Halo, Bahagia

Deni Denol
Chapter #8

Bab 8 -- Ada Apa?

Selesai mengantar kepulangan Fernanda pulang sampai mobil yang dinaiki cewek itu hilang dari pandangan, gue bersama tim sukses kembali ke studio. Gue masuk paling akhir sambil terus menatap notes pemberian Fernanda. Entah kenapa, senyum gue susah luntur dari bibir cuma gara-gara notes kecil yang kalau orang lihat cuma barang biasa. Bagi gue, pemberian dari orang lain itu sangat berarti. Apalagi, Fernanda kasih notes ini dengan alasan agar gue bisa menumpahkan segala keluh kesah di sana. Karena itulah, gue berasa dikasih tempat aman buat mengumpat soal kehidupan.

Yang bikin gue heran, baru pertama kali kenal dan ketemu, Fernanda udah seperhatian itu lewat motivasi sekalian nasihat yang dia kasih sampe meluber dan bikin gue pengen mewek, tapi gengsi. Bahkan, keluarga gue sendiri mana ada yang sikapnya kaya Fernanda. Mereka aja jarang muji gue dan malah memilih buat meng-anaktirikan gue demi prestasi Fajrina yang segudang itu. Padahal, gue anak mereka dan sering juara di lomba-lomba juga. Tapi kenapa, semua usaha gue itu seolah-olah dianggap angin lalu, ya? Apa salah gue, hah? Tau gitu, kenapa gue dilahirkan sekalian? Kenapa nggak Fajrina aja? Percuma, kan, punya anak kembar.

Di tengah gue mendadak sibuk sama pikiran sendiri, Arumi meraih memegang kedua bahu gue. Kedua matanya menatap lembut seolah berkata 'ada apa?'. Jujur, seketika detak jantung gue nggak terkendali. Padahal, gue sama Arumi udah lama menjalin hubungan, tetapi di saat-saat tertentu kayak gini, ditatap oleh matanya yang cantik dan dalam itu, gue pasti salah tingkah sendiri.

"Are you okay, Beb?"

Gue nggak langsung menjawab. Agak nge-bug sedikit, mirip aplikasi yang kebanyakan memori. "I'm okay. Why? Apa wajahku yang ganteng ini terlihat sayu dan merana?

Arumi mengernyit, kemudian melayangkan pukulan ke lengan gue. "Plis, Fuja. Jangan bercanda gitu, deh. Aku dari tadi perhatiin, kamu ada mellow-mellownya gitu. Lagi mikirin apa? Jangan bilang, mikirin omongan si Fadli kemarin?"

"Ya, Tuhan. Buat apa gue mikirin si pentol korek itu, Beb? Nggak penting banget. Gue cuma lagi terharu sama Fernanda. Dia diem-diem kasih gue ini." Gue menunjukan notes hijau muda ke Arumi.

"Katanya, kalau gue lagi marah, kesel, atau sebel, bisa nulis di sini, apa pun itu," lanjut gue yang makin lama nggak bisa nahan air mata. Gue pun merasa kedua bawah mata gue kayak ada yang ngeganjel.

"Kalau mau nangis, nangis aja, Sayang. Mau itu cewek atau cowok, semua berhak atas itu, kok. Nggak usah mikirin gengsi dan sebagainya." Perlahan, tapi pasti, Arumi membawa gue ke dalam peluknya. Tanpa menunggu waktu, gue berakhir meneteskan air mata, lalu terisak pelan di bahu Arumi.

Lihat selengkapnya