Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #9

Mulai Menunggu

Pagi Maria selama bertahun-tahun ini selalu memiliki tekstur yang sama: dingin, sunyi, dan sangat terukur.

Jam alarm di nakas samping tempat tidurnya berbunyi tepat pukul lima tiga puluh pagi. Nadanya datar, monoton, nyaris menyerupai sebuah pengumuman resmi dari sebuah otoritas yang tidak bisa dibantah. Maria akan bangun tanpa pernah menekan tombol snooze. Ia akan merapikan sprei dan menepuk bantal dengan gerakan yang telah dihafal oleh tubuhnya selama ribuan hari. Ia mandi dengan air dingin yang sanggup mengusir sisa-sisa mimpi, lalu memilih pakaian kerja tanpa perlu berdiri lama di depan lemari. Blus berwarna netral, rok kerja yang jatuh tepat di bawah lutut, dan sepatu tumit rendah yang nyaman.

Cukup rapi. Cukup profesional. Cukup untuk membuat dunia melihatnya sebagai sosok yang stabil. Hidup Maria selama ini berjalan di atas rel yang bernama "cukup".

Ia berangkat kerja tepat waktu, mengemudikan kendaraannya menembus jalanan Jakarta yang mulai memadat. Radio diputar dengan volume rendah, hanya sekadar agar kesunyian di dalam mobil tidak terlalu mengganggu telinga. Maria tidak pernah merasa perlu untuk datang terlalu awal ke kantor. Baginya, datang tepat waktu adalah bentuk disiplin tertinggi, ia tidak ingin terlihat terlalu antusias seolah-olah hidupnya hanya tentang pekerjaan, namun ia juga terlalu beradab untuk menjadi tidak peduli.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, ada sebuah jeda kecil yang mulai menyelinap masuk ke dalam rutinitas steril itu. Sebuah celah tipis yang awalnya tidak ia sadari, namun perlahan mulai melebar.

Maria kini seringkali sudah berada di depan gedung bank ketika matahari bahkan belum sepenuhnya naik dari balik cakrawala beton. Lampu-lampu lobi di dalam masih menyala pucat, memberikan kesan seperti mata yang baru saja dipaksa terbuka. Ia sempat berhenti sejenak di depan pintu kaca otomatis, melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, lalu tersenyum tipis pada bayangannya sendiri.

Masih sangat pagi, bisiknya dalam hati. Tidak apa-apa. Mungkin udara pagi memang lebih enak untuk dinikmati di sini.

Ia masuk, menyapa satpam dengan anggukan ringan yang sopan, lalu berjalan menuju meja teller miliknya. Komputer dinyalakan dengan bunyi beep yang familiar. Laci kas dibuka dan diperiksa. Semua dilakukan dengan protokol yang sangat ketat. Namun, ada satu gerakan baru yang kini muncul secara organik, sebuah gerakan yang tidak pernah tercatat dalam standar prosedur kerja mana pun di bank itu.

Maria menoleh ke arah pintu masuk utama.

Hanya sekilas. Sebuah gerakan leher yang hampir tak terlihat. Setelah itu, ia kembali menatap layar monitor. Namun, beberapa menit kemudian, saat ia mendengar bunyi pintu kaca bergeser, ia kembali menoleh. Tidak ada siapa-siapa di sana selain petugas kebersihan yang sedang mendorong troli kecilnya dengan langkah malas. Maria menarik napas panjang, sedikit lebih panjang dari yang sebenarnya ia butuhkan.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak tahu apa yang sedang ia tunggu.

Atau mungkin, ia sebenarnya tahu dengan sangat jelas, dan itulah letak masalahnya. Kesadaran itu adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang ia coba tekan kembali ke dasar pikirannya agar tidak mengacaukan ketenangan yang sudah ia bangun susah payah.

Sejak Alex bergabung di kantor ini, pagi-pagi Maria seolah-olah mendapatkan tempo musik yang baru. Alex bukanlah pria yang menempati ruang besar dalam hidup Maria. Mereka bahkan jarang berbincang tentang hal-hal di luar urusan pekerjaan. Alex adalah pria yang canggung, pendiam, dan seringkali tampak datang dengan beban pikirannya sendiri yang berat. Tidak ada rayuan murahan di sana. Tidak ada perhatian-perhatian khusus yang mencolok.

Lihat selengkapnya