Halo, Bahagia

Deni Denol
Chapter #10

Bab 10 -- Ketemu Teman (Musuh) Lama

-Halo, Bahagia Team-

Ahmad Tim Sukses: "Bang Fuja, gimana kabar talkshow podcast kita? Jadi, nggak, tuh?"

Dewangga Tim Sukses: "Wah, talkshow, Guys."

Danilla Tim Sukses: "Iya, ya, sampe lupa kalau ada agenda talkshow juga. Anyway, kapan, nih? Biar kita bisa persiapan jadi supporter belakang panggung. :3

Fuja Zidane: "Sabar ya, Guys. Belum ada kabar lagi. Terakhir, rencananya akhir bulan besok. Emang pada mau dateng?"

Reza Tim Sukses: "Kalau ada jajannya, gas aja."

Danilla Tim Sukses: "Jajan mulu lo, Rez. Biasanya juga tidur di pojok studio!"

Arumi Kiyomi: "Doakan yang terbaik buat Fuja ya, temen-temen. Semoga lewat talkshow nanti, makin banyak yang tau podcast kita. Aamiin."

Danilla Tim Sukses: "Aamiin, ya Allah. Makin mendunia!

Mengawali pagi dengan membaca chat di grup tim sukses bikin mood gue happy banget. Setelah sempat melewati sedikit angin petir karena Papa kemarin, gue mendadak gundah gulana. Bukan karena apa-apa, gue lebih ke memikirkan tentang apa yang gue lakukan ini. Apakah emang gue melakukan semuanya—soal podcast, tujuan hidup, nekat merantau—cuma main-main dan tiada artinya sama sekali?

Namun, di balik itu, melihat dukungan tim sukses yang tulus membuat hati gue jadi menghangat. Nyatanya, masih ada banyak orang di luar sana yang mau mendukung apa yang dimau gue tanpa men-jugde, menuntut, dan membandingkan. Gue sangat bersyukur bisa menemukan mereka. Ditambah lagi, gue dapet bonus punya pacar cantik yang rasa kepeduliannya tinggi. Kurang apa coba nikmat Tuhan di kala gue sendiri merasa nggak berguna gara-gara keluarga menganggap sebelah mata? Ah, gue emang terkadang gelap mata. Nggak mau melihat apa yang sudah gue raih dengan susah payah.

Puas meladeni chat di grup tim sukses, gue beranjak dari kasur menuju kamar mandi, lalu ambil wudu, baru solat subuh. Kalau biasanya, gue memilih tidur sebentar setelah subuh, tetapi kali ini kayaknya nggak dulu. Rencananya, sebelum melakukan banyak aktivitas, terutama agenda rekaman podcast bersama dua narasumber, gue mau lari pagi. Karena kesibukan kerap melanda, hingga membuat lupa waktu, gue merasa badan ini mulai menunjukan reaksi pegal linu.

Gue biasanya lari di stadion olahraga yang nggak jauh dari studio podcast. Ada untungnya, punya studio dan tempat tinggal alias kos di tengah kota. Strategis banget, ke mana-mana deket. Cuma kurangnya, gue nggak suka di setiap tempat ada tukang parkirnya. Ibarat kata, baru masuk sebentar, terus keluar lagi, masa harus banget bayar? Masalahnya, nggak cuma satu tempat yang dikunjungi, tapi ada banyak. Yaudahlah, namanya juga hidup. Kata Ahmad, sih, gini "Nggak apa-apa, Bang. Bisa jadi, ketika Abang ikhlas kasih uang ke tukang parkir, rezeki bakal ngalir terus." Iya, omongan Ahmad emang bener adanya, tapi lama-lama bikin tekor juga, tiap pergi ngasih receh.

Arumi: "Good Morning, My Sunshine. Aku nyusul, ya, pake sepeda. Agak telatan dikit. Soalnya, Arya minta dibikin sarapan omlete buat di sekolah. "

Fuja Zidane: "Iya, Sayang. Aman. Titip salam buat Arya, ya. Kapan-kapan aku pengen ajak main si gembul main lagi."

Lihat selengkapnya