HALLUCIGENIA

Hans Kamari
Chapter #1

[1] - LAKUNA

BAB I - LAKUNA

[ la.ku.na n Dok lekukan kecil, rongga di antara sel-sel atau lapisan ]


 

Baru dua hari Gideon meninggalkan Maha Sarakham.

Malam itu, tubuhnya tergeletak di atas jalan setapak yang memisahkan tanah lapang dengan sebidang bangunan berpagar tinggi. Hujan yang belum reda menenggelamkan separuh badannya ke dalam genangan, sementara bagian lainnya berada di atas hamparan kerikil. Benturan keras ketika terjatuh membuat luka di sepanjang lehernya, mengalirkan darah yang lekas bercampur dengan lumpur.

Ketika tersadar, hal pertama yang diingatnya adalah serbuan rasa takut. Lalu satu persatu rasa sakit menyerangnya seperti sekawanan lebah yang menyengat; pening di kepalanya, perih di lehernya, linu di sekujur tubuhnya dan rasa nyeri di ulu hati. Benaknya tidak serta-merta mampu mencerna apa yang sedang terjadi tapi siluet seorang lelaki yang ditangkap ekor matanya menjelaskan bahwa dia sedang diserang.

Intuisi memintanya untuk berlari menjauh—tidak pernah lelaki berparas pucat itu merasa setakut ini pada seseorang—tapi seluruh tenaganya habis. Hanya ada lumpur dan sekelompok kerikil tajam yang berhasil diraih jari-jari tangannya, sementara kakinya tak berhasil menjejak sedikit pun.

Sekelebat visual kemudian muncul begitu saja di dalam benaknya, seperti kilasan cahaya lampu yang tersorot; ayahnya terduduk di atas tanah pemakaman yang basah. Lalu visual-visual lain hadir seperti montase; kecelakaan perahu yang membuat adiknya hilang, neneknya yang sedang sekarat di ruang unit gawat darurat, Hesa terkapar bersimbah darah di atas aspal, dan seorang gadis bermata lengkung pelangi yang mengintainya dari balik buku di sebuah perpustakaan.

Kemudian, dia terjebak di sebuah ruangan yang sunyi. Gideon melihat gadis lain tertidur di atas ranjang dengan tubuh penuh perban. Ada selang infus yang menjurai, masker oksigen, dan monitor detak jantung. Di sampingnya, seorang ibu terkesiap menyadari kehadiran Gideon. Air wajahnya berubah ketakutan lantas menjerit keras dan melemparkannya kembali pada kesadaran malam itu.

Tubuhnya masih tergeletak tak berdaya di atas genangan air hujan.

Dari ekor matanya, Gideon melihat lelaki asing itu berjalan mendekat dengan tongkat terayun di tangan. Rasa sakit di sekujur tubuhnya menjadi masuk akal, juga bagaimana dia bisa remuk di atas tanah. Gideon sedang dirisak—atau kalah dalam sebuah perkelahian. Meskipun bagaimana semua ini berawal dan siapa lelaki yang membuatnya ketakutan setengah mati itu masih menjadi pertanyaan besar.

Gideon ingat pada sebuah malam ketika terserang paralysis. Semua rasa sakit di dalam tubuhnya bermunculan, beriringan dengan pikiran buruk yang membuat kepalanya buntu. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengerang dan mengejang-ngejangkan tubuhnya yang kaku. Hal yang kemudian dilakukannya adalah menarik napas panjang, mengenyahkan segala pikiran buruk dan membiarkan tubuhnya pulih sendiri.

Dengan melakukan hal yang serupa, kali ini Gideon berharap semuanya akan kembali pulih. Tapi sebuah tendangan keras ke area perut berhasil membuat dia berpikir bahwa hidupnya hampir selesai.

“Ge, waktumu sudah tamat!” suara itu terdengar tidak berperasaan.

***

Mimpi buruk!

Wajah Bibi Pang muncul dan tampak semakin jelas di hadapannya. Di belakang wanita yang masih mengenakan riasan wajah itu, Paman Net berdiri sambil bersedekap. Tatapannya yang berbingkai kaca mata sewarna perak itu penuh penilaian.

“Tuhan, apa yang terjadi? Tar! TAR!”

Napas panjang terembus dari sepasang mata yang terbelalak itu. Nyawanya seperti baru saja tercerabut lalu dimasukkan kembali secara paksa. Raungan Bibi Pang membuat Gideon tersadar bahwa dia masih berada di Bangkok. Tubuhnya lemas sekali, seolah mimpi buruk itu menyedot habis seluruh tenaganya. Bahkan visualnya masih terasa nyata dan membuat Gideon bersyukur bahwa semua itu hanya ilusi—setidaknya saat ini.

“Tar, kamu baik-baik saja?”

Kepalanya terangguk. Tidak ada yang membuat Gideon merasa lebih lega selain menyadari bahwa kedua tangan yang menyentuh pundaknya itu nyata. Tapi lepas dari mimpi buruk, lehernya ngilu minta ampun. Darah mengalir dari sana, menuju punggungnya. Sepaian beling di sepanjang lantai dapur kemudian ditemukannya ketika menoleh.

“Astaga, Tar! Net, lihat lehernya berdarah! Apa dosa hamba, TUHAN?”

“Pang, biar saya yang membersihkan luka lehernya. Kamu bisa bereskan lantai dapur?”

“Lima hari lalu P’Sak masuk rumah sakit karena struk, Net. Empat hari lalu resto sebelah ditinggal kabur kasir barunya, uang mereka raib!” Bibir Bibi Pang tak henti mengoceh selagi membersihkan dapur, begitulah jika rasa cemasnya sudah tak tertahankan. “Pemiliknya bercerita padaku tempo hari. Aku tak akan merekrut kasir baru sampai akhir bulan ini. Dan dua hari lalu, dua hari lalu aku menghilangkan cincin pertunangan kita.”

“Saya menemukannya dalam kuah Kaeng Phet[1], Pang.”

Tangan Paman Net cekatan membersihkan darah di leher Gideon. Ketika mata mereka bertemu, Gideon tidak bisa mengartikan tatapan itu semudah menemukan rasa takut dan cemas di dalam mata milik bibinya.

Lihat selengkapnya