Hallo, Cinta Yang Kutulis Di Catatan Fisika

Mba Rerima
Chapter #9

Bab 8 - Dingin ya?

Malam turun perlahan di area camping.

Langit berubah menjadi gelap kebiruan, bintang mulai bermunculan satu per satu di sela kanopi pepohonan tinggi. Udara semakin dingin, membuat para siswa merapatkan jaket dan syal.

Di tengah lapangan, api unggun dinyalakan.

Nyala apinya besar, hangat, dan berderak pelan. Cahaya jingga memantul di wajah-wajah lelah tapi antusias.

Raina duduk bersila di dekat Dita dan Rere, membungkus tubuhnya dengan jaket tebal. Ia menatap api unggun sambil menggosok-gosok tangannya.

“Ini… lebih dingin dari ekspektasi aku,” gumamnya.

Dita mengangguk cepat. “Aku nyesel ketawa pas mama bilang bawa kaus kaki tebal.”

Rere memeluk lututnya. “Tapi cantik, ya. Kayak adegan film.”

Satu per satu kelompok diminta memperkenalkan diri. Ada yang joget, ada yang nyanyi, ada yang teriak berlebihan sampai panitia menegur.

Saat giliran kelompok 27, Arval berdiri lebih dulu.

“Kami dari kelompok dua tujuh,” katanya singkat. “Sepuluh orang. Campuran empat sekolah.”

Ia berhenti di situ.

Semua menunggu.

“…Udah.”

Beberapa siswa tertawa kecil.

Raina menepuk pelan. “Singkat, padat, tidak jelas.”

Dita langsung berdiri. “Halo semuanya! Kami jamin kelompok kami… paling ribut, paling nggak kompak, tapi paling tulus!”

Sorak tawa menyambutnya.

Rere menambahkan, “Dan kami sudah berhasil mendirikan tenda tanpa korban jiwa.”

Arval menoleh sekilas ke arah tenda putri, lalu menghela napas kecil.


•••


Malam semakin larut ketika api unggun mulai mengecil. Tawa masih terdengar, tapi tidak sekeras tadi. Beberapa siswa sudah kembali ke tenda, sebagian lain memilih duduk lebih dekat ke api untuk mengusir dingin.

Raina berdiri, menepuk celana jeansnya pelan.

“Ke mana?” tanya Dita setengah mengantuk.

“Keliling bentar,” jawab Raina. “Kepala aku ribut.”

Ia berjalan menjauh, mengikuti jalur kecil yang dibatasi lampu temaram. Suara api unggun perlahan memudar, digantikan oleh suara air dan angin malam.

Dari kejauhan, terlihat sebuah danau yang tenang, gelap, dan memantulkan cahaya bulan seperti kaca yang retak halus.

Raina tersenyum kecil.

Lalu ia melihat seseorang.

Di bawah pohon besar di tepi danau, Arval duduk bersandar. Jaketnya terbuka, rambutnya sedikit berantakan karena angin. Sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya, satu tangan menahan halaman, tangan lain menggenggam pena.

Ia tidak menyadari kehadiran Raina.

Terlalu fokus.

Raina berhenti melangkah.

Ada sesuatu yang berbeda saat melihat Arval seperti itu, tidak sebagai ketua OSIS, tidak sebagai cowok dingin yang selalu dikelilingi orang. Hanya seorang cowok yang duduk diam di bawah pohon, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa sungkan.

Raina melangkah mendekat.

“Kamu kabur juga?” tanyanya ringan.

Arval mendongak, sedikit terkejut, lalu mengendur. “Bukan kabur.”

“Ngadem, ya?”

“Kurang lebih.”

Lihat selengkapnya