HALLUCIGENIA

Hans Kamari
Chapter #2

[2] - BIANGLALA

BAB II

BIANGLALA

[ bi.ang.la.la kl n pelangi ]

 

Paman Net tidak pernah menampakkan keramahan yang sama dengan yang dicurahkan Bibi Pang padanya. Sebaliknya, tatapan pria itu selalu tampak memberikan penilaian. Beliau juga terbilang jarang bicara, tapi berdekatan dengannya selalu memberikan ketenangan yang berbeda. Paman Net bagi Gideon serupa dengan buku manual yang tidak pernah berhasil dikuaknya dengan benar. Tadi siang pria itu menjemput Bibi Pang dan langsung meluncur ke EoTh, meninggalkannya yang masih pengar di atas tempat tidur.

Ada satu mobil milik Bibi di rubanah apartemen yang bisa digunakan untuk menyusul mereka di Asiatique—tinggal mengambil jalan lurus melewati jembatan Rama IX—tapi Gideon enggan. Semacam peristiwa semalam masih menjadi hal yang patut diwaspadai, bagaimana tubuhnya sering kali tidak sadarkan diri.

Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi ketika pikirannya brownout, tapi beberapa orang yang melihat hal tersebut mengatakan sesuatu yang mengerikan. Bukankah terlalu berisiko jika dia datang saat dirinya mengendarai mobil. Menambah catatan kecelakaan lalu lintas sepertinya tidak perlu dilakukan. Kendati menghilang dari dunia ini dengan cara demikian rasanya menjadi jalan terbaik untuk mengakhiri hidup.

Jadi di sinilah Gideon sekarang, mematung menunggu shuttle boat tiba di depan Chao Phraya yang tenang seolah tanpa arus. Tapi siapa sangka jika yang terlihat tidak mengancam ini memiliki kedalaman hingga 84 kaki. Bayangkan jika kamu ceroboh dan terpeleset, Chao Phraya bisa menarikmu tenggelam dan hilang—terdengar seperti cara mengakhiri hidup lainnya yang patut dicoba, bukan?

Oh, sial! Kapan shuttle boat-nya tiba?—Semakin lama terjebak di tanah ini semakin mendesaknya untuk menemukan cara paling cepat untuk mengakhiri semuanya dan pergi.

***

Ketika berhasil menjejak tanah, Gideon melihat Asiatique sudah cukup ramai. Wisatawan akan semakin memadat ketika malam semakin larut. Pria dengan balutan parka itu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, mencari sesuatu yang bisa dibeli. Sekembalinya ke EoTh, matanya disambut oleh Bibi Pang dan Paman Net yang tampak sibuk, sementara seorang pramusaji membantunya menyimpan belanjaannya di tempat yang aman.

EoTh restaurant adalah restoran milik Bibi Pang yang menawarkan kuliner tradisional dengan rupa yang lebih modern. Letaknya di warehouse 6, bersebelahan dengan warehouse 3 tempat bibi Pang biasa menonton Calypso Cabaret bersama teman-temannya. Bibi pernah bercerita di sana pulalah dia bertemu dengan Paman Net dan memutuskan untuk hidup bersama.

“Ada kabar dari rumah sakit tempat P’Sak dirawat tapi Bibi tidak tahu itu kabar baik atau kabar buruk. Oh, TUHAN! Aku merasa begitu berdebar-debar,” suara melengking Bibi Pang menjadi sapaan yang sudah dikenalnya sejak kecil, selalu panjang dan terdengar melelahkan. Matanya menguntit Gideon. “Ibumu menghubungi Bibi tadi siang dan dia bertanya kenapa kamu meninggalkan obat di rumah. Ini sudah lewat tiga hari dan kamu tidak meminumnya, Tar?”

Gideon ingin mengabaikan ujaran selamat datang yang panjang lebar itu dengan lekas mengambil alih kasir yang kosong sebab beranjak ke kursi-kursi di pelataran—tempat favoritnya—akan tampak tidak sopan.

“Besok sebelum terbang—Terima kasih telah berkunjung, besok mampir lagi ke sini, ya!—Ikut Net ke Watsons[1]. Bibi akan minta ibumu mengirimkan resepnya. Setelah itu, jangan pernah abai untuk kembali mengonsumsi obat.” Napasnya dihela dengan berat, ujarannya kemudian terdengar lebih hati-hati. “Tar, tidak ada yang tidak peduli dengan kesehatanmu.”

“Sayangnya, aku sudah tidak mengonsumsi obat-obatan itu.”

“Dan ibumu tidak tahu?” gugatnya.

Bukankah terlalu dini untuk berdebat?

Gideon baru saja tiba.

“Melihatmu, aku seperti melihat Net tujuh tahun lalu,” kesahnya sambil menjalankan sesuatu dengan mesin kasirnya. “Terserah apapun nama hal yang pernah dideritanya. Obat selalu membuatnya merasa lebih baik, sayang.”

“Sayangnya lagi, obat-obatan itu sudah tidak memberikan efek apapun,” tukasnya dengan bebal. “Jadi tak alasan untuk terus....

Delikan Bibi Pang membuatnya bungkam.

Gideon berupaya mengimitasi ketenangan Chao Phraya. Mengendalikan egonya yang terasa digugat. Bukannya tidak bersyukur, dia lebih dari tahu bagaimana caranya mengapresiasi kehadiran ibu dan Bibi Pang di dalam hidupnya. Mereka begitu perhatian. Akan tetapi, ada hal-hal yang tidak akan pernah mereka mengerti dan ketidaktahuan itu semacam menjadi cairan garam dalam kapas. Kehadiran mereka membuat luka-lukanya tertutup hampir sempurna, tapi rasa sakitnya terasa lebih mengerikan dari sebelumnya.

