Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #19

Chapter 19

Hari itu berjalan dengan ritme yang sangat mekanis, seolah-olah seluruh dunia telah sepakat untuk mengikuti naskah yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Pintu kaca bank terbuka tepat pukul delapan pagi dengan bunyi desis pelan yang akrab. Sistem pendingin ruangan mulai menderu, meniupkan udara dingin yang bersih. Komputer-komputer di meja teller menyala satu per satu, menampilkan logo bank yang kaku. Maria duduk di kursinya dengan postur tubuh yang sempurna. Ia merapikan seragamnya yang berwarna biru tua, memastikan tidak ada satu pun kerutan yang terlihat. Rambutnya terikat rapi dalam sanggul rendah yang kencang. Sedikit lipstik berwarna peach menghiasi bibirnya, cukup untuk memberikan kesan segar, namun tetap berada dalam batas profesionalitas yang ketat.

Ia adalah Maria yang dikenal semua orang.

Seorang teller yang cekatan, mentor yang selalu memiliki kesabaran ekstra untuk pegawai baru, dan seorang rekan kerja yang senyumnya mampu membuat antrean nasabah yang panjang terasa sedikit lebih manusiawi.

Nasabah pertama hari itu adalah seorang pria paruh baya yang datang dengan wajah gelisah karena transfer antar-bank yang tertunda. Maria mendengarkannya dengan penuh perhatian, memberikan anggukan kecil yang menenangkan sementara jemarinya menari lincah di atas papan ketik. Ia menjelaskan prosedur investigasi dengan suara lembut yang stabil, seolah-olah masalah besar itu hanyalah kerikil kecil di jalan yang bisa disingkirkan dengan mudah.

“Terima kasih banyak, Mbak Maria. Saya jadi lebih tenang,” ucap nasabah itu dengan tulus sebelum meninggalkan loket.

Maria tersenyum. Sebuah senyum yang terlihat utuh di mata siapa pun. Namun, jika ada seseorang yang benar-benar memperhatikannya dengan ketelitian seorang kurator seni, mereka akan menyadari bahwa senyum itu hari ini terasa sedikit lebih tipis, sedikit lebih transparan, seolah-olah ada sesuatu di baliknya yang sedang memudar.

Sepanjang jam operasional, Maria bekerja seperti sebuah mesin yang baru saja diminyaki. Ia memproses ratusan transaksi, memverifikasi tanda tangan yang rumit, dan sesekali membantu rekan kerja di sebelahnya yang sedang kebingungan. Tidak ada satu pun kesalahan input. Tidak ada sedikit pun keterlambatan dalam pelayanan.

Namun di antara barisan angka digital dan tumpukan slip setoran, pikiran Maria seringkali tergelincir ke arah yang tidak seharusnya.

Ia teringat kembali pada setiap suku kata dalam percakapan sore kemarin. Tentang nama itu. Ester.

Tentang potongan masa lalu Alex yang belum benar-benar selesai. Tentang kejujuran pria itu yang ia dengarkan dengan hati yang luas, sebuah hati yang diam-diam sedang mengalami keretakan mikro di setiap detaknya. Setiap kali nama Ester muncul dalam ingatannya, Maria merasakan sensasi seperti selembar kertas halus yang sedang disobek perlahan-lahan. Suaranya tidak keras. Tidak dramatis. Namun robekan itu cukup dalam untuk meninggalkan garis permanen yang perih.

Menjelang akhir jam kantor, suasana bank mulai lengang. Nasabah terakhir sudah melambaikan tangan, dan pintu kaca utama mulai dikunci dari dalam. Alex melangkah mendekati meja Maria dengan tas punggung yang sudah tersampir di satu bahu.

“Maria,” panggilnya dengan nada ringan, nada yang selama ini selalu menjadi melodi favorit Maria. “Terima kasih sekali lagi ya, sudah mau mendengarkan ceritaku kemarin. Aku benar-benar merasa jauh lebih baik sekarang.”

Maria mendongak dari tumpukan berkasnya. Senyumnya segera terpasang kembali dengan presisi yang menakjubkan. “Sama-sama, Alex. Aku senang kalau ceritaku bisa membantu.”

Alex mengangguk, menatapnya dengan tatapan yang sangat tulus, dan justru ketulusan yang tanpa pamrih itulah yang membuat dada Maria terasa semakin sesak, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

“Aku pulang duluan ya. Sampai besok, Maria.”

“Sampai besok, Alex.”

Lihat selengkapnya