Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #6

Sekolah Pinggir Kota

Ester selalu bangun tepat lima menit sebelum alarm di ponselnya memekik.

Itu adalah sebuah kesetiaan tubuh yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun. Dalam keheningan subuh yang masih biru, ia akan berbaring sejenak, menatap bayangan dahan pohon mangga yang menari di langit-langit kamarnya yang sempit. Pikiran Ester di jam-jam seperti ini biasanya masih tertinggal di antara sisa mimpi yang kabur dan doa pagi yang belum sepenuhnya terangkai dalam kata-kata.

Rumah kontrakannya terletak di sebuah gang yang cukup sempit untuk satu mobil, namun cukup luas untuk menyimpan ketenangan. Hanya ada dua kamar kecil dengan cat dinding yang mulai mengelupas di bagian bawah karena lembap. Dapur di sudut rumah lebih sering dipenuhi oleh aroma pahit kopi instan dan sisa wangi sabun cuci daripada bumbu masakan yang rumit. Di ruang tamu, rak buku kayu yang hampir melengkung karena beban muatannya menjadi satu-satunya benda yang tampak megah. Tidak ada kemewahan material di sana. Tapi bagi Ester, "cukup" adalah sebuah pencapaian spiritual yang jauh lebih sulit diraih daripada "lebih".

Ia menyiapkan diri tanpa terburu-buru. Mengikat rambut hitamnya ke belakang dengan rapi, mengenakan blus polos berwarna gading dan rok panjang berwarna gelap yang sudah sering dicuci namun tetap terjaga kebersihannya. Di cermin kecil yang buram, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah itu adalah wajah yang telah belajar untuk berdamai dengan kesunyian. Matanya jernih, meski ada gurat kelelahan yang halus di sudutnya. Ester tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri di depan cermin apakah ia merasa bahagia. Baginya, bahagia adalah konsep yang terlalu fluktuatif. Ia hanya bertanya satu hal setiap pagi: apakah aku bisa tetap setia hari ini?

Perjalanan menuju sekolah memakan waktu hampir satu jam. Ia harus berganti angkutan umum dua kali, melewati transisi kota yang perlahan berubah dari deretan ruko beton menjadi perkampungan padat yang saling berhimpitan. Ester menyukai posisi duduk di dekat jendela. Ia membiarkan pemandangan di luar bergerak seperti pita film yang rusak, tumpukan sampah di pinggir jalan, kios-kios kecil yang baru membuka rolling door mereka dengan suara berisik, hingga gerombolan buruh pabrik yang menunggu jemputan. Ia melihat semuanya tanpa ingin memberikan tafsiran apa pun.

Sekolah Katolik itu berdiri di ujung sebuah jalan buntu yang dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi gudang tua. Bangunannya adalah peninggalan masa kolonial yang telah mengalami beberapa kali renovasi seadanya. Cat temboknya sudah pudar oleh terpaan matahari dan hujan bertahun-tahun, dan papan namanya yang bertuliskan "SMP Katolik Santa Maria" sudah mulai berkarat di sudut-sudutnya. Namun, lonceng paginya,nsebuah potongan besi tebal yang digantung di dekat gerbang, masih dibunyikan dengan penuh disiplin. Suara logam yang beradu itu tidak pernah terdengar merdu, namun ia selalu terdengar jujur.

Ester biasanya tiba sebelum matahari benar-benar naik tinggi.

Ia memulai harinya dengan membuka kunci ruang kelas yang berbau kayu lama dan debu kapur. Ia menyapu papan tulis, menghapus bayangan tulisan dari pelajaran kemarin sampai benar-benar bersih, lalu menata buku-buku di atas meja guru. Meja-meja murid di sana tidak seragam; beberapa memiliki permukaan yang penuh dengan guratan nama, dan beberapa kakinya harus diganjal potongan kayu agar tidak goyang. Namun, Ester memastikan setiap meja berada pada garis yang simetris. Baginya, keteraturan fisik adalah langkah pertama untuk menenangkan pikiran anak-anak yang akan datang.

Satu per satu, murid-muridnya mulai berdatangan.

"Pagi, Bu Ester," sapa seorang anak laki-laki dengan seragam yang tampak kebesaran.

"Pagi, Samuel," jawab Ester dengan senyum yang teduh.

Sapaan-sapaan itu terdengar sederhana, namun Ester tahu bahwa mata anak-anak ini menyimpan cerita yang jauh lebih rumit daripada soal matematika yang ia ajarkan. Ada yang datang dengan perut kosong, ada yang membawa kecemasan karena orang tuanya kembali bertengkar semalam, dan ada yang sudah kehilangan harapan bahkan sebelum hidup benar-benar dimulai. Ester menyapa mereka semua dengan nada suara yang sama, sebuah nada yang stabil, hangat namun tetap memiliki batasan yang jelas.

Di dalam kelas, suara Ester tidak pernah meninggi. Ia mengajar dengan cara yang mengundang, bukan memerintah. Ia tidak suka menggunakan rasa takut sebagai alat kendali. Ketika seorang murid tampak kesulitan memahami konsep nilai mutlak, Ester akan mendekat, berjongkok di samping meja anak itu, dan mengulang penjelasannya dengan perumpamaan yang paling dekat dengan dunia mereka.

Lihat selengkapnya