Hallo, Cinta Yang Kutulis Di Catatan Fisika

Mba Rerima
Chapter #8

Bab 7 - Caranya Bangun Tenda Gimana Sih?

Pagi di sekolah itu terasa… ramai. Terlalu ramai untuk ukuran hari biasa. Lapangan dipenuhi siswa dari berbagai sekolah yang berkumpul seperti festival kecil. Spanduk besar terbentang di tengah, tulisannya mencolok:

“CAMPING TAHUNAN SEKOLAH – KOLABORASI ANTARSEKOLAH!”

Raina mendesis pelan. “Ini pasti bakal chaos.”

Di sampingnya, Dita menguap sambil memegangi tas ransel. “Yang penting makanannya enak.”

Rere berdiri paling semangat, sudah memakai topi bucket dan kacamata hitam seperti siap masuk survival show. “Yang penting aku kelihatan imut di foto-foto kegiatan nanti.”

Raina mendengus. “Kalian berdua nggak ada sense of survival sama sekali…”

Suara speaker tiba-tiba memecah keributan:

“PERHATIAN! Pembagian kelompok akan dimulai! Setiap kelompok akan terdiri dari 10 siswa dari berbagai sekolah. Mohon berkumpul sesuai nomor undian yang sudah diterima sebelumnya!”

Raina membuka kertas kecil bernomor 27.

Dita dapat 27 juga.

Rere? 27.

“YES! Kita satu kelompok!” seru Rere sambil melompat kecil.

Raina tersenyum… sampai suara lain menyambar dari belakang.

“Nomormu berapa?”

Ia menoleh, Arval berdiri sambil memandangi kertas di tangannya.

Nomor 27.

Dunia seakan membunyikan efek ting! dramatis.

“Oh,” Raina menelan ludah. “Kita… uh… sekelompok.”

Dita menutup mulut menahan jeritan fangirl-nya.

Rere langsung mengibas-ngibaskan tangan seperti kipas.

Arval hanya mengangguk tipis. “Oke.”

Sebelum Raina bisa mengucap sesuatu, dua cowok lain dari sekolah yang sama menghampiri Arval. Mungkin teman dekatnya, melihat cara mereka menyapa Arval.

“Val! Nomor lo berapa?”

“27.”

“Serius? Sama! Kita aman dari kelompok yang isinya stranger semua.”

Tapi itu belum apa-apa.

Karena lima siswa lain dari sekolah yang berbeda mulai berdatangan.

Dan salah satunya…

Gadis berambut cokelat panjang, riasannya ringan tapi rapi, dan senyumnya manis sekali sampai Raina tahu ini bukan gadis sembarangan.

Dia langsung jalan ke arah Arval.

Lalu berdiri di sebelahnya seperti sudah booking tempat.

“Hai… kamu Arval Kaesyn, kan?” suaranya lembut, manis, penuh percaya diri.

Arval menoleh sepersekian detik. “Iya.”

“Aku Nayara.” Dia mengulurkan tangan. “Dari SMA Bintara.”

Arval nggak menyambut tangannya.

Cuma mengangguk dingin. “Oh.”

Lihat selengkapnya