Halo, Bahagia

Deni Denol
Chapter #6

Bab 6 -- Respons Negatif

Untuk meredakan amarah yang sempat mampir tadi, gue dipaksa Arumi buat melipir ke kedai mi yamin langganan kita dulu semasa kuliah. Awalnya, gue menolak dan beralasan ingin menyendiri di kamar guna mendinginkan kepala yang panasnya udah mirip kawah gunung merapi. Namun, karena menghadapi makhluk sejenis Fadli bener-bener menguras energi, akibatnya nasi lengko yang gue makan sebagai sarapan sudah habis terserap semua nutrisinya. Sehingga, cacing-cacing di perut gue ini mulai minta jatah lagi. Pada akhirnya, gue terpaksa menuruti permintaan Arumi.

"Dimakan dulu mi yaminnya, Sayang. Nanti keburu dingin. Nggak usah mikirin kejadian tadi. Semua salah Fadli karena sengaja cari emosi sama kamu. Oke?"

Gue cuma nggak habis pikir. Di tengah gue berusaha tenang dalam menghadapi berbagai hate comment, malah ada masalah lain. Gue merasa, Tuhan sama sekali nggak memberikan sedikit masa tenang dalam hidup gue. Mulai dari gue kecil sampe dewasa, ada aja yang bikin gue muak, kesal, dan marah. Kadang gue sampe mikir, apa emang gue sebenernya nggak ditakdirin buat hidup di dunia?

"Menurutmu, aku bakal tetep diundang ke acara talkshow kampus, nggak? Aku emosi banget sampe nggak sadar ngeluarin sumpah serapah ke Fadli. Kira-kira, bakal jadi masalah nggak, ya?" Nggak bisa bohong, gue khawatir soal itu. Udah kepalang seneng karena bisa membawa nama podcast lebih mendunia lagi, malah ujungnya overthinking. Gue bukannya nggak bisa nahan emosi. Masalahnya, coba kalian bayangin ada di posisi gue tadi. Lagi berusaha kalem, nggak cari masalah, malah sengaja disenggol bacok.

Arumi memegang bahu gue, lalu mengusap pelan. "Jangan pesimis gitu, Beb. Tetep diundang, kok. Kapan lagi coba wawancara sama produser podcast 'Hallo, Bahagia' yang punya program unik? Rugi bandar mereka kalau sampe gagal jadiin kamu pembicara."

Entah kenapa, kata-kata Arumi selalu menggetarkan hati gue. Ada percikan semangat yang selalu gue butuhkan. Percikan layaknya cambukan agar gue kembali ke jalan yang lurus.

"Si Fadli nyebelin gitu, mungkin iri sama pencapaian kamu. Dari dulu, kan, selalu mgerecokin perihal ambis, belajar, IPK. Tiap ketemu kamu, pasti muka songong sama cerita-cerita halunya dia keluar," ucap Arumi panjang lebar sambil menyeruput es teh kampul. "Cerita halu soal dia yang bakal lebih sukses dari kamu karena udah punya bisnis digital. Padahal, kulihat sampe sekarang dia itu masih suka cari lowongan kerja di akun Linkedin-nya."

"Tapi, kalau dia udah punya bisnis dan loker yang dia cari cuma buat sambilan, gimana?" Respons gue masih negatif.

Arumi menghela napas. "Bedanya orang beneran sukses sama enggak, kelihatan, kok. Kalau orang beneran sukses dia nggak akan cari pamor cuma buat flexing."

Tidak ada respons lagi dari gue. Semangkuk mi yamin yang mulai setengah dingin ini memanggil untuk ditandaskan. Gue pun menyeruput sebagian, menikmati setiap rempah yang mulai terasa. Lumayan, sedikit melegakan hati serta perasan gue yang sedang tidak pada tempatnya.

Lihat selengkapnya