Pagi itu terasa jauh lebih berat daripada pagi-pagi biasanya, meski mendung tidak menggantung di langit Jakarta.
Bukan karena tumpukan pekerjaan yang menunggu di atas meja kayu bank, bukan pula karena kemacetan yang menguras energi. Melainkan karena Maria terbangun dengan sebuah kesadaran yang sudah sepenuhnya utuh, sebuah kenyataan yang tak bisa lagi ia bantah, ia tawar, atau ia sembunyikan di balik lipatan sprei tempat tidurnya.
Ia mencintai Alex.
Bukan jenis cinta yang riuh dan penuh dengan deklarasi. Bukan cinta yang membuatnya ingin menuliskan nama pria itu di setiap lembar buku catatannya atau membuatnya tersenyum sendiri tanpa henti sepanjang hari.
Ini adalah jenis cinta yang tumbuh seperti akar di bawah tanah yang lembap, tidak terlihat oleh mata siapa pun di permukaan, namun diam-diam mencengkeram dan menahan seluruh batang pohon hidupnya agar tetap berdiri tegak di tengah badai.
Maria duduk di tepi tempat tidurnya selama beberapa menit lebih lama dari rutinitas biasanya. Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai tipis, membentuk garis-garis pucat yang kontras di atas lantai marmer kamarnya yang dingin. Ia menatap garis-garis cahaya itu tanpa benar-benar melihatnya. Pikirannya sedang berkelana ke arah meja operasional di kantor.
"Baiklah," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau tertelan kesunyian kamar.
Ia menyadari satu hal: mengakui perasaan tidak selalu berarti harus bertindak. Kadang-kadang, mengakui pada diri sendiri hanyalah sebuah cara untuk berhenti berbohong pada cermin setiap pagi.
Ia mulai bersiap dengan presisi yang sama. Blus yang disetrika tanpa cela, rambut yang tersisir rapi tanpa satu helai pun yang berantakan, dan sepatu kerja yang mengilap sempurna. Namun, ada satu hal yang berbeda pagi ini, ia merasa seolah-olah sedang mengenakan baju zirah tak kasatmata. Hari ini, ia harus jauh lebih berhati-hati. Hari ini, benteng profesionalitasnya harus dibangun dua kali lebih tinggi.
Di gedung bank, suasana belum terlalu ramai ketika Maria melangkah masuk. Ia sengaja tidak lagi datang terlalu pagi seperti beberapa hari lalu. Ia memperlambat langkahnya di lobi, seolah-olah dengan mengurangi durasi "menunggu", ia bisa mengurangi rasa sakit di dadanya.
Namun, Alex sudah ada di sana. Pria itu sudah lebih dulu duduk di kursinya, berkutat dengan tumpukan map.
Melihat punggung Alex saja sudah cukup untuk membuat jantung Maria berdetak lebih cepat, sebuah pengkhianatan fisik yang membuatnya benci pada dirinya sendiri.
"Pagi, Mbak Maria," sapa Alex tanpa menoleh sepenuhnya, tangannya masih sibuk menandatangani berkas.
"Pagi, Alex," jawab Maria dengan nada suara yang sudah ia latih di dalam mobil tadi.
Senyum yang ia berikan adalah senyum yang sempurna, profesional, terukur, tidak terlalu hangat hingga mengundang tanya, namun tidak terlalu dingin hingga menyinggung perasaan. Sebuah mahakarya dari seorang wanita yang sudah terbiasa menyembunyikan emosi.
Maria duduk di mejanya, menyalakan sistem komputer, dan membiarkan cahaya biru monitor menerangi wajahnya. Tangannya bergerak otomatis mengikuti prosedur operasional perbankan yang sudah dihafalnya di luar kepala, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih keras. Ia sedang menjalankan sebuah protokol pertahanan batin: