Kalau boleh jujur, Papa adalah orang yang berjasa menyekolahkan anaknya sampai menuai prestasi sana-sini. Gue paham betul bagaimana usaha Papa dalam mencari uang lewat bisnis rumah makannya. Pernah sesekali hampir bangkrut karena utang yang diwariskan dari almarhum kakek gue belum sepenuhnya dibayar lunas. Namun, berkat keteguhan dan konsisten Papa menjaga semuanya tetap terkendali, nggak terpengaruh oleh bisik-bisik yang membuat mental ambruk, usaha rumah makan tetap berjalan lancar sampai sekarang.
Gue selalu salut, nggak pernah nggak, sama Papa. Sampai akhirnya rasa itu perlahan luruh ketika Papa lebih mementingan kepentingan Fajrina. Semua keinginan saudara kembar gue pasti dituruti tanpa terkecuali. Sedangkan gue, pilih kuliah sendiri aja langsung di cap anak pembangkang, nggak mau nurut sama orang tua. Padahal, setahu gue pas baca-baca artikel di internet, seorang anak dibebaskan memilih impiannya sendiri dan orang tua cukup mengarahkan tanpa memaksa. Entahlah, gue terkadang heran sama pemikiran mereka. Mau sebel takut durhaka, mau nurut, tapi nggak sesuai sama hati nurani. Emang paling bener diem aja.
"Halo, Pa? Kenapa, ya?" tanya gue.
"Kemarin Papa ditawarin sama temen, soal beasiswa kuliah S2 di Australia. Jurusannya se-lini sama kamu pas S1 dulu. Prospek ke depannya bagus. Kamu bisa jadi desainer interior. Papa harap kamu mau nerima soal tawaran ini."
Gue emang sempet ditawarin S2 setelah lulus S1 dulu, tapi gue langsung nolak dengan alasan belum ada ilmu yang mau gue perdalam lagi. Lagian, buat apa lanjut S2 karena dipaksa? Apalagi cuma biar setara sama saudara kembar gue yang punya segudang prestasi itu? Halah. Halah. Terus, sekarang kenapa Papa masih kekeuh nawarin sekolah S2 ke gue? Belum menyerah rupanya.
"Sebelumnya, makasih, Pa, udah kasih tau informasi yang sangat bagus itu. Tapi, aku belum mau lanjut S2 atau apa pun. Fokusku masih sama. Podcast yang masih baru banget berdiri dan itu sesuai sama keinginanku saat ini." Rasa-rasanya, gue ingin segera menutup sambungan telepon ini daripada makin runyam. Feeling gue pasti selalu negatif ketika Papa minta tolong ke gue buat menuruti apa maunya.
Terdengar dengkusan pelan dari seberang sambungan. Gue yakin, Papa lagi kecewa mendengar jawaban panjang lebar anak laki-lakinya barusan. Ah, tapi gue masa bodoh, lah. Kalau kena caci maki ya silakan. Udah biasa, kok. Udah kebal.
"Apa hebatnya punya program podcast, Fuja? Berapa penghasilan yang kamu dapat dari sana? Memang, masa depan kamu terjamin hanya karena itu?"