Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #8

Kenangan

Kampus itu sesungguhnya tidak memiliki sesuatu yang istimewa untuk dibanggakan dalam brosur arsitektur.

Gedung-gedungnya berdiri tegak tanpa ambisi estetika yang muluk, hanya deretan beton berlapis cat krem yang cepat sekali kusam oleh serangan hujan asam dan panas matahari Jakarta yang menyengat. Bangku-bangku semen yang tersebar di pelataran fakultas terasa keras dan dingin, bahkan sebelum bokong sempat mendarat di atasnya. Kantinnya? Selalu terlalu riuh, terlalu pengap, dan terlalu penuh dengan aroma minyak goreng bekas untuk sekadar disebut tempat menikmati makanan.

Namun di sanalah, di antara retakan ubin dan debu perpustakaan, segalanya bermula. Semuanya terjadi tanpa rencana yang matang, tanpa tanda-tanda alam yang dramatis, dan tanpa seorang pun dari mereka bertiga sadar bahwa suatu hari nanti, kenangan di tempat ini akan terasa jauh lebih berat untuk dipanggul daripada ijazah yang mereka terima dengan bangga di hari wisuda.

Pagi di kampus selalu memiliki ritme yang gaduh dan tidak beraturan. Mahasiswa berjalan tergesa dengan ransel yang setengah terbuka, membiarkan kertas-kertas fotokopi mencongkel keluar seperti rahasia yang tak sempat disembunyikan. Tawa berseliweran di udara, bercampur dengan keluhan-keluhan standar tentang dosen yang pelit nilai, tugas yang tak masuk akal, dan kerumitan hidup yang mendadak terasa terlalu besar untuk bahu anak muda usia dua puluhan.

Alex pertama kali menginjakkan kaki di sana dengan langkah yang sangat ragu.

Ia bukan tipe pria yang akan mencuri perhatian saat masuk ke dalam ruangan. Bajunya selalu rapi meski tidak bermerek, rambutnya disisir seadanya tanpa bantuan minyak rambut berlebihan, dan matanya lebih sering menunduk menatap sepatu daripada menantang dunia. Alex adalah mahasiswa yang rajin, bukan karena ia memiliki ambisi untuk menaklukkan korporasi besar, melainkan karena ia memiliki kebiasaan untuk melakukan segala sesuatu dengan tertib. Baginya, melakukan hal dengan benar adalah bentuk kesopanan paling mendasar pada hidup.

Doni datang ke dalam hidup mereka seperti kebalikan yang sempurna dari segala sesuatu yang mewakili Alex.

Pria itu dikenal bahkan sebelum ia benar-benar memperkenalkan diri. Tubuhnya atletis, buah dari disiplin di sasana bela diri sejak remaja. Tawanya keras, menular, dan kehadirannya selalu sanggup mengisi ruang-ruang kosong yang canggung. Doni sangat mudah disukai, bukan karena ia berusaha keras untuk menjadi populer, tapi karena orang-orang merasa aman berada di dekat seseorang yang tampak begitu yakin akan siapa dirinya. Dunia kampus menyukai kejujuran yang terpancar dari keberadaan Doni.

Dan Ester... Ester berada tepat di antara keduanya, seperti jembatan yang menghubungkan dua daratan yang berbeda.

Ester tidak terlalu menonjol dalam kerumunan, tapi ia juga tidak pernah benar-benar hilang. Wajahnya memiliki kehangatan yang tenang, tutur katanya teratur, dan caranya mendengarkan sanggup membuat lawan bicaranya merasa menjadi satu-satunya orang yang penting di dunia saat itu. Ia cerdas tanpa sedikit pun nada sombong, dan ramah tanpa perlu basa-basi yang melelahkan. Jika Alex adalah perlambangan dari diam yang dalam, dan Doni adalah suara yang lantang, maka Ester adalah jeda yang membuat nada keduanya menjadi harmonis.

Mereka bertiga dipertemukan oleh sesuatu yang sangat sepele: tugas kelompok mata kuliah Pengantar Sosiologi.

Nama-nama mereka tercetak berurutan di papan pengumuman fakultas. Tanpa protes dan tanpa curiga, mereka duduk bersama untuk pertama kalinya di bangku kayu paling belakang kelas yang pengap. Awalnya, segalanya terasa kaku. Percakapan mereka terbatas pada sinkronisasi jadwal, pembagian materi tugas, dan hitung mundur menuju tenggat waktu.

Lihat selengkapnya