Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #17

Chapter 17

Senja di sekolah itu selalu datang dengan cara yang sama, pelan, setia, dan tanpa banyak tuntutan suara. Lonceng kuningan yang biasanya memekakkan telinga telah lama berhenti berdentang, menyisakan keheningan yang mulai merayap di setiap sudut koridor. Riuh rendah tawa murid-murid telah menguap ke udara Jakarta yang lembap, meninggalkan lorong-lorong yang lengang dan ruang-ruang kelas dengan papan tulis yang masih menyisakan debu kapur, jejak-jejak ilmu yang baru saja dipindahkan.

Ester berjalan dengan langkah yang diatur, melintasi halaman sekolah yang kini hanya menyisakan bayangan panjang pepohonan. Sepatu hak rendahnya beradu ritmis dengan paving blok yang mulai mendingin. Angin sore menyentuh lembut ujung rambutnya, membawa aroma khas tanah yang baru saja disiram oleh petugas kebersihan. Ia selalu menyukai waktu seperti ini, ketika sekolah kembali menjadi sebuah bangunan tua yang tenang, sebuah rahim bagi pemikiran-pemikiran sunyi, bukan lagi lautan suara dan rentetan pertanyaan tanpa henti.

Di sudut paling belakang halaman, berdiri sebuah kapel kecil yang sangat sederhana. Bangunannya tidak memiliki kemegahan arsitektur modern. Cat dindingnya yang berwarna putih gading sudah mulai pudar dan mengelupas di beberapa bagian akibat cuaca. Bangku-bangku kayunya tampak mengilap, bukan karena pelitur mahal, melainkan karena gesekan pakaian dan doa-doa yang tak terhitung jumlahnya selama berpuluh-puluh tahun. Tidak ada kemewahan di sana. Hanya ada sebuah kejujuran yang telanjang.

Ester mendorong pintunya pelan. Suara engsel yang berderit terasa seperti salam selamat datang yang akrab.

Udara di dalam kapel terasa jauh lebih sejuk dan padat. Cahaya senja yang menembus kaca patri sederhana membiaskan warna keemasan dan kemerahan di atas lantai keramik yang kusam. Bayangan salib kayu di depan jatuh miring di dinding, tampak seperti sebuah tangan yang sedang mengajak siapa pun yang masuk untuk sejenak diam dan mendengarkan.

Ia berjalan menuju bangku barisan kedua dari depan. Meletakkan tas kulitnya yang penuh dengan tumpukan buku tugas murid di sampingnya. Lalu, dengan gerakan yang sudah menjadi bagian dari jiwanya, ia berlutut.

Doanya sore itu tidak dimulai dengan susunan kata-kata yang indah atau puitis. Tidak ada kalimat yang rapi yang biasanya ia ajarkan kepada murid-muridnya. Hanya ada sebuah napas yang berat, bahu yang sedikit merosot karena beban hari itu, dan sebuah hati yang sangat ingin menemukan titik tenang di tengah badai yang mulai terbentuk di batinnya.

“Tuhan…” bisiknya sangat pelan.

Suaranya hampir tidak terdengar, bahkan oleh telinganya sendiri, seolah-olah kata itu lebih merupakan sebuah embusan napas daripada sebuah panggilan.

Ia tidak meminta kekayaan yang melimpah. Ia tidak meminta promosi jabatan sebagai kepala sekolah. Ia tidak meminta mukjizat yang dramatis untuk mengubah hidupnya dalam semalam. Ester hanya menyebutkan kegelisahan yang selama ini ia simpan dengan sangat rapi di balik seragam gurunya, seperti sebuah surat lama yang terselip di dalam buku tebal, yang tak pernah benar-benar berani ia buka kembali.

Ia bercerita tentang pekerjaannya yang terasa stabil dan mulia, namun entah mengapa terkadang tidak sepenuhnya mampu menenangkan getaran asing di dadanya. Ia bicara tentang hidup yang ia pilih sendiri, pilihan untuk mengajar, untuk mengabdi, untuk menjalani hari-hari dengan disiplin dan tanggung jawab yang tak jarang menguras energinya. Ia bicara tentang masa depan yang terasa semakin dekat, semakin nyata, dan semakin menuntut sebuah jawaban yang pasti.

Dan tentu saja, tentang cinta. Sebuah kata yang sangat sederhana, namun sanggup mengubah arah navigasi hidup seseorang hanya dalam satu detakan.

Nama itu terlintas lebih dulu dalam benaknya, tanpa bisa ia cegah.

Alex.

Datangnya nama itu tidak pernah melalui undangan resmi. Ia muncul begitu saja, seperti bayangan lama yang menolak untuk sepenuhnya menghilang dari cermin. Kenangan masa-masa kuliah mereka mulai menyusup perlahan, koridor kampus yang riuh dengan perdebatan ideologi, buku-buku tebal yang mereka baca bersama di perpustakaan yang remang, dan diskusi-diskusi panjang di kantin murah yang penuh dengan asap rokok serta ambisi-ambisi muda yang meledak-ledak.

Tawa Alex yang ringan. Cara pria itu mendengarkan Ester seolah-olah tidak ada hal lain yang lebih penting di dunia ini selain kata-katanya. Tatapan mata yang selalu hangat, seolah-olah Alex percaya bahwa dunia bisa menjadi tempat yang jauh lebih baik hanya karena ia memilih untuk percaya begitu.

Ester menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Ada masa di mana ia sangat yakin bahwa Alex adalah "arah" hidupnya. Bahwa bersama laki-laki itu, hidup tidak akan pernah menjadi membosankan, sebuah petualangan penuh warna yang akan selalu membuatnya berdebar. Ada getar yang nyata di dadanya setiap kali mengingat masa itu; sebuah kegelisahan manis yang membuatnya merasa sangat hidup.

Namun kini, di dalam kapel yang sunyi ini, ketika ia mencoba memegang kembali kenangan itu, rasanya sudah berbeda. Memang masih ada rasa hangat yang tersisa. Namun kehangatan itu terasa sangat jauh. Seperti cahaya matahari sore yang sedang ia lihat sekarang, memang indah untuk dipandang, namun tidak lagi memiliki cukup energi untuk menghangatkan kulitnya yang kedinginan.

Lihat selengkapnya