Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #7

Doni

Pagi Doni selalu dimulai pada jam yang sama, ketika matahari bahkan belum sepenuhnya sadar bahwa ia punya kewajiban untuk terbit.

Gedung latihan itu terletak di sebuah kompleks tua, sebuah bangunan beton yang masih menyisakan kegelapan di sudut-sudutnya. Udara di dalamnya adalah campuran yang akrab bagi indra penciumannya: bau keringat yang sudah mengendap lama, aroma logam dari beban yang dingin, dan bau lantai karet yang disterilkan. Lampu-lampu neon menyala dengan bunyi dengungan halus, memantulkan bayangan tubuh-tubuh yang sudah mulai bergerak dalam ritme yang nyaris tanpa suara. Doni berdiri di tengah ruangan, menunduk sejenak untuk mengunci fokus, lalu mulai.

Pukulan.

Tendangan.

Tarikan napas yang diatur dengan presisi mesin.

Gerakannya tidak pernah meledak-ledak tanpa tujuan. Ia tidak mencari tepuk tangan dari penonton yang tidak ada. Setiap jurus, setiap pergeseran tumpuan kaki, adalah hasil dari pengulangan yang menyiksa, tahun-tahun disiplin yang menuntut segalanya dari tubuh namun memberikan ketenangan yang luar biasa bagi kepalanya. Otot-ototnya bekerja di bawah kulitnya yang kecokelatan seperti mesin yang dirawat dengan penuh kesabaran. Keringat mulai mengalir, membasahi kaus tipisnya, namun wajah Doni tetap datar. Matanya tajam, namun tenang, seolah ia sedang menatap musuh yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

Di dunia bela diri, nama Doni bukan sekadar embel-embel. Medali-medali tersimpan rapi di rumahnya, dan namanya sering disebut dalam percakapan para pelatih senior. Foto-fotonya pernah menghiasi selebaran kejuaraan dan kolom berita singkat. Namun, Doni tidak pernah membicarakan itu. Baginya, reputasi bukanlah sesuatu yang perlu dipamerkan di depan umum seperti perhiasan murah; reputasi adalah tanggung jawab yang harus dijaga dalam diam.

"Ulangi," katanya singkat kepada seorang atlet muda yang sedang berlatih di depannya.

Suaranya rendah, tanpa nada ancaman yang dibuat-buat. Namun, sang atlet muda itu segera patuh tanpa bertanya. Yang membuat orang-orang menaruh hormat pada Doni bukan karena ia bersuara keras, melainkan karena ada keyakinan yang begitu padat di balik setiap kata dan gerakannya.

Latihan berakhir tepat saat cahaya matahari mulai menembus jendela-jendela tinggi di langit-langit gedung. Doni menyeka wajahnya dengan handuk kecil, merapikan perlengkapannya, lalu duduk bersila di tepi matras. Ia menutup matanya, membiarkan detak jantungnya melambat secara bertahap. Dalam keheningan itu, pikirannya terasa bersih, steril dari segala hiruk-pikuk dunia luar. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia terus bertahan di arena, karena di sana, hidup terasa lurus, jujur, dan tidak memiliki ruang untuk kebohongan.

Namun, di luar arena, Doni adalah sosok yang berbeda bagi banyak orang. Ia adalah pria yang lebih banyak memilih untuk mendengar daripada berbicara. Ia percaya bahwa kekuatan yang sesungguhnya tidak perlu diumumkan dengan pengeras suara. Kekuatan baginya adalah kehadiran, datang tepat waktu saat berjanji, menepati kata-kata yang sudah terucap, dan tidak pernah menghilang di saat-saat tersulit.

Sore harinya, Doni memarkir mobilnya di depan gerbang SMP Katolik di pinggir kota. Jam pulang sekolah hampir tiba. Murid-murid mulai keluar dengan seragam yang tampak kusam karena debu seharian, bergerak seperti arus sungai kecil yang riuh dan tidak beraturan. Beberapa anak yang mengenali wajahnya menyapa dengan sopan.

"Kak Doni!"

Doni mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang hanya menyentuh sudut bibirnya. "Pulang yang rapi," jawabnya pendek.

Lihat selengkapnya