"Awalnya, aku beranggapan bahwa ketika kita terkena penyakit mematikan, hidup kita tidak lagi berarti. Namun, ternyata aku salah. Justru, dengan dikaruniai penyakit dari Tuhan yang menurut sebagian orang mengerikan, hidupku terkesan lebih bermakna."
Namanya Fernanda Yasmine. Dia adalah adik tingkat gue, masih semester lima. Dia datang ke studio pakai kursi roda diantar mamanya. Gue sempet tanya kenapa pakai kursi roda karena penasaran dan jawabannya malah bikin gue merenung. Katanya, anggota gerak tubuhnya sebelah kanan sempat mengalami kelemahan, susah buat gerak. Fernanda takut nggak bisa datang ke studio tepat waktu kalau dipaksa jalan kaya biasanya.
Ya Tuhan, padahal gue nggak sesaklek itu buat ikut aturan main program podcast sendiri. Gue memaklumi apabila narasumber gue ada halangan atau nggak bisa ke studio karena kambuhnya penyakit mereka. Sebab semua itu termasuk high and risk gue menjalankan podcast dengan narasumber khusus yang udah gue targetin sejak awal. Kalaupun, satu narasumber gagal rekaman, nggak masalah bagi gue. Rezeki udah ada yang ngatur, kok. Gue percaya Tuhan akan selalu baik bagi hamba-Nya yang sabar.
"Bagaimana caranya lo bisa menerima takdir yang menurut orang-orang itu adalah hal paling menyedihkan?" tanya gue penasaran.
Fernanda membenahi kerudung segiempatnya sejenak sebelum menjawab. "Awalnya, aku nggak langsung menerima. Marah yang kulakukan lebih dulu. Saksinya mamaku yang melihat anak perempuannya menangis sepanjang hari, lupa makan dan mandi karena sakit hati. Bayangkan, ketika sedang bersenang-senang, menikmati masa muda di perkuliahan harus dipatahkan dengan tumor otak yang tiba-tiba tumbuh dalam kepalaku ini. Aku sempat berpikir untuk berhenti menjalani hidup, memilih menyendiri sampai tutup usia. Utungnya semua itu nggak pernah terwujud. Berkat Tuhan menegurku lewat suatu kejadian, aku sadar. Hidupku berharga. Aku pantas melanjutkan semua yang sudah kujalani meskipun pada akhirnya kematian menjemput di ujung jalan."
Baru setengah perjalanan dari rekaman podcast, Fernanda sudah berhasil menampar gue dengan ceritanya. Jujur, gara-gara dia, gue malah termenung selagi teringat jalan hidup gue sendiri yang sering gue keluhkan setiap amarah sedang menyerang. Gue pikir, rasa syukur gue udah cukup dalam menghadapi huru-hara yang terkadang menyesakan dada. Rupanya, masih banyak hal yang perlu gue ubah, salah satunya bagaimana agar hati ini bergelimang sabar serta syukur yang terus bersatu dalam jalan kebaikan. Beuh, kalau lagi bener, otak gue emang jalan. Pikirannya positif terus, asek.
"Entah kenapa, gue salut banget sama lo, Nda. Dengan cobaan begitu berat, lo bisa bertahan sampe detik ini. Kayaknya, kalau gue nggak mungkin, sih. Adanya ngeluh, sambat, dan milih nyerah akhirnya," jawab gue jujur apa adanya.