Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #15

Chapter 15

Jam makan siang di kawasan perkantoran Jakarta selalu datang tanpa permisi, merangsek masuk di antara tumpukan dokumen dan dering telepon yang belum usai. Namun bagi Maria, kali ini jeda itu terasa lebih dinanti, lebih bergetar, seolah-olah waktu sengaja melambat hanya untuk memberinya kesempatan menghirup udara yang sama dengan Alex di luar sekat-sekat kantor yang kaku.

Alex, Maria, bersama Rina dan Bima, dua rekan kerja lainnya, melangkah keluar dari gedung bank. Transisi dari suhu ruangan yang membekukan menuju pelataran parkir yang terpanggang matahari siang terasa seperti sebuah kejutan fisik. Suara langkah sepatu mereka yang beradu dengan trotoar berpadu dengan deru lalu lintas kota yang tak pernah beristirahat. Cahaya matahari memantul tajam di jendela-jendela kaca mobil yang mengantre macet, menciptakan kilatan-kilatan yang menyilaukan mata.

Mereka menuju sebuah rumah makan kecil di seberang jalan. Tempat itu sederhana, bahkan bisa dibilang agak sempit untuk ukuran empat orang dewasa. Meja-mejanya terbuat dari kayu yang permukaannya sudah halus karena usia, dan kursi-kursinya akan mengeluarkan bunyi derit yang khas setiap kali diduduki. Bau bumbu tumisan yang tajam, aroma nasi hangat yang mengepul, dan uap dari teh manis panas langsung menyambut mereka, mengisi rongga hidung dan memancing perut yang sudah sejak tadi berdecak menahan lapar.

“Jadi, siapa yang berani coba sambal paling pedas di sini? Aku dengar level paling tingginya bisa bikin kita lupa nomor PIN ATM sendiri,” seloroh Rina sambil melempar senyum nakal ke arah Bima.

Alex tertawa. Suara tawanya ringan, spontan, dan sama sekali tidak mengandung usaha untuk terdengar "keren" atau berwibawa. Ia duduk di posisi tengah, posisi yang sebenarnya membuatnya menjadi pusat gravitasi tanpa ia sadari. Alex tipe pendengar; ia lebih banyak menyimak daripada melempar topik, namun setiap kali ia tersenyum, kehangatan itu memancar hingga ke sudut-sudut matanya. Maria, yang duduk tepat di seberang Alex, memperhatikan detail itu dengan ketelitian seorang akuntan yang sedang memeriksa saldo.

Maria menata sendok dan piringnya dengan gerakan pelan, hampir ritmis. Di tengah keriuhan warung yang pengap itu, ia mendadak merasa bersyukur. Baginya, rutinitas makan siang ini adalah sebuah kemewahan yang sunyi. Di sini, tidak ada angka-angka yang harus diseimbangkan, tidak ada laporan audit yang menghantui, hanya ada suara manusia, denting sendok, dan kehadiran Alex yang terasa begitu nyata dalam jarak yang bisa dijangkau tangan.

Percakapan mengalir seperti air. Rina dan Bima mulai saling menggoda tentang kehidupan asmara mereka yang berantakan. Candaan khas kantor muncul satu per satu, mulai dari cerita tentang nasabah yang mencoba mencairkan cek kedaluwarsa hingga kisah salah transfer yang absurd yang dialami divisi sebelah. Alex ikut tertawa di momen-momen yang tepat. Tawanya tidak pernah terdengar dibuat-buat; ia tertawa karena ia memang merasa lucu, bukan karena ingin menyenangkan hati orang lain.

Lihat selengkapnya