Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #4

Kopi

Jam dinding di lobi bank menunjukkan pukul lima lewat dua belas menit ketika suara gerendel pintu utama dikunci dari dalam. Suara klik logam itu bergema di ruangan yang luas dan sunyi, terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya, seolah-olah bunyi itu adalah tanda titik yang dipaksakan pada sebuah kalimat yang belum benar-benar selesai.

Alex masih duduk di mejanya.

Ia membereskan berkas-berkasnya satu per satu dengan gerakan yang lambat, hampir seperti sebuah upacara. Ia menyelaraskan sudut-sudut map, mengembalikan pulpen ke tempatnya semula dengan presisi milimeter, dan menata tumpukan kertas seolah-olah ia sedang menyusun kepingan hidupnya yang berantakan. Layar komputernya sudah lama mati, menyisakan pantulan wajahnya yang tampak lelah dan sedikit pucat di balik kaca hitam. Namun, ia belum bangkit.

Kesalahan kecil siang tadi belum sepenuhnya pergi dari kepalanya. Paniknya memang sudah surut, namun sisa-sisanya masih ada, menempel seperti debu yang sulit dibersihkan. Ada rasa bersalah yang lengket di sudut hatinya, sebuah bisikan jahat yang terus mengingatkannya bahwa ia hampir saja mengacaukan segalanya jika bukan karena tangan dingin yang menariknya kembali.

Di ruang teller, Maria sedang menyampirkan tas kulitnya yang sudah agak pudar ke bahu. Ia memeriksa laci kas satu terakhir kali, memastikan semuanya sudah terkunci rapat. Gerakannya tenang, efisien, dan tanpa keraguan, sebuah kontras yang tajam dengan kegelisahan Alex. Namun, sebelum ia melangkah keluar, matanya melirik ke arah meja operasional. Ia menangkap sosok Alex yang masih terpaku di sana, dengan bahu yang masih tampak kaku meski hari sudah berakhir.

"Alex," panggilnya. Suaranya rendah, tidak memecah kesunyian, melainkan menyatu dengannya.

Alex menoleh cepat, sedikit terkejut seolah baru saja dibangunkan dari lamunan yang dalam. "Iya, Mbak?"

"Kita minum kopi dulu, ya," kata Maria ringan. Ia tidak menatap Alex dengan penuh selidik, ia hanya berdiri di sana, memegang tali tasnya. "Biar hari ini tidak kamu bawa pulang ke tempat tidur."

Alex terdiam selama sepersekian detik. Undangan itu terasa begitu sederhana, namun di telinga Alex, itu terdengar seperti sebuah tawaran gencatan senjata terhadap pikirannya sendiri. Ada keraguan sejenak, apakah ia pantas menerima kebaikan ini? Namun, tatapan Maria yang tenang membuatnya tidak bisa berkata tidak.

"Oh, boleh," jawabnya akhirnya. "Kalau Mbak Maria tidak keberatan."

Maria tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya muncul di sudut bibir. "Kalau saya keberatan, saya tidak akan mengajak."

Mereka berjalan keluar gedung bersama. Udara sore di luar sudah berubah menjadi malam yang setengah matang. Langit Jakarta berwarna ungu gelap yang kusam, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan ke atas trotoar yang masih lembap oleh sisa gerimis tadi siang. Kota ini terasa berbeda saat jam kerja berakhir; lebih jujur, lebih sedikit pura-puranya.

Warung kopi yang mereka tuju tidak jauh dari kantor. Itu bukan kafe dengan desain industri yang dingin atau musik jazz yang diputar dari pengeras suara mahal. Itu hanyalah sebuah tempat kecil di pojok gang yang seolah luput dari waktu. Papan namanya sudah pudar dimakan cuaca. Kursi-kursinya tidak seragam; ada yang kayunya sudah mulai lapuk, ada yang bersandar terlalu miring. Lampu-lampu kuning di dalamnya redup, memberikan bayangan yang lembut pada segala sesuatu yang disentuhnya.

Mereka duduk berhadapan di sebuah meja kayu yang penuh dengan bekas goresan, catatan dari orang-orang asing yang pernah singgah di sana. Seorang bapak tua dengan handuk kecil di leher mendekat tanpa banyak tanya, mencatat pesanan di secarik kertas kecil yang nyaris sobek.

"Kopi hitam satu," kata Maria, mantap.

"Saya... sama saja," tambah Alex, suaranya kini lebih santai.

Lihat selengkapnya