Halo, Bahagia

Deni Denol
Chapter #4

Bab 4 -- Nostalgia

Masa-masa kuliah emang beneran bikin kangen, apalagi pas PDKT sama Arumi. Kalau keinget momen itu, bikin gue senyam-senyum sendiri mirip orang gila. Yah, gimana, ya. Gue masih nggak nyangka aja bisa punya pacar kaya Arumi Kiyomi. Cewek cakep yang dulunya primadona kampus. Banyak cowok antre pengen deket sama dia. Tapi entah kenapa, Arumi malah milih nerima gue yang kelihatan gembel sekaligus cupu. Iya, gue akui semasa kuliah culun banget. Mana suka menyendiri di pojokan karena mau serius ngerjain tugas-tugas. Antri nongkrong-nongkrong club pula. Pokoknya pikiran gue pas itu, pengen lulus terus cari kerja sendiri.

Sampai pada akhirnya, gue nggak sengaja dipertemukan sama Arumi di warung komik langganan. Ternyata oh ternyata, kita suka sama komik yang sama. Alhasil, sore itu, ketika hujan menjebak kita berdua, gue sama Arumi ngobrol tentang banyak hal. Awalnya tentang komik, berujung ke kehidupan. Nggak disangka, Arumi bilang kalau nyaman sama gue yang apa adanya ini. Ah, memang Tuhan selalu punya cara terbaik untuk hamba-Nya apa pun kondisinya. Intinya, gue bersyukur banget bisa kenal dia. Seenggaknya, gara-gara Arumi, gue bisa bertahan sampe sekarang, sampe punya podcast sendiri.

"Kamu inget nggak, sih, Beb? Di taman ini, ada yang pura-pura sakit perut, taunya kasih bunga?"

Gue berdehem, mendadak nggak ngerti apa yang ditanyain Arumi itu. "Emang siapa? Ada ya orang begitu?"

Arumi tertawa singkat sambil ngerangkul lengan gue. "Ada. Kalau keinget mukanya, tuh, bikin gemes. Udah gitu, katanya dia lupa potong poni sebelum nembak aku. Ya ampun, padahal tampil apa adanya nggak masalah. Asalkan tulus no bulus."

"Maksudmu tampil apa, tuh? Pentas seni?" ujar gue bermaksud mengalihkan karena udah malu banget dengernya.

"Idih, pura-pura lupa ya kamu, Beb? Momen epic kayak gitu, kok, dilupain. Beda, lho, sama yang lain. Kalau kebanyakan cowok nembak cewek itu sok cool. Maunya tampil keren. Kamu nggak. Itu yang bikin aku, kayak ... ini manusia patut diacungi jempol empat!"

"Jempol empat? Jempol kita, kan, cuma dua, Beb?" Maaf, Arumi. Kali ini, gue beneran pengen kabur kalau keinget acara pernyataan cinta padamu itu. Terlalu memalukan apalagi soal poni yang lebih mirip anak alay. Maksud gue, pengennya itu bagusan dikit menyambut cinta pertama. Eh, malah, sebaliknya.

Arumi mendengkus. Kayaknya, dia mulai kesal sama tingkah gue. Biarlah, kalau misal badmood, tinggal gue beliin komik, atau gue peluk, beres.

Lihat selengkapnya