Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #20

Chapter 20

Pagi itu, bank kembali bernapas seperti biasanya, mengikuti ritme sirkadian sebuah institusi keuangan yang tak pernah tidur.

Pintu kaca besar yang berat itu terbuka tepat waktu, membiarkan udara dingin dari sistem pendingin ruangan merangsek keluar sejenak menyambut siapa pun yang masuk. Di dalam, suara mesin hitung uang berdenting, sebuah melodi mekanis yang sudah hafal jalannya sendiri, berpadu dengan suara langkah kaki di atas lantai granit yang mengilap. Tidak ada yang terlihat berbeda dari luar. Bahkan cahaya matahari yang menembus jendela kaca besar tampak sangat biasa saja, terang, bersih, dan sangat profesional, seolah-olah ia pun telah dilatih untuk tidak menunjukkan emosi yang berlebihan.

Maria datang lima belas menit lebih awal, sebuah kedisiplinan yang sudah menjadi identitasnya.

Seragamnya rapi tanpa cacat, seolah disetrika dengan ketelitian seorang pemahat. Blazer biru tuanya membungkus tubuhnya dengan pas, sementara rambutnya terikat ke belakang dengan presisi yang hampir militeristik. Aroma kopi pahit masih melekat tipis di napasnya, sebuah ritual kecil yang ia lakukan setiap pagi untuk memastikan otaknya terjaga sebelum ia harus menghadapi dunia.

Ia duduk di kursinya, menyalakan monitor komputer, dan menatap layar yang menyala perlahan, memunculkan barisan kode akses yang kaku.

Senyumnya sudah siap.

Sebuah senyum yang nyaris sempurna, yang telah ia asah di depan cermin kamarnya semalam setelah air matanya kering. Jika ada seseorang di kantor itu yang memiliki kemampuan untuk meneliti jiwa, mungkin mereka akan menyadari bahwa senyum Maria kini lebih sering digunakan sebagai baju zirah daripada sebagai bentuk spontanitas. Namun, dunia korporasi tidak memiliki waktu atau minat untuk meneliti perbedaan mikroskopis semacam itu.

Rekan-rekan kerjanya mulai berdatangan satu per satu. Ada sapaan ringan yang dilemparkan, candaan basi tentang kemacetan Jakarta yang tak pernah sembuh, dan keluhan rutin tentang laporan akhir bulan yang mulai menghantui. Maria menanggapi semuanya dengan nada yang pas, tidak terlalu riang, namun tetap hangat.

Lalu, Alex masuk.

Langkah kakinya memiliki ciri khas tersendiri, sedikit tergesa namun tetap penuh kehati-hatian, dengan map kulit yang selalu terselip di bawah lengannya. Ia menyapa semua orang dengan anggukan yang tulus, sebuah gestur yang membuat siapa pun merasa dihargai.

“Pagi, semuanya.”

Ketika matanya bertemu dengan mata Maria, ada sebuah jeda sepersekian detik yang hanya dirasakan oleh Maria sendiri. Sebuah getaran kecil yang mencoba meruntuhkan benteng pertahanannya.

“Pagi, Maria,” sapa Alex, berhenti sejenak di depan meja layanannya.

Maria mengangguk dengan gerakan yang anggun. “Pagi, Alex.”

Ia tidak menghindar, namun ia juga tidak menunjukkan binar mata yang berlebihan. Cukup. Ia telah membuat kesepakatan diam dengan dirinya sendiri: ia akan tetap berdiri tegak, apa pun yang sedang berkecamuk di balik blazer biru tuanya itu.

Jam kerja dimulai secara resmi. Antrean nasabah mulai mengular perlahan seperti naga yang tenang. Transaksi demi transaksi diproses. Formulir-formulir ditandatangani dengan suara goresan pulpen yang khas. Uang dihitung dengan kecepatan tangan yang sudah sangat terlatih. Di sela-sela kesibukan yang padat itu, Maria bekerja seperti seorang maestro. Suaranya stabil saat menjelaskan produk bank, tangannya cekatan, dan tatapannya selalu profesional.

Beberapa kali, Maria menangkap basah Alex sedang melirik ke arahnya dari kejauhan. Bukan dengan tatapan penuh kecurigaan atau kegelisahan, melainkan dengan sebuah perasaan samar yang mungkin Alex sendiri tidak bisa definisikan, sebuah intuisi bahwa ada sesuatu yang sedikit bergeser dalam diri rekan kerjanya itu. Namun Alex, dengan segala kepolosannya, mungkin hanya menganggap itu sebagai kelelahan biasa.

Ketika jam menunjukkan hampir pukul sebelas siang dan kepadatan antrean mulai menipis, Alex mendekati meja Maria. Di kedua tangannya, ia membawa dua gelas plastik berisi teh hangat yang baru saja diambil dari mesin pantry.

“Ini untukmu,” katanya, menyerahkan satu gelas dengan uap yang masih mengepul lembut. “Supaya tenggorokanmu tidak kering. Kamu bicara terus sejak tadi.”

Maria menerima gelas itu, merasakan hangatnya menjalar di telapak tangannya yang dingin karena AC. “Terima kasih, Alex. Kamu perhatian sekali.”

Mereka berdiri berdampingan di area belakang meja layanan, tidak terlalu dekat sehingga mengundang gosip, namun cukup dekat untuk berbagi sebuah momen pribadi. Suasananya santai, tipikal dua rekan kerja yang telah cukup lama berbagi ritme harian yang sama.

Lihat selengkapnya