"Ya ampun. Jujur, gue kasihan banget sama narasumber kita yang pertama sore ini. Lihat background story-nya nyesek abis. Ini beneran, dia jadi korban pelecehan seksual sama keluarga sendiri? Nggak nyangka," ujar Danilla sambil memasang wajah sedih.
"Iya, tapi aku salut dia berani buat membagikan kisah pribadinya ke publik. Nggak semua orang berani untuk itu," sahut Arumi yang lagi duduk di sebelah gue.
Gue mendesah pelan. "Barangkali, selama ini dia mungkin pengen cerita ke keluarga di rumah, tapi apa daya. Semua orang yang dia yakini bisa jadi tempat pulang dengan rasa aman malah memilih menghakimi dan nggak menyadari bahwa anak perempuan mereka tersakiti jiwa dan hatinya."
Ucapan gue barusan agaknya menyentil relung hati gue yang paling dalam. Mengingat perihal menghakimi, nggak dianggap, bahkan harus pergi dari rumah dulu untuk menggapai cita-cita yang diinginkan. Kalau dipikir-pikir, apa salahnya, sih, nggak ngikutin keinginan orang lain? Termasuk orang tua? Mereka memang yang membesarkan gue, tapi bukan berarti bisa memaksakan kehendak anaknya agar sesuai apa mau keduanya, kan?
"Ja? Fuja?"
Satu tepukan di punggung berhasil menyadarkan gue dari lamunan. Setelah berhasil menyadarkan diri, gue pun langsung bergerak menyiapkan kedatangan narasumber si cewek SMP ini. Kami perlu menata studio ulang dengan bernuansa seperti di rumah. Untungnya, usulan Ahmad untuk menyimpan berbagai macam properti guna keperluan layout studio, gue acc. Jadinya, kesan studio 'Halo, Bahagia' nggak monoton pas sesi rekaman. Banyak netizen yang kasih komentar dan salah fokus sama tatanan layout-nya. Sungguh, gue mendadak bangga sama diri sendiri, soalnya udah berani ambil keputusan yang tepat.
"Kayaknya, kita perlu siapin topeng atau masker untuk narasumber kali ini. Dia emang berani membagikan kisah pribadinya, tapi belum tentu dirinya sendiri bersedia jadi pusat perhatian," usul Danilla, masih fokus menata tanaman monstera di dalam pot yang nantinya bakal ditaruh di pojok-pojok ruang rekaman.
Dewangga yang baru saja selesai memasang gorden bersama Ahmad mengangguk-angguk. Setuju dengan pendapat Danilla. Gue pun ikut setuju lantaran takut narasumber utama jadi nggak nyaman di tengah jalan karena privasinya terganggu. Alhasil, gue mencoba mengaduk-ngaduk isi kardus khusus barang-barang random yang barusan gue bawa dari gudang, siapa tahu nemuin topeng atau sejenisnya
Nyatanya, di dalam kardus cuma ada barang-barang yang fungsinya udah nggak ada lagi dan gue baru ingat seharusnya semua yang ada di situ udah diloak. Duh, faktor U, suka lupa, susah ingat.
"Kita nggak punya topeng apalagi masker. Perlu beli dulu atau gimana?" ujar gue mengalihkan atensi Tim Sukses yang masih sibuk dengan urusan masing-masing.
"Boleh, sih. Tapi, mepet banget, nggak? Barusan gue dapet kabar kalau narasumber pertama kita bentar lagi sampe," ujar Danilla memberitahu.
Gue berdecak pelan. Bingung karena ide topeng ataupun masker untuk narasumber kali ini baru ada dan mendadak. Di tengah-tengah gue berpikir keras, nada dering ponsel gue mengecohkan suasana. Tadinya sempat hening karena semua yang ada di studio berkutat dengan pikiran masing-masing, sedetik kemudian mendadak heboh karena ada panggilan masuk yang entah dari siapa.
Namun, gue menyesal setelah tahu siapa yang menelpon di waktu sore yang syahdu ini. Lagian, ngapain satu manusia itu menelpon gue?
"Siapa, Beb? Kok, dibiarin?" tanya Arumi perlahan mendekati gue, bahkan dia sedikit mengintip layar ponsel gue yang dari tadi terabaikan.