Hubungan mereka tidak pernah berubah secara dramatis atau meledak menjadi sesuatu yang baru dalam semalam.
Tidak ada makan malam romantis di bawah lampu remang Jakarta. Tidak ada pesan-pesan singkat larut malam yang penuh dengan kode atau kerinduan tersembunyi. Bahkan, tidak ada satu pun sentuhan fisik yang sengaja dibiarkan lebih lama dari hitungan detik profesional. Di permukaan, mereka tetaplah dua orang yang bekerja dalam satu ritme operasional yang kaku.
Namun, di bawah permukaan marmer bank yang dingin, ritmenya telah bergeser.
Ini seperti mendengarkan sebuah lagu yang masih sama liriknya, namun temponya pelan-pelan berubah tanpa kita sadari kapan mulainya. Ada keheningan yang lebih padat di antara kata-kata mereka, dan ada perhatian yang lebih tajam dalam setiap gerakan kecil.
Alex tetaplah Alex.
Ia masih menjadi pria yang akan mengetuk meja kayu Maria dengan sangat pelan sebelum berani bertanya sesuatu, seolah-olah ia sedang meminta izin untuk memasuki sebuah dunia yang jauh lebih rapi dan teratur daripada dunianya sendiri. Ia masih mengucapkan “terima kasih” untuk hal-hal sepele yang bagi orang lain tidak perlu dibalas dengan kata-kata, seperti saat Maria menyerahkan pulpen atau merapikan slip setoran. Ia masih menjadi orang pertama yang akan meminta maaf kepada nasabah jika mereka menunggu terlalu lama, meskipun ia tahu betul bahwa keterlambatan itu adalah akibat dari sistem pusat yang sedang lambat, bukan kesalahannya.
Dan yang paling konsisten dari dirinya: Alex memperlakukan semua orang dengan porsi kebaikan yang sama utuhnya.
Maria memperhatikan itu setiap hari. Alex memberikan senyum tulus yang sama kepada satpam di depan pintu, kepada petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai, kepada nasabah tua yang cerewet tentang potongan administrasi, hingga kepada teller lain yang kadang menunjukkan sikap jutek. Semua orang mendapatkan versi Alex yang terbaik, sopan, tulus, dan sama sekali tidak dibuat-buat demi mencari muka.
Awalnya, Maria hanya mengagumi sifat itu. Lalu, kekaguman itu berubah menjadi rasa hangat yang menjalar di dadanya setiap kali ia melihat Alex membantu orang lain. Dan akhirnya, rasa itu bermuara pada satu titik yang paling berbahaya: Maria merasa aman.
Di dekat Alex, Maria merasa ia tidak perlu bersikap menjadi apa pun selain dirinya sendiri. Ia tidak perlu memoles wajahnya agar tampak lebih muda, tidak perlu mengeraskan suaranya agar tampak lebih berwibawa sebagai senior, dan tidak perlu melakukan hal-hal mengesankan agar dipandang hebat. Alex tidak pernah menatapnya dengan tatapan yang mengukur atau memiliki niat tersembunyi. Tidak ada pujian dari Alex yang terasa berat karena membawa beban harapan tertentu.
Dan justru di dalam rasa aman yang tulus itulah, benih bahaya itu tumbuh subur.
Suatu siang yang sangat sibuk, ketika antrean nasabah memanjang hingga ke pintu keluar dan suasana di dalam bank mulai terasa tegang karena pendingin ruangan yang kurang terasa, Alex berdiri di samping meja Maria. Tanpa banyak bicara, ia membantu Maria memeriksa tumpukan dokumen yang mulai menggunung. Ia menggeser berkas-berkas berat yang posisinya sulit dijangkau agar Maria tidak perlu bersusah payah merenggangkan tangannya.