Pagi itu berjalan dengan ketenangan yang hampir mencurigakan.
Langit di luar jendela besar lobi bank tampak cerah tanpa drama awan yang berlebihan. Udara di dalam ruangan tidak terlalu dingin, namun juga tidak membiarkan keringat menempel di kulit. Segalanya tampak bekerja sama untuk menciptakan sebuah ilusi besar: bahwa hidup sedang baik-baik saja, bahwa badai sudah berlalu, dan bahwa setiap manusia di dalam gedung ini berada tepat di tempat yang seharusnya.
Alex tiba di bank tepat waktu. Ia menggantungkan kartu identitasnya dengan gerakan yang mulai terasa alami, tidak lagi secanggung hari pertama. Ia duduk di meja kerjanya, menyalakan komputer, dan membiarkan sistem operasi berputar dengan dengungan yang ia kenal.
Rutinitas, sang penyelamat yang membosankan, kembali mengambil alih.
Berkas-berkas ditata berdasarkan urgensi. Laporan harian dibuka. Angka-angka mulai mengalir di layar monitor seperti sungai digital yang tidak pernah bertanya ke mana ia harus pergi atau mengapa ia harus mengalir. Alex mengikuti arus itu, berusaha menenggelamkan dirinya dalam logika matematika yang murni. Ia bahkan berhasil melakukannya, setidaknya selama beberapa puluh menit yang damai.
Lalu, bayangan itu datang tanpa ketukan pintu.
Bukan bayangan wajah yang utuh dalam resolusi tinggi. Lebih seperti potongan-potongan fragmen yang tersisa dari malam sebelumnya di warung kopi: pantulan cahaya lampu kuning yang redup pada gelas kaca, suara tawa Maria yang singkat namun sangat jujur, dan bagaimana kalimat perempuan itu yang sederhana sanggup tinggal lebih lama di kepala Alex daripada instruksi kerja manapun. Ada rasa hangat yang belum punya nama di sana, sebuah rasa aman yang perlahan mulai ia tanam.
Alex menggelengkan kepalanya pelan, sebuah usaha fisik untuk mengusir distraksi tersebut. Fokus, perintahnya pada diri sendiri. Kamu baru saja mulai bisa bernapas di sini.
Ia sedang membaca ulang sebuah laporan rekonsiliasi ketika ponselnya di saku celana bergetar.
Sekali.
Pendek.
Tajam.
Alex tidak langsung mengeluarkannya. Ada sisa kecemasan dari masa kuliah yang menahannya, sebuah trauma kecil setiap kali ponsel berbunyi di tengah konsentrasi, seolah apa pun yang muncul di layar itu selalu berpotensi menjadi berita buruk atau gangguan yang mengacaukan ritme hidupnya.
Getaran kedua datang. Lebih mendesak.
Alex menghela napas, melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada pengawas yang memperhatikannya. Aman. Ia mengeluarkan ponselnya, menjaganya tetap di bawah garis meja, dan menunduk sedikit.
Dan di sanalah, di atas layar yang bercahaya, nama itu muncul.
Ester.
Tidak ada embel-embel marga. Tidak ada emotikon hati yang dulu pernah ada di sana. Hanya lima huruf yang membentuk satu nama, cukup untuk membuat otot dada Alex mengeras seketika, seolah-olah ia baru saja dipukul oleh sesuatu yang tak terlihat.
Alex membeku.
Jarinya berhenti di udara, menggantung beberapa milimeter di atas layar. Dunia di sekelilingnya tetap berputar dengan kecepatan yang sama; suara tuts keyboard diketuk, kursi-kursi digeser, mesin hitung uang berdengung di kejauhan. Namun, semua itu terdengar jauh dan kabur, seolah-olah ia tiba-tiba berada di bawah air. Nama itu seperti sebuah kata sandi lama dari kehidupan yang ia kira sudah ia tinggalkan, tiba-tiba diucapkan dengan lantang di tengah ruang suci.
Ester.