Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #1

Hari Pertama

Alex datang tiga puluh menit lebih awal, sebuah keputusan yang kemudian ia sesali selama dua puluh sembilan menit berikutnya. Gedung bank itu berdiri kokoh di pusat kota, sebuah menara kaca raksasa yang seolah memaksa Alex menghadapi pantulan dirinya yang tampak asing. Kemeja putihnya masih kaku bau toko, celana bahan hitamnya disetrika setajam silet, dan sepatu pantofelnya berderit setiap kali ia bergeser. Bunyi itu seolah berteriak, mengumumkan bahwa pemakainya adalah seorang amatir yang sedang menyamar sebagai orang dewasa yang kompeten.

Ia berdiri diam di depan pintu otomatis. Setiap kali pintu terbuka dengan desisan halus, hembusan udara dingin yang steril menyapu wajahnya. Ini bukan lagi lorong kampus yang riuh. Ini adalah wilayah yang tidak mengenal ampun bagi keterlambatan, tempat di mana presisi adalah Tuhan dan kesalahan adalah dosa.

"Hari pertama," gumamnya kecil. Ia bukan lagi mahasiswa yang bermimpi; ia adalah seorang Junior Administrative Officer yang kini harus belajar mengelola angka-angka yang membentuk dunia.

Begitu melangkah masuk, dunia di luar seketika mati. Bau karpet bersih bercampur aroma samar cairan pembersih kaca menciptakan atmosfer kekuasaan yang terorganisir. Lantai marmer lobi begitu mengilap, memantulkan ritme orang-orang yang bergerak tenang seperti komponen dalam jam dinding besar.

Alex mendekati meja resepsionis sambil merapikan kartu identitas di lehernya. Di sana, namanya tercetak tegas: ALEXIUS DHARMA. Resepsionis memberikan senyum profesional yang telah dilatih bertahun-tahun, sebuah protokol tanpa kehangatan tulus.

"Mas Alex, ya? Bagian operasional?"

"I-iya, benar," jawab Alex terlalu cepat.

Di lantai dua, perkenalan terjadi seperti montase film yang berjalan terlalu cepat. Ada Pak Rudi yang menjabat tangannya terlalu kuat, Bu Lestari yang menatapnya tajam dari balik kacamata, serta Andi dan Rina yang hanya mengangguk singkat tanpa melepaskan pandangan dari monitor. Tidak ada sambutan meriah. Di sini, setiap orang adalah baut dalam mesin besar; jika satu baut baru masuk, mesin hanya terus berputar.

Alex duduk di meja kerjanya yang persegi panjang sempurna. Ruangan itu begitu hening, menyisakan suara ketukan kibor yang monoton. Instruksi kemudian datang beruntun, padat, dan tanpa ruang negosiasi: "Catat semua arus masuk, perhatikan kode pajak, jangan sampai salah input, gunakan verifikasi ganda."

Alex mencatat semuanya dengan ketelitian obsesif di buku kecilnya. Di dalam kepalanya, hanya ada satu mantra: jangan membuat kesalahan, jangan terlihat bodoh.

Menjelang siang, saat rasa lapar mulai menyerang, Alex diminta memasukkan data transaksi harian ke dalam sistem inti bank. Secara teori, ini mudah. Namun, tekanan dari ruangan yang sunyi membuat segalanya terasa berbahaya.

Lalu, kesalahan itu terjadi.

Kelingkingnya tanpa sengaja menyentuh tombol yang memicu perintah eksekusi dini pada kolom yang belum tervalidasi. Layar monitornya berkedip. Angka-angka bergeser, memicu kalkulasi otomatis yang memunculkan deretan angka merah di layar, tampak seperti luka yang baru terbuka.

Lihat selengkapnya