Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #3

Kesalahan Kecil

Pagi itu, bank tidak memberikan ruang bagi siapa pun untuk sekadar menarik napas panjang.

Bahkan sebelum jarum jam menunjuk angka sembilan, antrean nasabah sudah memanjang, meliuk-liuk seperti ular yang tak sabar di atas lantai marmer yang dingin. Mesin hitung uang berdenting cepat, suaranya yang mekanis hampir terdengar seperti detak jantung yang sedang dipacu adrenalin. Udara di dalam ruangan terasa lebih padat dari biasanya; campuran antara aroma parfum mahal, keringat orang yang tergesa-gesa, dan desis konstan dari pendingin ruangan yang bekerja maksimal.

Alex berdiri di balik meja pelayanan dengan punggung yang kaku, seolah ada besi yang menopang tulang belakangnya. Hari ini adalah ambang pintu yang sebenarnya. Ia tidak lagi duduk di samping Maria hanya untuk mengamati atau mencatat. Hari ini, ia adalah ujung tombak.

"Transaksi sederhana dulu, Alex. Kamu sudah melewati simulasi dengan baik. Kamu sudah siap," kata Pak Rudi pagi tadi dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Siap. Kata itu terasa seperti beban berton-ton yang diletakkan di atas pundaknya. Alex mengangguk, meski ia bisa merasakan telapak tangannya mulai lembap.

Di balik meja, ia merapikan letak map dan memastikan layar monitor berada tepat di depan matanya. Di dalam kepalanya, ia mengulang prosedur itu seperti sebuah doa yang dihafalkan dalam ketakutan. Verifikasi dokumen. Input nominal. Cek ulang kode transaksi. Konfirmasi. Ia tidak boleh melompati satu tahap pun.

Nasabah pertama datang dengan wajah lelah, meminta setoran tunai. Alex melayaninya dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski ia merasa setiap gerakannya diawasi oleh ribuan pasang mata. Nasabah kedua, ketiga, lalu keempat. Setiap kali transaksi berhasil dan struk tercetak dengan bunyi krrriiing yang khas, Alex mengembuskan napas kecil.

Satu aman. Dua aman. Tiga

Lalu, di transaksi kelima, dunianya mendadak berhenti berputar.

Seorang pria paruh baya memberikan tumpukan uang dan slip transfer ke rekening perusahaan. Alex melakukan semuanya dengan urutan yang benar. Ia menghitung uangnya, memverifikasi tanda tangannya, dan mulai mengetikkan angka-angka ke dalam sistem. Semuanya tampak berjalan lancar sampai ia sampai pada tahap peninjauan akhir.

Matanya menyipit, menatap barisan angka di layar. Ada yang terasa ganjil, sesuatu yang tidak selaras antara slip fisik dan apa yang ia ketik.

Satu digit tertukar. Angka "7" yang seharusnya berada di depan "2", justru ia ketik terbalik.

Bukan kesalahan yang mencolok. Bukan nol yang hilang secara dramatis atau tambahan angka jutaan yang akan segera memicu alarm sistem audit. Namun, di dunia perbankan, satu digit yang salah adalah pintu menuju bencana. Itu berarti uang itu akan mendarat di rekening yang salah, atau lebih buruk lagi, terperangkap dalam status pending yang memerlukan birokrasi berhari-hari untuk diperbaiki.

Jantung Alex seketika berdegup keras, menghantam dinding dadanya dengan kekuatan yang membuatnya mual. Tangannya membeku di atas mouse. Ia merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja diisap keluar.

Waktu seolah melambat secara paksa. Suara riuh rendah di lobi bank mendadak menjauh, berganti dengan dengungan statis di telinganya. Yang ada hanya layar monitor yang terang benderang, angka yang salah itu, dan kursor yang berkedip-kedip seolah sedang mengejek kegagalannya.

Jika ia menekan tombol konfirmasi sekarang, kesalahan itu akan menjadi permanen. Pikirannya langsung melompat ke skenario terburuk. Ia membayangkan wajah Pak Rudi yang memerah karena marah. Ia membayangkan laporan tertulis yang akan mencoreng namanya selamanya. Ia membayangkan tatapan rekan-rekan senior yang akan mengonfirmasi kecurigaan mereka: bahwa ia hanyalah seorang amatir yang tidak bisa diandalkan.

Pemecatan. Kata itu terlintas begitu saja, dingin dan tajam.

"Mas? Kenapa? Ada masalah?" suara nasabah di depannya terdengar samar, seperti datang dari balik tembok yang tebal.

Lihat selengkapnya