Sore itu, halaman sekolah tempat Ester mengabdikan hari-harinya perlahan mulai kosong. Seragam putih-biru yang tadinya memenuhi pandangan sudah menghilang di tikungan jalan, menyisakan kesunyian yang menggantung. Suara lonceng terakhir yang berdentang beberapa waktu lalu kini tinggal gema samar di udara. Langit di atas Jakarta tidak sedang menampilkan drama, hanya biru yang mulai pudar, perlahan digantikan oleh semburat jingga yang tenang dan tidak menuntut.
Ester melangkah keluar dari ruang guru sambil merapikan map di dekapannya. Langkahnya terhenti sejenak saat ia melihat sosok yang sudah sangat ia kenali berdiri tegap di dekat gerbang besi sekolah.
Doni.
Tubuhnya terlihat sangat kokoh di bawah cahaya senja. Bahunya lebar, dengan lengan berotot yang terbentuk dari latihan keras selama bertahun-tahun di atas matras. Ia adalah seorang yang terbiasa bertarung, menghadapi lawan dengan disiplin baja dan fokus yang tak tergoyahkan. Namun sore itu, Doni sama sekali tidak terlihat seperti seorang petarung yang siap menyerang.
Ia terlihat seperti seorang pria yang sedang menimbang-nimbang setiap kata di kepalanya, seolah setiap suku kata memiliki bobot yang harus diukur dengan hati-hati.
“Sudah lama menunggu, Don?” tanya Ester pelan saat ia sampai di hadapannya.
Doni menggeleng singkat, sebuah gerakan otomatis. “Baru saja.”
Padahal, Ester tahu betul pria itu sudah berdiri di sana hampir dua puluh menit, mematung di antara bayangan pohon puring yang tumbuh di depan gerbang.
Mereka mulai berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil yang membatasi area sekolah dengan jalan raya. Langkah kaki Doni biasanya mantap dan cepat, mengikuti ritme latihan fisik yang sudah mendarah daging. Namun hari ini, ia secara sadar memperlambat langkahnya. Ia menyesuaikan kecepatannya dengan langkah Ester yang tenang.
Tangannya tidak mengepal seperti saat ia bersiap melakukan serangan di arena pertandingan. Justru sesekali jemarinya terbuka, lalu ia masukkan ke dalam saku celana training-nya. Sebuah gerakan kecil yang menunjukkan kegugupan yang manusiawi, sesuatu yang sangat jarang terlihat pada sosok Doni yang biasanya selalu terkendali.
Biasanya, Doni adalah personifikasi dari rasa percaya diri. Di atas matras, ia tidak pernah ragu. Ia mampu membaca gerakan lawan, menentukan momentum, dan menyerang dengan presisi yang mematikan. Namun di hadapan satu perempuan ini, ia tampak jauh lebih hati-hati daripada saat ia harus menghindari pukulan lawan yang paling berbahaya sekalipun.
Mereka tiba di sebuah taman kecil yang letaknya tak jauh dari lingkungan sekolah. Tempat itu sangat bersahaja, hanya ada bangku besi berwarna hijau yang catnya sudah mengelupas, pohon flamboyan tua yang daunnya berguguran, dan tanah yang sedikit berdebu.
Doni berhenti melangkah.
Ester pun ikut berhenti, lalu menoleh ke arah pria di sampingnya. Ia menyadari ada yang berbeda dari wajah Doni sore ini. Tidak ada senyum santai yang biasanya menghiasi bibirnya. Tidak ada candaan ringan tentang teman temannya di dojo yang bandel atau cerita tentang sesi latihan yang melelahkan.
Yang ada hanyalah sebuah keseriusan yang pekat.
“Ster,” katanya dengan nada pelan.
Panggilan itu membuat udara di sekitar mereka seolah-olah menjadi lebih berat dan padat.
“Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu.”
Ester tidak segera menjawab. Ia hanya menatap mata Doni, memberikan ruang yang luas bagi pria itu untuk berbicara.
Doni menarik napas sangat panjang, jenis napas dalam yang biasanya diambil oleh seorang atlet tepat sebelum ia memasuki ronde terakhir dalam sebuah pertandingan yang menentukan.