“Tar, ketahuilah ini... bibi dan ibumu ingin kamu sembuh.”

Begitu juga yang disampaikan oleh psikiater-psikiater itu.

Sembuh, katanya.

“Sudahlah, Pang!” Paman Net tiba dengan tampilan yang tidak seperti biasanya. Wajah kusut dengan kerut-kerut halus di kening itu sedikit mengganggu Gideon. Tak ada tatapan menilai seperti biasanya, berganti dengan air wajah yang sulit diterka. Ke mana kiranya Paman Net yang semalam?

“Bagaimana kabar P’Sak, sayang?”

“Tidak begitu baik. Tampaknya saya harus pergi lebih awal ke rumah sakit,” selalu tanpa tatapan langsung pada Bibi Pang, tapi suaranya selalu terdengar lebih tenang dari bunyi arus Chao Phraya. Lekas dia mendorong nampan saji pada Gideon. “Bisa tolong antarkan?”

Kening Bibi Pang mengernyit.

“Tidak ada satu pun manusia yang diciptakan sesuai dengan keinginannya, Pang,” ujarnya bercampur dengan sedikit nada putus asa. “Ada yang tak akan pernah dipahami oleh siapa-siapa kecuali oleh dirinya sendiri. Jadi jangan terlalu menekan.”

“Sayang, aku tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa—maaf jika itu mengingatkanmu....”

“Tidak, tidak. Hanya saja ada waktunya....”

“....”

Meja nomor 14.

Tanpa menunggu lebih lama, Gideon memutuskan untuk segera beranjak. Kerap kali, melepaskan diri menjadi pilihan terbaiknya saat ini. Meninggalkan hal-hal yang memuakkan dan mempersiapkan diri untuk bertemu banyak hal baru yang lebih mendebarkan—membuatnya lebih hidup.

Seperti halnya malam ini.

Ingatannya masih terlalu jelas untuk seorang gadis yang sedang duduk sendirian di meja nomor 14. Kursi itu terletak di pelataran restoran yang menjadi tempat favoritnya. Dari sana, puncak ferrish wheel yang berputar dalam warna keperakan bisa dilihat sebagian atasnya. Gadis itu tampak merunduk, mengamati layar gawainya yang sibuk digulir.

Gideon masih ingat benar gadis itu bernama Peach.

***

“Oke, jadi mitos-mitos yang kamu sebutkan seharian ini adalah yang paling terdengar seperti omong kosong,” adalah hal pertama yang dikeluhkan Ice setelah Peach dan March sibuk berkejaran di atas lintang jembatan yang panjang dan lengang—meninggalkan mereka berdua.

Gideon menyamarkan mulutnya yang bungkam dengan senyuman canggung. Memang bukan itulah tujuannya menyeret Ice jauh-jauh dari Bangkok ke Maha Sarakham. “Setidaknya kita bisa melihat matahari terbenam dengan cantik di sini, sekali pun tidak mendapatkan mitos yang cukup menarik untuk bahasan proyek sekolah.” suaranya merendah.

“Itu juga terdengar seperti omong kosong, Tar.” Ice menggulung ujung celana jeansnya sampai ke betis. Masih terdengar kesal, “aku bisa melihat matahari terbenam di mana pun meski hanya tinggal di Bangkok. Tapi serius, sampai harus pergi sejauh ini?”

Gideon mengangkat bahunya.

“Ada hal yang ingin aku perlihatkan. Hal ini tidak akan kamu temukan dengan mudah di tempat lain, bahkan di kuil Erawan sekali pun.” Telapak kakinya menyentuh permukaan danau ketika pantatnya didudukkan di tepi jembatan kayu Kae Dam—desa kelahirannya di Maha Sarakham. “Lagi pula yang kita cari dan bahas untuk proyek sekolah cuma mitos.”

Ice mengekor, duduk di tepian jembatan.

Ingin menimpali label mitos dan cuma mitos milik Gideon tapi dia telanjur lelah. Jadi diputuskannya saja untuk menikmati panorama pudarnya warna biru dari langit, pelan berganti dengan oranye. Sementara di bawahnya, hamparan danau luas penuh teratai mekar berwarna menyala dan hijau. Pemandangan yang membuatnya terus berseru dalam hati.

“Satu pertanyaan, kamu benar-benar percaya dengan mitos, Ice?” seloroh Gideon. “Kita ambil contoh yang bersikeras ingin kamu bahas di kuil Erawan. Tentang mitos di sana. Benarkah jika orang-orang yang berdoa di depan empat wajah Budha bisa mendapatkan jodohnya dengan mudah.”

“Sepertinya kita harus membahas itu sesampainya nanti di Bangkok.” Ice terusik karena kontemplasi yang baru saja dimulainya terganggu, “tapi siapa yang tahu, Tar, sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh leluhurku....”

“Maksudku, Ice, bukankah sebenarnya tak ada lagi alasan bagimu untuk datang ke kuil itu jika hanya ingin tahu kebenaran tentang mitosnya.” Gideon meramu kalimatnya dengan hati-hati, “maksudku untuk apa lagi kita pergi ke sana, mencoba berdoa di depan empat wajah Budha hanya untuk menguji mitosnya seraya diam-diam berharap itu menjadi kenyataan jika kita bisa saling menemukan di sini.”

Air wajah Ice mulanya tampak tenang, lalu mendadak beku. Pernyataan-pernyataan Gideon yang terdengar tanpa pretensi tiba-tiba seperti menyimpan agenda.

Lihat selengkapnya