Sore itu, hujan rintik menetes dengan ritme yang malas di permukaan kaca jendela bank yang tebal. Suara air yang jatuh di atas atap logam bangunan membentuk sebuah irama lembut yang monoton, seolah-olah alam sedang mencoba menenangkan hiruk-pikuk dunia yang tak pernah berhenti bersuara di luar sana. Di dalam ruangan, suasana sudah relatif sepi. Sebagian besar nasabah telah menyelesaikan urusannya, meninggalkan hanya beberapa orang yang masih duduk menunggu dengan sabar. Rekan-rekan teller lainnya sibuk menata dokumen akhir hari, sementara mesin pendingin ruangan berdengung ringan, menjadi latar bagi sebuah percakapan yang tak pernah direncanakan sebelumnya.
Alex berdiri di depan meja kerja Maria. Tangannya sedikit gemetar saat ia memegang selembar kertas yang sebenarnya tidak perlu ia bawa. Wajahnya menampakkan keraguan yang sangat jarang terlihat; sebuah ekspresi yang jauh dari sosok Alex yang biasanya tenang dan teratur. Ia memandang layar komputer Maria sejenak, lalu menoleh ke arah mesin kasir, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang yang terdengar sangat berat.
“Maria… boleh aku bicara sebentar? Maksudku, bicara yang benar-benar bicara?” suaranya pelan, nyaris menyerupai bisikan yang memohon izin untuk meruntuhkan dinding profesionalitas mereka.
Maria menoleh, mengalihkan pandangannya dari angka-angka di monitor. Ia memberikan senyum ringannya yang khas, senyum yang selalu berhasil memberikan kesan bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja. Ia menyingkirkan beberapa tumpukan kertas ke sudut meja, memberikan ruang kosong yang luas di antara mereka. “Tentu saja, Alex. Ada apa? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu di ruang arsip.”
Alex menarik kursi di seberang Maria dan duduk dengan kaku. Ia menatap tangannya yang dilipat erat di pangkuan, seolah-olah ia sedang mencoba menahan dirinya agar tidak pecah. Matanya sesekali melirik ke luar jendela, menatap butiran hujan yang jatuh tanpa henti. Ada sebuah kombinasi yang rumit di wajahnya: kebingungan yang mendalam, kelelahan mental, dan sebuah gurat rasa bersalah yang kelabu.
“Ini agak… membingungkan bagi aku,” mulainya dengan suara rendah yang sedikit bergetar. “Aku belum pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun di kantor ini. Bahkan kepada orang tuaku sekalipun.”
Maria hanya mengangguk perlahan, memberikan sebuah keheningan yang suportif. Sebagai seorang wanita yang sudah lama belajar mengendalikan emosi, ia tahu betul bahwa terkadang yang paling dibutuhkan oleh manusia yang sedang sesak bukanlah nasihat yang muluk-muluk, melainkan sepasang telinga yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
“Waktu kuliah dulu, aku sangat dekat dengan seseorang bernama Ester,” Alex memulai narasinya. Setiap kali nama itu keluar dari bibirnya, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut namun penuh beban. “Dan aku… aku benar-benar berpikir semuanya sudah selesai. Aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menaruh fokus penuh ke pekerjaan ini, ke kehidupan baruku di sini, dan ke hal-hal yang lebih nyata. Tapi… beberapa hari yang lalu, dia mengirim pesan. Hanya sebuah pesan singkat yang menanyakan kabar. Tapi tiba-tiba, semua ingatan itu, semua perasaan yang aku kira sudah mati, mendadak terasa hidup lagi dengan sangat kuat. Aku bingung, Maria. Aku merasa sangat bersalah pada diriku sendiri.”
Maria tetap diam seribu bahasa. Wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau di pagi hari, namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang hancur perlahan-lahan. Setiap kali Alex menyebut nama Ester dengan getaran emosi seperti itu, Maria merasa seolah-olah ada jarum kecil yang menusuk tepat di ulu hatinya. Itu bukan rasa sakit yang tajam yang akan membuatnya berteriak, melainkan rasa sakit yang tumpul dan terus-menerus hadir, mengingatkannya pada posisinya yang sebenarnya.
Namun, Maria tetaplah Maria. Suaranya tetap stabil dan hangat saat ia akhirnya memutuskan untuk menanggapi curahan hati pria di depannya.