"Gue bakal selalu bertahan, sih. Soalnya, almarhum Mama gue, nggak suka lihat anak kesayangannya sedih."
Sebut saja namanya Felix. Dia adalah narasumber pertama gue sejak program podcast terbaru gue yang berjudul "Tertawa Sebelum Abadi" diluncurkan seminggu yang lalu. Gue terharu dengan jawaban Felix yang terdengar positif vibes itu. Bagaimana, nggak? Felix dengan badan yang mulai kurus kering, wajahnya perlahan memucat, dan terkadang gue denger dia batuk-batuk sambil megang dadanya karena nyeri, rela menghabiskan waktu lima jam perjalanan naik kereta, karena ingin membagikan kisahnya selama mengidap kanker hati stadium III.
Jujur, gue malu banget sama semangat Felix yang terbilang membara meski waktu hidupnya divonis tidak lama lagi. Nyatanya, bukan cuma gue yang punya masalah pelik, tetapi harus tetap tegar, melainkan ada banyak orang di luar sana, yang bahkan lebih menderita. Termasuk Felix dengan kesempatan hidupnya hanya tinggal sedikit itu.
"Anyway, gue salut banget sama lo. Masih bisa tersenyum ketika keadaan lagi nggak baik-baik aja. Gue kalau jadi lo, belum tentu bisa begitu. Salut, Felix!" Gue mengangkat jempol tinggi-tinggi. Nggak pake acara formalitas segala, gue beneran kagum dan bangga melihat antusias Felix berbagi perjalanan selama hidupnya di studio podcast kecil-kecilan gue ini. Emang nggak salah kalau gue pengen tampil beda dengan mencari narasumber lain daripada yang lain. Bukan maksud apa-apa, hanya saja, gue rasa sudah semestinya kita semua berbagi hal-hal positif ke semua orang, supaya hidup lebih bermanfaat.
Felix berdeham, lalu tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya. "Intinya, buat apa kita dilanda kebencian karena takdir buruk yang menimpa. Gue cuma manusia biasa. Hanya bisa berusaha, sisanya Tuhan yang berkehendak."
Memang benar apa katanya barusan. Hidup di dunia ini adalah kehendak Tuhan, manusia cuma bisa berencana dan berusaha. Gue mendadak teringat sesuatu di masa lalu. Ketika gue merasa banyak pihak meremehkan karena keinginan gue nggak sesuai sama apa yang mereka mau. Sampai akhirnya podcast 'Halo, Bahagia' rilis dan membuat gue sadar, kalau gue berhak memilih jalan hidup sendiri.
"Gue setuju sama lo. Memang, di dunia ini, manusia cuma bisa menjalankan perannya sebagai makhluk yang baik. Meski, nggak semua baik. Kembali lagi, kalau Tuhan yang akan memberi penilaian secara adil dan merata," jawab gue mantap. Tersisa beberapa menit lagi rekaman kisah hidup Felix dirampungkan. Dirasa semua sudah beres, gue selaku host menutup acara yang berlangsung hampir dua jam. Sungguh, siang menjelang sore ini, waktu gue jadi dipenuhi banyak insight serta perenungan. Gue sangat berterima kasih pada Felix. Nggak lupa, gue kasih dia merchandise kecil-kecilan sebagai apresiasi atas semangat hidup dan ketulusannya untuk membagi kisah hidupnya kepada banyak orang.
"Beb, ayok makan dulu. Dari pagi kamu belum makan. Jangan nolak dengan alasan kerjaan. Kesehatanmu itu lebih penting!" Begitu gue masuk lagi ke studio setelah mengantar Felix keluar, Arumi Kiyomi, pacar kesayangan gue dari zaman kuliah, zaman alay, pokoknya gitu, udah nungguin sambil cemberut. Seperti biasa, dia selalu datang selepas gue selesai rekaman sambil bawain rantang susun tiga yang isinya berbagai macam lauk pauk dan nggak ketinggalan nasi uduk.