Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #13

Chapter 13

Sore turun dengan keanggunan yang melankolis di halaman sekolah.

Langit belum sepenuhnya menyerah pada kegelapan, namun warna birunya yang tajam sudah mulai menipis, digantikan oleh semburat jingga dan ungu yang lembut di kaki cakrawala. Suara murid-murid masih memecah udara, riuh, ringan, dan penuh dengan sisa tenaga yang seolah tak pernah habis meski seharian bergelut dengan buku pelajaran.

Di seberang gerbang besi yang mulai berkarat, sebuah mobil terparkir dengan posisi yang sangat rapi.

Doni tidak membunyikan klakson. Ia benci kebisingan yang tidak perlu.

Ia mematikan mesin, menurunkan kaca jendela sedikit agar udara sore yang mulai dingin bisa masuk, dan menunggu. Tangannya bertumpu dengan santai di atas lingkar setir yang terbungkus kulit. Matanya tenang, tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan. Menunggu, bagi Doni, bukanlah sebuah beban atau pemborosan waktu. Sebagai seorang atlet, ia sangat paham arti dari sebuah kesabaran yang aktif. Ia tahu bahwa kemenangan, baik di atas matras maupun dalam hidup, tidak pernah lahir dari gerakan yang terburu-buru atau emosi yang meledak tanpa arah.

Gerbang sekolah akhirnya terbuka lebar. Anak-anak berhamburan keluar seperti kawanan burung yang baru dilepaskan dari sangkar besi. Tawa mereka yang jujur memantul di dinding-dinding tua bangunan sekolah, menciptakan suasana yang kontras dengan keheningan di dalam mobil Doni.

Ester muncul di antara kerumunan itu.

Ia berjalan perlahan sambil menundukkan kepala, mendengarkan dengan saksama seorang murid perempuan yang berbicara tanpa jeda di sampingnya. Tangannya memeluk beberapa buku teks yang tebal. Senyumnya hadir di sana, tipis, lelah, namun tetap memancarkan kehangatan yang tulus.

Ketika pandangan mata Ester akhirnya menemukan mobil Doni yang terparkir di seberang jalan, langkahnya sedikit melambat. Senyumnya berubah haluan, menjadi sedikit lebih redup namun jauh lebih pribadi.

Ia menyelesaikan kalimat terakhirnya pada sang murid, mengusap puncak kepala anak itu dengan lembut, lalu melangkah mantap menyeberangi jalan menuju mobil.

Doni sudah keluar dari pintu kemudi sebelum Ester benar-benar sampai di depan mobil. Tanpa banyak kata, ia membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan yang efisien namun penuh perhatian.

"Capek?" tanya Doni singkat saat Ester mulai duduk di sampingnya.

"Lumayan," jawab Ester sambil menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Ia menarik napas panjang, seolah sedang melepaskan beban hari itu di sana.

Tidak ada pelukan selamat datang. Tidak ada sapaan romantis yang berlebihan. Namun, jarak di antara mereka di dalam kabin mobil itu terasa sangat akrab. Seperti dua orang yang sudah tidak lagi membutuhkan banyak penjelasan atau basa-basi untuk merasa cukup satu sama lain.

Mobil melaju perlahan meninggalkan area sekolah. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, membentuk garis cahaya panjang yang seolah-olah menjadi pemandu jalan bagi mereka berdua.

"Rafael tadi hampir berkelahi lagi di kelas," kata Ester tiba-tiba, matanya menatap kosong ke arah lampu-lampu toko yang mereka lewati.

Doni tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada orang asing. "Anak yang suka lupa bawa PR itu?"

"Iya. Tapi hari ini bukan soal PR. Ini soal bangku."

"Bangku?"

Ester tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang didentingkan pelan. "Dia merasa bangkunya terlalu dekat dengan jendela. Katanya, panas matahari mengganggu konsentrasinya untuk melamun."

Doni tidak langsung menimpali. Ia mendengarkan cerita itu dengan seluruh keberadaannya, memberikan ruang bagi Ester untuk menumpahkan sisa hari kerjanya.

Lihat selengkapnya