Halo, Bahagia

Deni Denol
Chapter #5

Bab 5 -- Cari Masalah

"Apa kabar, Bro? Sama siapa ke kampus? Sendiri?"

Ada satu hal yang gue benci selain komentar jahat dari akun bodong di akun podcast 'Hallo, Bahagia'. Yaitu, orang-orang yang nggak tau kalau dirinya salah malah berusaha kelihatan baik. Buat apa coba? Bikin benci iya, muak iya, apalah itu.

Gue tetap diam sambil angguk-angguk, tanpa membalas sapaan dan pertanyaan itu. Lagian, bisa-bisanya gue ketemu sama ini orang. Kayak, nggak ada orang lain aja di dunia. Iya, gue tau kalau dunia itu sempit, tapi ya nggak gini juga kali.

"Masih inget gue, kan? Temen sekelas lo pas kuliah, Fadli." Cowok setengah bule itu langsung duduk di kursi yang berhadapan sama gue persis. Bikin gue yang lagi kelaperan mendadak mual-mual.

"Ya, dikit," jawab gue cuek sambil menghela napas panjang. Arah mata gue sekarang fokus mencari Arumi di tengah keramaian kantin, berharap cewek itu segera balik. Seenggaknya, bisa menyelamatkan gue dari situasi nggak ngenakin ini.

"Hm, lo belum jawab pertanyaan gue. Ngapain lo ke kampus? Ada acara? Barangkali, kita satu tujuan."

Fadli memang pantang menyerah. Sengaja dicuekin masih aja nyerocos. Satu tujuan apanya coba?

"Main-main aja, sih. Yah, namanya juga kangen ngampus," jawab gue ogah-ogahan. Dari nada bicara gue seharusnya si Fadli paham kalau lawan bicaranya udah males ngomong sama dia, tapi ya namanya orang nggak sadar diri, begitulah akhirnya. Mana kepo abis jadi cowok.

"Dari dulu emang lo suka main-main, Ja. Kurang serius sama kuliah. Herannya, kok, pas lulus masuk jajaran wisudawan terbaik padahal DKV bukan main kuliahnya. Makan apa lo?"

Asli. Gue boleh ngomong kasar, nggak? Sumpah, tuh, bocah mulutnya minta disambelin apa gimana, dah?

"Wajar. Gue, kan, ditakdirin pinter. Jadi, semuanya gue libas." Dengan pedenya, gue jawab gitu. Salah siapa, main api duluan. Jelas, gue siram sekalian pake bensin, biar menyala!

"Ah, kalau itu nggak perlu diraguin lagi. Lo emang dari dulu udah pinter. Saking ambisnya, gue sampe heran kenapa lo jarang banget ikutan nongkrong sama kita-kita? Padahal, gaul itu asyik, Bro!"

Rasa-rasanya, telinga gue mulai penging dengerin Fadli ngomong. Udah sok akrab, nggak peka sama gue yang udah muak, terus sekarang pake bahas masa lalu. Udah paling bener dia mending pergi, tapi kalau gue usir sekarang, takutnya memicu banyak perhatian orang lain di kantin. Gimana kalau ada yang ngenalin gue karena podcast Hallo Bahagia dan ujungnya nggak mau nonton lagi?

"Makanan sudah datang! Eh, ada siapa, nih? Bule kampung, toh?" Akhirnya, yang ditunggu muncul ke permukaan. Gue seketika tersenyum lebar apalagi pas Arumi nyebut bule kampung. Mewakili gue banget yang hawanya pengen ngamuk dari tadi.

"Arumi? Ya ampun. Ternyata, cewek cakep ada di sini juga. Apa kabar?" Gue memperhatikan gerak-gerik Fadli yang mulai mencurigakan. Salah satu tangannya hendak meraih tangan Arumi, yang ujungnya gagal karena gue spontan menepisnya kasar.

Lihat selengkapnya