Kedatangan sosok mantan presiden yang banyak menuai pujian ketika masa jabatannya membuat gue kalang kabut. Pasalnya, nggak mungkin banget gue menyiapkan tempat yang seadanya. Alhasil, studio podcast yang biasanya kelihatan 'Biasa Aja' sengaja gue rombak lebih rapi dan tertata. Penerangan gue atur semaksimal mungkin agar nanti sewaktu rekaman bisa mendapat hasil video yang ciamik. Daftar pertanyaan pun dibuat sopan dengan bahasa santai, tetapi minim basa-basi kurang penting. Semua tim sukses serius bekerja, termasuk Arumi, yang notabene nggak ada status apa-apa, tapi ikut menawarkan diri menjadi bagian keberhasilan rekaman dengan narasumber spesial pakai dua telor hari ini. Udah dibilang, pacar kesayangan gue itu emang idaman jempol dua!
"Bang, ini udah pas belum? Kalau biasanya tone warna video kita itu agak deep-cool sekarang gue agak naikin ke warm-spring, gimana? Ya, biar nambah kesan akrab dan hangat aja, soalnya bintang tamu kita agak beda kali ini," ujar Ahmad, bagian tim sukses yang megang kendali kamera. Dia adik tingkat gue, tinggal satu semester lagi lulus. Bukannya fokus skripsian malah kerja sambilan di studio gue. Katanya, buat cari pengalaman kerja. Barangkali, habis skripsian langsung terkenal, kan, cakep.
Gue belum langsung mengiyakan. Layar kamera gue zoom in zoon out dulu sampe detail gambarnya dapet. Pasalnya, semua video podcast gue wajib jelas, terang, dan tone warnanya pas. Alasannya ya demi kenyamanan penonton. Biar mereka nggak banyak komen jahat dan balik lagi ke channel gue. Lima menit lewat, gue baru angguk-angguk. Nggak lupa, kasih sedikit masukan dan saran agar tone warm springnya dinaikin dikit levelnya, biar merata semua. Setelah itu, gue lanjut menghampiri Danilla. Ngecek daftar antrean narasumber lainnya.
"Ini yang namanya Fernanda dari kampus kita bukan, ya? Gue kayak nggak asing, tapi masa iya dia sekarang lagi kena tumor otak? Perasaan, sehat-sehat aja kemarin," celetuk Danilla.
Gue menghela napas pelan. "Yah, namanya hidup, nggak ada yang tau, Dan. Sekarang sehat, bisa jadi besok-besok jatuh sakit. Makannya, lo baik-baik jadi orang, jangan kebanyakan bikin emosi. Minimal, dosa lo dikurangin dikit, lah!"
"Eh, si kampret. Kita sama-sama banyak dosanya, woi!" Danilla lalu menjitak gue, alhasil kita malah jadi ribut sendiri. Di tengah-tengah tim sukses sedang mempersiapkan segala hal, Arumi datang sambil membawa dua kantong plastik besar. Gue lihat-lihat di dalamnya ada lima kotak makanan warna kuning dan satu lagi isinya lima cup minuman. Eh, Arumi beli makanan? Kapan coba? Kapan dia keluar studio, maksud gue? Kenapa nggak beli sama gue aja gitu?
"Temen-Temen! Istirahat dulu, yuk! Kita belum makan siang, lho. Ini udah jam berapa coba?" Suara Arumi mengalihkan fokus semua orang yang ada di studio. Dewangga dan Ahmad pun kompak mendekati pacar gue sambil mengusap perut sekaligus memasang tampang memelas, mirip orang yang udah nggak makan seminggu.
"Masyaallah, allahu akbar. Ibu peri yang satu ini emang terbaik. Paham situasi dan kondisi kita semua. Makasih banyak, Arumi Kiyomi, aw! Aw! Aw!"
Sumpah, gue pengen nabok mulut Dewangga sekarang. Emang harus gitu ya bilang makasih ke orang? Najis banget sumpah! Untung, pacar gue nggak ilfeel-an anaknya, terus milih kabur dari studio karena nggak kuat mental.
"Apaan, sih, Wang! Jijay, lo! Pantes, jomlo terus. Orang kelakuan aja kek gitu!" sahut Danilla sinis. Kalau lagi bully Dewangga, gue sama Danilla emang sehati. Segala umpatan yang belum sempet gue lontarkan, udah diwakilin sama dia.
"Udah, udah, jangan berteman kalian! Mending, kita makan dulu, dah. Udah keroncongan, nih." Dari sudut ruangan—Reza si bocah paling aktif promosi konten podcast di sosial media—akhirnya ngomong juga. Soalnya, dia yang kelihatan pendiem dari yang lain. Nggak tau karena hemat suara apa emang lagi nahan boker, yang jelas dari awal kenal, Reza orangnya kebanyakan diem di pojokan. Gue mengekeh, lalu segera membantu Arumi membawa plastik besar berisi makanan dan minuman cepat saji itu ke rest room team. Ruangan minimalis yang sengaja gue disediakan buat tim sukses istirahat guna melepas lelah. Nggak banyak barang di sana, cuma ada meja bundar sedang sengaja diletakkan di atas karpet merah.
"Gue masih gak percaya narasumber kita nanti mantan presiden. Maksud gue, kok, bisa dia kepikiran buat mengabadikan kisah di channel podcast kita ini?" celetuk Dewangga sambil mengunyah kulit ayam crispy.