Holy Sister:
"Lo bakal pulang ke rumah, kan, nanti? Jangan sampe lupa atau Papa bakal murka. Gue tau lo benci sama gue, tapi apa salahnya menyempatkan buat ketemu. Siapa tau, lo dapet pencerahan hidup."
Gue mendengkus kasar ketika membaca rentetan pesan itu. Di tengah carut marut perkara hate comment netizen pemilik akun bodong, kenapa ia yang harus muncul ke permukaan? Gue kira, kita nggak lagi bertegur sapa karena kesibukan masing-masing. Ya, apa, sih, pentingnya itu? Bahkan sejak awal, saudara kembar gue yang satu itu—iya, gue punya saudara kembar kandung, bukan tiri. Tolong diingat dengan jelas!—udah melalang buana ke mana-mana. Maklum, prestasinya segudang, beda banget sama gue yang ala kadarnya. Tapi, kembali lagi. Setiap orang punya tujuan hidup masing-masing, kan? Nggak bisa disamaratakan, harus ini, harus itu. Gue yakin, begitu cara mainnya. Sayangnya, di keluarga gue beda, semua dituntut untuk mendekati sempurna.
Contohnya, semasa sekolah orang tua gue berharap kedua anak kembarnya masuk ke jajaran peringkat pertama, juara semua cabang lomba, dan punya hobi berkelas—semacam les piano, robotik, pokoknya yang gitu-gitu. Alhasil, setiap hari gue menjalani hari layaknya di barak militer. Nggak ada berhenti buat belajar. Semua soal di buku gue babat sampe nggak bersisa.
Sampai suatu malam, tepatnya sebelum hari ujian nasional tiba, gue bener-bener muak menjalani rutinitas yang diatur oleh orang tua gue selama tiga tahun itu. Alhasil, gue memutuskan untuk nggak dateng sama sekali dengan alasan sakit perut. Tau nggak apa yang terjadi? Jelas, orang tua gue murka banget. Gara-gara itu, gue terpaksa ikut ujian susulan. Udah gitu, ternyata nilai ujian nasional gue nggak memenuhi standar orang tua gue. Intinya, mereka mau semua anaknya jadi peringkat satu se kabupaten bahkan nasional.
Arrgh, kalau mengingat masa-masa sekolah dulu, perutku gue mendadak diserang mules, kepala pusing tujuh keliling, dan sesak napas. Maka dari itu, gue sangat membatasi basa-basi nggak penting apalagi menyangkut masa lalu sekolah yang bikin gue eneg. Beruntung, pas kuliah gue nekat milih jurusan sesuai sama apa yang dimau. Gue nggak dengerin berbagai rekomendasi, terutama dari keluarga, yang pasti nggak jauh-jauh dari jurusan Hukum, Kedokteran, Akutansi, dan Keuangan. Intinya, kata mereka, sih, kalau kuliah nanti, pilihlah jurusan yang menjanjikan. Sayangnya, gue nggak mau ikut arus mereka. Gue lebih memilih mengikuti kata hati. Jurusan Desain Komunikasi Visual yang gue pilih pada akhirnya.
Sekarang, gue bingung baiknya gimana merespons chat dari kembaran gue itu. Pasalnya, gue udah jarang banget nggak pulang ke rumah sejak kuliah. Selain karena tugas kuliah yang bejibun banyaknya, gue ogah kalau lama-lama di rumah. Tiada hari tanpa sindiran karena nggak menuruti apa kata orang tua. Malah pernah, gue dianggap buang-buang waktu kuliah di jurusan yang prospek kerjanya belum jelas apa. Duh, bingung gue harus ngomong apalagi. Mau njelasin salah, diem salah. Yaudah, gue berakhir memutuskan buat jaga jarak sampai gue punya podcast sendiri.
Fuja Zidane:
"Gue nggak janji bakal pulang. Agenda gue banyak, nggak cuma diem doang sambil rebahan."
Holy Sister:
"Ngapain aja? Paling ngurusin podcast doang, kan?"
Hell. Apa kata dia? Ngurusin podcast doang? Dia kira ngurusin podcast segampang itu, hah?
Jujur, gue udah nahan-nahan buat nggak mengumpat karena ketikan saudara kembar gue di luar nalar, tapi gue inget apa kata Arumi tempo hari dan sedikit membuka pikiran gue. Katanya, "Nggak semua hal bisa kita kendalikan, ada saatnya kita cuek karena manusia punya kapasitas yang berbatas."
Fuja Zidane: