Maria tiba di bank tepat lima belas menit sebelum jam operasional dimulai. Itu adalah sebuah ritual, bukan sekadar ketepatan waktu. Ia tidak suka datang terlalu pagi karena ia enggan terjebak dalam obrolan kosong di ruang istirahat, namun ia juga tidak pernah membiarkan dirinya terlambat meski hanya satu menit. Baginya, lima belas menit adalah jeda suci, sebuah ruang kedap suara yang ia butuhkan untuk bertransisi dari dirinya yang privat menjadi Maria yang publik.
Di ruang staf yang sempit, ia menyimpan tasnya di loker nomor empat belas. Ia berdiri sejenak di depan cermin kecil yang tertempel di pintu loker, merapikan beberapa helai rambut yang berani keluar dari ikatan. Jari-jarinya bergerak terampil, kaku namun pasti. Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah itu adalah wajah yang telah dilatih untuk tetap netral di bawah tekanan. Mata cokelat gelapnya telah terbiasa memindai lembaran uang palsu, menatap angka-angka yang menari di layar monitor, dan membaca mikrokspresi nasabah yang berdiri di balik kaca pelindung.
Ia mengenakan seragam biru tuanya dengan cara seorang prajurit mengenakan zirah. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada perhiasan mencolok selain jam tangan kulit sederhana yang sudah aus di bagian talinya. Ia menyematkan papan nama di dada kirinya, lalu menarik napas panjang. Udara di dalam bank mulai terasa dingin saat mesin pendingin sentral menderu hidup. Maria menyukainya. Dingin itu membuatnya tetap terjaga.
Ia melangkah menuju area teller, melewati barisan meja yang masih kosong. Di sana, mesin hitung uang mulai dinyalakan oleh rekan-rekan lainnya, mengeluarkan suara klak-klak-klak yang ritmis. Bagi Maria, suara itu adalah musik latar yang paling menenangkan. Itu adalah suara kepastian. Dalam dunia yang penuh dengan variabel yang tidak menentu, mesin itu memberikan jawaban yang mutlak. Tidak ada emosi di sana. Hanya ada angka, dan Maria mencintai angka karena angka tidak pernah berbohong.
"Pagi, Maria," sapa Rina, teller di sebelahnya, tanpa menoleh dari tumpukan slip.
"Pagi," jawab Maria singkat.
Hubungan mereka adalah hubungan yang dibangun di atas efisiensi. Tidak ada basa-basi tentang akhir pekan atau keluhan tentang pasangan. Mereka berfungsi seperti bagian-bagian dari mesin jam yang dirawat dengan baik. Maria disukai bukan karena ia hangat, melainkan karena ia adalah jangkar. Saat sistem sedang lambat atau saat nasabah mulai berteriak karena antrean yang memanjang, Maria adalah sosok yang tetap tenang. Ia jarang melakukan kesalahan. Nyaris tidak pernah.
Rutinitas pagi itu berjalan secara otomatis. Ia menghitung saldo awal, menyusun slip setoran dan penarikan berdasarkan warna, serta memastikan semua stempel berada di tempatnya. Tangannya bergerak dengan memori otot yang luar biasa, seolah-olah pikirannya bisa berada di tempat lain sementara tubuhnya menjalankan tugas-tugas administratif ini.
Sampai sebuah suara memecah kedamaian mekanisnya.
"Maria."
Maria mendongak. Pak Rudi, kepala cabang yang memiliki kecenderungan untuk bicara terlalu keras di ruangan yang sunyi, berdiri tidak jauh dari mejanya. Di sampingnya, berdiri seorang pria muda yang tampak seperti sedang menunggu vonis hukuman mati.
"Iya, Pak?"
"Mulai hari ini, kamu jadi mentor untuk pegawai baru kita, Alex. Dia di bagian operasional, tapi saya ingin dia paham alur dari sisi teller juga agar koordinasi datanya lebih sinkron. Tolong bimbing dia, ya."
Maria mengikuti arah pandangan Pak Rudi. Alex berdiri di sana dengan postur yang kaku, seolah-olah ia takut jika ia menggerakkan bahunya sedikit saja, ia akan menabrak sesuatu yang mahal. Kemejanya putih cemerlang, terlalu baru untuk dunia yang penuh debu kertas ini. Tangannya menggenggam sebuah buku catatan kecil dengan sangat erat, seperti seorang pelaut yang berpegangan pada pelampung di tengah badai.
Maria mengangguk pelan. "Baik, Pak."