Jepang. Anak-anak makan bersama tiga malam. Rumah berisik. Tidak mengganggu.
Renata mengambil jurnal itu.
“Ini belum kita lihat semua.”
Rendra duduk di sofa.
Raina mendekat dari depan rak.
Renata membalik beberapa halaman.
Sebagian besar berisi catatan singkat setelah Ibu meninggal.
Kontrol. Tekanan darah naik.
Raina pulang malam. Minta bayam jangan terlalu matang.
Renata telepon. Bilang sudah tidur. Waktu di Singapura pukul 01.40. Tidak benar.
Rendra cuti. Tidak ada acara. Tidur sampai siang.
Catatan-catatan itu terasa sangat Bapak. Tidak banyak. Tidak menjelaskan perasaan. Hanya bukti bahwa ia masih memperhatikan. Di bagian paling akhir, ada satu halaman yang belum pernah mereka baca. Tanggalnya malam sebelum Bapak meninggal. Tulisan itu lebih kecil daripada biasanya, tetapi tetap rapi.
Renata membaca baris pertama dalam hati.
Kemudian menyerahkan jurnal kepada Rendra.
“Baca.”
Rendra menerima buku tersebut.
Ia melihat halaman itu cukup lama sebelum bersuara.
Anak-anak makan bersama pagi ini.
Ia berhenti sebentar.